Dosen Komunikasi UKWMS Surabaya: Remaja Harus Bijak Gunakan Smartphone, Rentan Kecemasan hingga Hoak

Dosen Komunikasi UKWMS Surabaya: Remaja Harus Bijak Gunakan Smartphone, Rentan Kecemasan hingga Hoaks

Peran Remaja dalam Menangkal Misinformasi

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Akhsaniyah, menyoroti bahwa remaja dan perempuan kini menjadi kelompok yang paling rentan terhadap misinformasi. Dalam paparannya, ia menyatakan bahwa media sosial tidak hanya memengaruhi pola konsumsi informasi tetapi juga berdampak pada kesehatan mental. Tekanan sosial, standar kecantikan, serta paparan konten negatif menjadikan perempuan sebagai salah satu kelompok yang paling terdampak.

Smartphone, meskipun memberikan banyak manfaat dalam pekerjaan sehari-hari, juga memiliki dampak negatif jika digunakan secara berlebihan. Akhsaniyah menekankan pentingnya interaksi langsung antar sesama tanpa bergantung pada gawai. Ia menyarankan agar para remaja mulai berinteraksi dengan sesama melalui permainan tanpa gawai, sehingga dapat menstimulasi interaksi langsung.

Beberapa akibat dari penggunaan smartphone yang disebutkan oleh Akhsaniyah antara lain: * Interaksi secara langsung berkurang, meskipun bersama tapi main gawai sendiri. * Kurang tidur karena sering scrolling content. * Hoaks dapat memicu kecemasan, memecah belah masyarakat, bahkan menghambat pengambilan keputusan rasional. * Karena itu, literasi cek fakta harus menjadi gaya hidup digital.

Pentingnya Literasi Digital

Sementara itu, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Jawa Timur menggelar diskusi interaktif bersama 150 pelajar Surabaya di Aula Sabha Nugraha Dinas Pendidikan Provinsi Jatim. Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Sekretaris Dindik Jatim Suhartono, yang menyoroti pentingnya kebijakan bijak terkait penggunaan gawai dan media sosial dalam proses belajar mengajar.

Menurut Suhartono, penggunaan media digital memang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan saat ini. Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua proses pembelajaran harus bergantung pada handphone atau internet. Ia menegaskan bahwa banyak materi ajar yang tetap dapat dilakukan tanpa gawai, terutama yang menuntut kreativitas dari dalam diri siswa.

Suhartono menekankan bahwa anak harus menulis, harus membuat ide kreatif tanpa melihat dari media atau Google. Ide itu harus muncul dari dirinya, sesuai materi yang diberikan guru. Meski begitu, ia menilai penggunaan handphone tetap diperlukan dalam kondisi tertentu, terutama ketika pembelajaran daring diterapkan.

Mengatur Penggunaan Gawai

Karena itu, yang terpenting adalah bagaimana siswa dan orang tua memahami batasan penggunaannya. Suhartono juga meminta orang tua tidak menganggap larangan membawa gawai ke sekolah sebagai pembatasan ruang gerak anak. Ia menegaskan bahwa larangan membawa handphone bukan untuk membatasi anak, tapi bagian dari proses pembelajaran.

Ia menambahkan sekolah tetap perlu menerapkan sistem reward dan punishment agar siswa memahami konsekuensi dari perilaku mereka, termasuk dalam penggunaan gawai. Penggunaan gawai tetap dimungkinkan, asal terukur. Suhartono menegaskan bahwa pemanfaatan handphone bisa dilakukan, bergantung pada materi pembelajaran dan kebutuhan kelas.

Diskusi ini menjadi ruang dialog bagi pelajar untuk memahami risiko dan manfaat penggunaan media digital, sekaligus menguatkan literasi digital di kalangan generasi muda Jawa Timur.

Langkah-Langkah Menangkal Hoaks

Dalam kesempatan yang sama, Sekjen FJPI Tri Ambarwatie mengingatkan remaja adalah pengguna internet paling aktif sekaligus target terbesar penyebaran hoaks. Dalam upaya menangkal penyebaran informasi palsu, para peserta dibekali metode lateral reading melalui kanal resmi cek fakta.

FJPI juga membagikan lima langkah anti-hoaks, di antaranya: * Jeda sebelum membagikan. * Cek sumber. * Uji gambar. * Verifikasi melalui situs resmi. * Membandingkan dengan media kredibel.

Dengan kata lain, saring dulu informasi sebelum share. Tri Ambarwatie menegaskan generasi muda memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam membendung arus misinformasi. “Satu klik verifikasi dapat menyelamatkan banyak orang dari kepanikan,” tutupnya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan