Kondisi Wilayah Terisolasi di Aceh Pasca Bencana Banjir Bandang dan Longsor
Setelah bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi akhir November lalu, banyak wilayah di Aceh masih menghadapi tantangan berat dalam hal akses. Daerah seperti Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, dan Nagan Raya menjadi lokasi yang paling terdampak. Akibatnya, distribusi bantuan kepada para korban sangat sulit dilakukan.
Banyak relawan dan masyarakat yang mencoba mengirimkan bantuan tetapi menghadapi kendala yang cukup besar. Mereka harus menempuh perjalanan darat selama beberapa hari, melewati sungai-sungai yang sempit, serta memanfaatkan teknologi modern seperti drone untuk mengantarkan bantuan ke daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau oleh kendaraan.
Salah satu contoh adalah tim peduli Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang membentuk posko utama untuk mengirimkan bantuan bencana di Aceh. Ketua DPW PSI Aceh, Zulkarnaini Syeh Joel, menjelaskan bahwa penanganan bencana di Aceh beberapa hari terakhir berlangsung dalam kondisi yang sangat menantang. Akses jalan terputus, jembatan amblas, hingga longsoran di sejumlah titik membuat distribusi bantuan terhambat.
Oleh karena itu, para relawan PSI mengambil langkah tak biasa dengan menggunakan drone untuk mengirim bantuan ke wilayah yang tidak bisa diakses kendaraan. Posko utama PSI di Bireuen telah menyalurkan 2,9 ton beras, minyak goreng 245 liter, telur 200 papan, air mineral 150 dus, mi instan 160 dus, susu 13 dus, roti, kue, hingga pakaian layak pakai untuk warga terdampak di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Bireuen.
Selain distribusi logistik, relawan PSI juga membantu evakuasi warga Nagan Raya yang terjebak banjir di Aceh Tengah, sebelum dipulangkan melalui jalur darat dari Bireuen menuju Nagan Raya. Namun, tantangan terbesar muncul di jalur distribusi. Relawan harus melintas sungai dengan jembatan yang putus di Kutablang Bireuen. Mereka juga harus memikul bantuan melewati jembatan amblas di Desa Teupin Mane, Kecamatan Juli.
Di Bener Meriah, perjalanan makin berat karena jalan longsor memaksa bantuan dipanggul secara manual. Puncak inovasi muncul saat bantuan harus masuk ke Aceh Tengah. Untuk barang bantuan yang menuju Aceh Tengah, para relawan menggunakan jasa drone untuk mengangkut barang akibat jalan yang belum bisa diakses. Cara itu terbukti efektif, hingga seluruh bantuan PSI tiba selamat setelah perjalanan darat dan udara kecil selama dua hari dua malam.
Selain itu, PSI juga menyalurkan bantuan di Aceh Tamiang, termasuk paket bantuan yang dikirim langsung oleh Ketua Umum PSI. Distribusi air bersih turut dilakukan dengan dukungan para dermawan. Zulkarnaini menegaskan relawan di lapangan bekerja bersama warga mencari cara agar bantuan tetap sampai.
Di Aceh Tengah dan Bener Meriah, para relawan bersama warga harus berpikir bagaimana caranya bantuan harus tiba di kabupaten tujuan, dengan cara pikul barang jalan kaki, serta gunakan drone untuk mengangkut barang. Meski dapur umum telah berjalan di Aceh Tamiang, kebutuhan penyintas masih besar. Mulai dari air bersih, kebutuhan bayi, kebutuhan anak, serta layanan kesehatan.
Sementara itu, komunikasi menjadi kendala serius karena jaringan seluler sulit diakses dan listrik masih padam di sebagian besar wilayah. PSI menargetkan pembukaan dua dapur umum tambahan di Aceh Tengah dan Bener Meriah. Zulkarnaini menyampaikan apresiasi kepada struktur PSI di Sumut dan DPP yang ikut turun langsung membantu penanganan bencana, meski akses menuju Aceh Tamiang sangat terbatas.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar