Disiplin, Tegas, atau Keras? Ini 5 Perbedaannya Menurut Psikolog

Memahami Perbedaan Disiplin, Tegas, dan Keras dalam Pengasuhan Anak

Pengasuhan anak membutuhkan kesadaran yang tinggi dari orangtua. Banyak orangtua ingin anaknya menjadi disiplin, tetapi sering kali mereka tidak menyadari bahwa sikap mereka terlalu keras. Menurut Psikolog Samanta Elsener, disiplin, tegas, dan keras memiliki makna dan dampak yang berbeda bagi perkembangan anak.

Berikut adalah penjelasan mengenai perbedaan ketiga istilah tersebut:

1. Disiplin Mengajarkan Kebiasaan dengan Konsisten


Disiplin sering dianggap sebagai hukuman, padahal esensinya justru membangun struktur dalam kehidupan anak. Psikolog Samanta Elsener menjelaskan bahwa disiplin mengajarkan anak untuk memiliki rutinitas dan jadwal yang teratur. Dengan demikian, anak belajar untuk memiliki integritas dan tanggung jawab.

Lewat disiplin, anak belajar menjalani hari dengan pola yang konsisten dan tahu apa yang harus dilakukan. Hal ini membantu mereka merasa aman dan memiliki arah dalam hidup.

2. Tegas Berarti Berprinsip pada Aturan yang Sudah Disepakati


Berbeda dengan disiplin, tegas lebih berkaitan dengan sikap orangtua dalam menerapkan aturan. Ketegasan bukan soal suara keras, melainkan komitmen. “Tegas ke anak artinya kita sebagai orangtua punya komitmen untuk menerapkan aturan di rumah, nggak plin-plan atau berubah-ubah hanya demi mengikuti impulsivitas anak.”

Menjaga perilaku sendiri untuk konsisten sehingga menjadi contoh yang baik ke anak, tanpa perlu ngegas. Ketegasan yang sehat tidak membutuhkan ledakan emosi. Orangtua perlu menjaga batasan dan perilaku yang konsisten agar bisa menjadi teladan bagi anak.

3. Keras Cenderung Mengarah ke Pola Asuh yang Otoriter


Berbeda jauh dari disiplin dan tegas, sikap keras lebih menekankan pada kontrol sepihak. Dalam pola ini, anak dituntut untuk patuh tanpa pemahaman. “Keras lebih ke otoriter, anak harus ikuti maunya orangtua tanpa paham kenapa harus begitu dan kurang ada kasih sayang yang hangat.”

Akibatnya, anak sering kali patuh bukan karena mengerti, tetapi karena takut pada konsekuensi. Sikap ini dapat menghambat perkembangan emosional dan sosial anak.

4. Ketegasan Dimulai dari Orangtua


Menurut Samanta, ketegasan tidak akan efektif jika orangtua sendiri tidak konsisten dalam bersikap. Anak belajar terutama dari apa yang mereka lihat. Ketegasan yang sehat tidak membutuhkan ledakan emosi. Orangtua perlu menjaga batasan dan perilaku yang konsisten sehingga bisa menjadi contoh untuk anak.

Dengan sikap yang konsisten, anak akan belajar untuk menghargai aturan dan menjaga diri secara mandiri.

5. Minim Kehangatan Bisa Menghambat Tumbuh Kembang Anak


Sikap keras biasanya juga diiringi dengan kurangnya kehangatan emosional. Padahal, kasih sayang adalah fondasi penting dalam pengasuhan. Jika anak tumbuh dengan aturan tanpa kehangatan, yang berkembang bukan kesadaran diri, tapi ketakutan untuk berbuat salah.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kemampuan anak mengelola emosi. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang dan dukungan.

Dengan memahami perbedaan antara disiplin, tegas, dan keras, orangtua dapat memberikan pendidikan yang tepat dan seimbang bagi anak. Pemahaman ini akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, percaya diri, dan mampu mengelola emosi dengan baik.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan