
Perubahan Besar di Petrokimia Gresik
Petrokimia Gresik mungkin satu-satunya pabrik pupuk di Indonesia yang tidak lagi berbau seperti pabrik pupuk khas masa lalu: mesin tua, pipa berkarat, dan operator dengan helm kuning yang mencatat angka di buku lapangan. Tidak. Itu sudah lewat. Hari ini, perusahaan itu lebih mirip startup besar yang kebetulan menghasilkan urea.
“Semua sudah digital,” kata Nuril Huda, Sekretaris Perusahaan PT Petrokimia Gresik, Senin (8/12/2025). Cara ia mengucapkannya datar saja, tapi yang terjadi di dalam pabrik tidak datar sama sekali. Di sana, digitalisasi bukan poster visi, bukan jargon konsultan, melainkan ruang kontrol warna biru elektrik dengan monitor besar yang mungkin lebih banyak dari jumlah petani di satu desa.
Pabrik yang Bisa Meramal Kerusakan
Di ruang itu, aplikasinya punya nama yang modern seperti anak-anak masa kini: Pixel (Project Excellence), APM (Asset Performance Monitoring), Go Crane, dan DEC (Digital Engineering and Consulting).
Pixel, kata Nuril, adalah semacam “otak” yang memantau ribuan parameter operasi. Jika kompresor tertentu bergetar sedikit lebih dari biasanya, Pixel langsung memberi tahu. Kalau temperatur naik 2 derajat dari pola normal, Pixel juga bersuara. APM adalah “indera keenam” yang bisa meramal kerusakan sebelum terjadi.
“Dampaknya? Keandalan pabrik naik, biaya turun,” ujar Nuril.
Pabrik pupuk itu seperti tubuh manusia yang sudah punya smartwatch lengkap dengan sensor oksigen, detak jantung, hingga tingkat stres. Bedanya: tubuh ini bernilai triliunan rupiah dan memengaruhi ketahanan pangan negara.
Gudang yang Bisa Menggerakkan Diri Sendiri
Transformasi digital itu bergerak cepat dari ruang produksi, merembet ke pergudangan dan pelabuhan. Petrokimia Gresik punya satu sistem besar bernama ISCE (Internal Supply Chain Excellence). Di dalamnya ada:
- WMS (Warehouse Management System)
- SISTRO (Sistem Scheduling Truk Online)
- DTMS (Digital Transport Management System)
- Petroport
- ER-Port
- PortPass
Nama-nama itu terdengar seperti aplikasi pengatur lalu lintas pesawat. Padahal itu semua untuk pupuk.
Dengan ISCE, satu truk yang datang ke gudang tidak lagi menunggu di bawah terik atau bersandar pada nasib. SISTRO memberi jadwal digital. WMS memastikan stok barang terbaca detik itu juga. Petroport mengatur kapal seperti menata pion catur. PortPass membuat semua itu bergerak tanpa perlu surat-surat tebal seperti zaman orde lama.
“Hasilnya, distribusi tepat waktu, tepat sasaran, dan ketersediaan terjamin,” ujar Nuril.
Kalimatnya pendek. Tapi menangani logistik pupuk bersubsidi itu seperti mengatur 100 ribu orang berbaris rapi pada waktu yang sama. Salah sedikit, swasembada pangan bisa kacau.
Digitalisasi Turun ke Sawah
Yang paling menarik bukan yang terjadi di pabrik. Bukan juga yang terjadi di pelabuhan. Melainkan yang terjadi di sawah.
Petrokimia Gresik kini menularkan “virus digital” itu ke petani. Nama programnya Smart Precision Farming pendekatan pemupukan presisi berbasis data. Yang paling futuristik adalah penggunaan drone.
“Dulu kami tebar pupuk dengan ember. Sekarang drone yang turun,” kata Suwatno, petani padi di Lamongan yang beberapa kali ikut demplot Agrosolution.
Suwatno bercerita macam-macam. Dulu ia mengira drone itu hanya untuk memotret pernikahan. Atau untuk merekam banjir. Tapi ketika drone itu meliuk 3 meter di atas tanaman padinya, menyemprot pupuk dengan kecepatan teratur, ia langsung maklum: teknologi bukan musuh petani.
“Dosisnya pas. Tanaman saya lebih rata pertumbuhannya. Hemat tenaga juga,” ujar Suwatno, Rabu (10/12/2025). “Kalau begini, anak saya mungkin mau kembali ke sawah. Soalnya teknologi membuat sawah tidak lagi jadi pekerjaan yang berat.”
Di desa mana pun, komentar seperti itu penting. Karena rata-rata petani kita sudah berusia di atas 50 tahun. Tanpa teknologi, regenerasi bisa berhenti.
Dari Pabrik ke Petani — Rantai Digital yang Menyeluruh
Semua digitalisasi itu dari pabrik, gudang, pelabuhan, hingga sawah adalah perjalanan panjang yang tidak terlihat oleh publik. Petani hanya tahu pupuk datang tepat waktu atau tidak. Pemerintah hanya tahu serapan pupuk. Publik hanya tahu harga pangan.
Tapi di balik itu ada rantai digital yang bergerak 24 jam tanpa istirahat. Dari Pixel yang menjaga mesin, hingga drone yang menjaga dosis pupuk di batang tanaman.
“Digitalisasi di Petrokimia Gresik berkontribusi langsung pada ketahanan pangan nasional,” kata Nuril. “Dan pada akhirnya, kesejahteraan petani.”
Itu bukan kalimat promosi. Karena jika diuraikan, digitalisasi itulah yang menjaga pupuk tidak terlambat, menjaga tanaman tidak kekurangan nutrisi, dan menjaga petani tetap bertahan.
Di negeri agraris yang sedang mencari bentuk baru, teknologi bukan lagi pilihan. Ia telah menjadi pupuk jenis baru yang tidak dijual dalam karung, tapi dalam bentuk aplikasi, sensor, dan drone.
Dan Petrokimia Gresik sedang menaburkannya. Pelan, tapi pasti. Dari pabrik kimia terbesar di Gresik, sampai petak-petak sawah di desa seperti milik Suwatno.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar