
Tantangan dan Peluang Investasi di NTB
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki target investasi yang meningkat pada tahun 2026. Dari sebelumnya sebesar Rp61 triliun, kini naik menjadi Rp68 triliun. Target ini menunjukkan optimisme pemerintah daerah dalam membangun ekonomi provinsi tersebut.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, Irnadi Kusuma, menyampaikan bahwa pihaknya akan terus berupaya agar target tersebut dapat tercapai. Ia mengatakan bahwa pihaknya akan memperkuat sektor non tambang sesuai dengan arahan gubernur.
"Kita akan memperkuat di sektor Non tambang, mudah-mudahan bisa terwujud di tahun 2026 ini," kata Irnadi, Sabtu (3/1/2026).
Salah satu investasi yang sedang dipertimbangkan adalah rencana pembangunan seaplane di Bendungan Batujai, Kabupaten Lombok Tengah. Gubernur Lalu Muhamad Iqbal memberikan tugas khusus kepada Irnadi untuk mengawal proyek ini. Dia bersama calon investor telah bertemu dan akan melakukan tahapan selanjutnya dari investasi ini.
Pembangunan seaplane atau pesawat air ini bertujuan untuk meningkatkan konektivitas menuju Lombok. Wisatawan dari Bali maupun NTT atau daerah lainnya dapat langsung menuju Lombok menggunakan pesawat air tersebut.
"Ini untuk konektivitas, memperkuat arus pariwisata supaya angka kunjungan meningkat karena yang kita kejar sekarang wisatawan yang menengah ke atas atau high tourism," jelas Irnadi.
Selain seaplane, ada beberapa investasi lain yang sedang dibidik, termasuk pembangkit listrik. Salah satunya adalah proyek dari Berkah Energi Lombok dengan nilai investasi mencapai Rp3,1 triliun.
"Secara umum nilai investasinya ini besar-besar, kalau untuk seaplane belum bisa saya sebutkan, nanti di April mulai akan dilakukan perizinan," ujar Irnadi.
Tantangan dalam Menyusun Rencana Detail Tata Ruang
Di balik tingginya target investasi, pemerintah menghadapi tantangan terkait rencana detail tata ruang (RDTR) di masing-masing kabupaten/kota yang belum rampung. RDTR menjadi dasar dalam menyusun acuan izin pemanfaatan ruang, pedoman pembangunan, pengendali pemanfaatan ruang, penentu intensitas ruang, dan dasar penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan.
Irnadi mengatakan, secara umum hampir semua wilayah di NTB belum merampungkan RDTR ini. Padahal, RDTR menjadi salah satu syarat dalam input perizinan di dalam Online Single Submission (OSS). Jika RDTR belum rampung, sementara di wilayah tersebut menjadi target investasi maka izinnya tidak bisa dikeluarkan karena belum terdata dalam sistem.
"Ini kita dorong agar kabupaten/kota bisa menyelesaikan, kami terus berkoordinasi juga lewat teman-teman PUPR," pungkas Irnadi.
Proyek-Proyek Investasi yang Menjanjikan
Selain seaplane dan pembangkit listrik, ada beberapa proyek lain yang sedang dipertimbangkan oleh pemerintah NTB. Proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
- Pembangkit Listrik: Selain dari Berkah Energi Lombok, ada juga proyek lain yang sedang dalam proses pengajuan. Proyek ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan mendukung sektor industri.
- Pengembangan Wisata: Selain seaplane, pemerintah juga fokus pada pengembangan destinasi wisata lainnya. Ini termasuk peningkatan infrastruktur dan fasilitas pendukung.
- Pengembangan Infrastruktur: Beberapa proyek infrastruktur juga sedang dalam planning. Tujuannya adalah untuk memperbaiki aksesibilitas dan memfasilitasi mobilitas masyarakat serta wisatawan.
Kesimpulan
Investasi di NTB tahun 2026 menunjukkan potensi besar, namun tantangan seperti RDTR yang belum rampung harus segera diselesaikan. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan pemangku kepentingan, diharapkan target investasi dapat tercapai dan memberikan manfaat bagi masyarakat NTB.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar