
Di era modern, sebagian besar negara maju di seluruh dunia berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin dalam berbagai sektor seperti ekonomi, politik, dan militer. Tujuan utamanya adalah menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya serta memperkuat citra internasional agar negara-negara lain tertarik bekerja sama. Namun, ada satu negara yang sulit digeser posisinya oleh negara-negara maju lainnya dan terus mempertahankan posisi sebagai kekuatan global terbesar, yaitu Amerika Serikat.
Apa yang pertama kali terpikirkan saat mendengar nama Amerika Serikat? Mungkin sebuah negara yang menjunjung tinggi kebebasan atau negara yang sangat kuat hingga ditakuti oleh banyak negara. Pandangan ini memang tidak sepenuhnya salah karena Amerika Serikat sering dikaitkan dengan status sebagai negara adidaya yang dominan secara global. Hal ini didukung oleh keunggulan yang dimiliki oleh negara tersebut, termasuk dalam sektor keuangan. Seiring dengan pertumbuhan pesat sektor keuangan, dolar AS menjadi mata uang yang mendominasi perdagangan internasional. Dari situasi ini muncul pertanyaan tentang makna hegemoni dolar AS dan dampaknya bagi negara-negara lain. Berikut penjelasannya.
Definisi dan Sejarah Hegemoni Dolar Amerika Serikat
Secara sederhana, hegemoni dapat diartikan sebagai dominasi. Menurut KBBI, hegemoni merujuk pada pengaruh kepemimpinan, dominasi, dan kekuasaan suatu negara atas negara lain. Hegemoni tidak hanya berfokus pada kekuasaan, tetapi juga melibatkan hubungan persetujuan menggunakan ideologi (Isnanto, 2023). Dengan demikian, hegemoni dolar mengacu pada dominasi mata uang dolar AS dalam perdagangan internasional, keuangan, dan cadangan moneter.
Menurut Professor Ekonomi Universitas Airlangga, Rossanto Dwi Handoyo, hegemoni dolar AS sebagai mata uang dominan lahir dari Perjanjian Bretton Woods pasca Perang Dunia II (Ghani, 2023). Perjanjian ini menciptakan Sistem Bretton Woods, di mana emas menjadi standar nilai dolar AS. Nilai mata uang lainnya pun bertaut pada dolar AS. Perjanjian ini muncul sebagai respons terhadap kekacauan pembayaran dan fluktuasi harga yang terjadi setelah perang.
Amerika Serikat menawarkan dolar AS sebagai alat tukar dalam perdagangan antarnegara. Negara ini menjamin bahwa setiap dolar bisa dikonversi ke 1/35 oz emas. Dengan demikian, dolar AS menjadi satu-satunya mata uang yang langsung bisa dikonversi ke emas, sedangkan mata uang lain bergantung pada dolar sebagai acuan nilai (Widiyastuti, 2025). Dalam perdagangan internasional, dolar menjadi mata uang cadangan utama dan alat tukar utama. Negara-negara menyimpan cadangan dolar untuk menstabilkan nilai tukar mereka dan membayar impor barang serta jasa dari luar negeri.
Meskipun sistem Bretton Woods runtuh pada tahun 1970-an akibat stagflasi di Amerika Serikat, kepercayaan terhadap dolar AS tetap bertahan. Kekuatan dolar makin terlegitimasi setelah OPEC (Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak) menyetujui penggunaan dolar sebagai mata uang transaksi perdagangan minyak mentah pada tahun 1975 (Nugroho, 2023).
Dampak Hegemoni Dolar Amerika Serikat
Banyak negara merasakan manfaat dari dominasi dolar AS, tetapi ketergantungan ini juga memiliki efek negatif. Beberapa dampaknya antara lain:
- Kerentanan Negara dalam Mengalami Krisis
Perekonomian Amerika Serikat tidak sepenuhnya stabil meski dolar AS begitu kuat. Contohnya, krisis keuangan global antara 2007-2009 disebabkan oleh anjloknya harga surat berharga berbasis kredit perumahan (subprime mortgage) (Rosa, 2023). Akibatnya, lebih dari 67 negara mengalami resesi. Ketergantungan pada dolar AS membuat risiko eksternal masuk ke perekonomian domestik.
Contoh nyata terjadi di Yunani pada tahun 2015. Negara ini gagal membayar utang sebesar 1,6 juta dolar AS kepada IMF, sehingga dianggap gagal. Ketergantungan terhadap utang berdenominasi dolar AS menjadi alasan utama kebangkrutan Yunani.
Selain itu, beberapa bank besar di Amerika Serikat tutup, memicu kekhawatiran global. Menteri Keuangan Amerika Serikat, Janet Yellen, bahkan mengkonfirmasi potensi gagal bayar hutang pada 1 Juni 2023 karena kehabisan dana.
- Dedolarisasi dan Kemunculan Alternatif Sistem Pembayaran
Akhir-akhir ini, istilah dedolarisasi semakin populer sebagai respons terhadap penggunaan dolar AS sebagai senjata dalam konflik Ukraina dan Rusia. Dedolarisasi merujuk pada upaya pemerintah, perusahaan, dan pelaku pasar untuk beralih dari dolar AS dalam kegiatan ekonomi, mulai dari perdagangan minyak hingga perjanjian bilateral (Rosa, 2023).
Beberapa alternatif mata uang yang muncul antara lain:
- Euro: Mata uang terkuat di Eropa dengan dominasi dalam perdagangan internasional. Euro digunakan oleh 20 negara besar di Eropa, seperti Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, dan Belgia. 66,1% perdagangan di Eropa menggunakan Euro.
- Yuan: Dengan kekuatan ekonomi yang signifikan, Cina berusaha mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Yuan digunakan untuk 30% dari perdagangan barang global Cina senilai USD 6,2 triliun. Pada 2024, Yuan sempat menggeser posisi Euro sebagai mata uang kedua terbanyak dalam pembiayaan perdagangan internasional.
- BRICS: Forum kerjasama global yang terdiri dari Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. BRICS memiliki cadangan devisa sekitar $4 triliun dan mewakili sepertiga populasi dunia. Pertumbuhan ekonomi BRICS sangat pesat, membuktikan potensinya sebagai alternatif sistem pembayaran.
Dengan munculnya alternatif-alternatif ini, ketergantungan pada dolar AS mulai berkurang, meski masih menjadi mata uang utama dalam perdagangan global.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar