Dude Harlino dan Alyssa Soebandono Sampaikan Kekhawatiran Nasabah DSI


Dude Harlino dan Alyssa Soebando Tidak Lagi Terkait dengan Dana Syariah Indonesia

Dude Harlino dan Alyssa Soebando telah memastikan bahwa dirinya tidak lagi terikat kontrak kerja sama dengan Dana Syariah Indonesia (DSI). Keduanya pernah menjadi brand ambassador dari perusahaan fintech yang kini tengah menghadapi kesulitan pembayaran hingga pertengahan 2025. Meski begitu, mereka memilih untuk ikut serta menyuarakan keresahan para nasabah yang menjadi korban.

Saya tidak ada dalam manajemen, tidak ikut operasional, dan tidak mengetahui detail mekanismenya, tegas Dude saat berada di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Dude menerima banyak pesan di media sosial dari para korban yang memohon bantuan untuk mendorong pihak DSI menyelesaikan pembayaran. Sampai saat ini, Paguyuban Lender DSI telah mencatat kerugian yang dialami 4.200 anggotanya sebesar Rp 1,2 triliun. Jumlah tersebut hanya sebagian kecil dari total 14.999 lender yang ikut mengalami kerugian.

Banyak teman-teman lender yang berkeluh kesah lewat DM. Saya sangat prihatin dan ingin masalah ini bisa terdengar lebih luas lagi, ujar Dude.

Dampak yang Dirasakan oleh Para Korban

Ketua Paguyuban Lender DSI, Ahmad Pitoyo, menjelaskan bahwa besarnya dampak yang dirasakan para korban akibat dana DSI yang tidak cair. Uang tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk tabungan masa depan, tetapi juga diperuntukkan sebagai dana darurat hingga biaya pengobatan.

Ada yang sampai kehilangan orang tua yang sedang sakit karena biaya tidak mencukupi. Ini kan kesedihan yang luar biasa, tutur Pitoyo.

Para korban, khususnya yang tergabung dalam paguyuban, mendesak DSI untuk lebih transparan. Mereka telah menjanjikan pengembalian dana sepenuhnya kepada belasan ribu lender.

Kami berharap DSI benar-benar terbuka terkait data yang kami minta untuk kelancaran proses pengembalian dana lender-lender, ucap Fajar, kuasa hukum Paguyuban Lender DSI.

Permintaan Transparansi dari Para Nasabah

Permintaan transparansi dari para nasabah ini semakin mendesak, mengingat jumlah kerugian yang besar dan dampak jangka panjang terhadap kehidupan para lender. Banyak dari mereka yang mengandalkan dana tersebut untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk pendidikan anak dan pengobatan.

Beberapa lender bahkan mengungkapkan bahwa mereka harus mengambil pinjaman tambahan atau menjual aset untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara dana mereka masih terkatung-katung di DSI.

Selain itu, beberapa lender juga merasa kecewa karena tidak ada informasi jelas tentang status pembayaran dan rencana penyelesaian yang jelas dari pihak DSI. Hal ini memicu rasa ketidakpuasan dan meningkatkan tekanan terhadap perusahaan.

Tantangan yang Dihadapi Perusahaan

Dana Syariah Indonesia kini menghadapi tantangan besar dalam menyelesaikan kewajiban pembayaran kepada para lender. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab antara lain kesulitan likuiditas, perubahan regulasi, atau adanya kesalahan dalam pengelolaan dana.

Namun, hingga saat ini, belum ada jawaban pasti dari pihak DSI mengenai solusi yang akan diambil. Hal ini membuat para lender semakin khawatir dan mempertanyakan kompetensi serta tanggung jawab perusahaan.

Kesimpulan

Peristiwa ini menunjukkan pentingnya transparansi dan tanggung jawab dalam industri fintech. Dengan adanya kejadian seperti ini, masyarakat diharapkan lebih waspada dalam memilih produk keuangan dan memastikan bahwa perusahaan yang dipilih memiliki sistem yang jelas dan terpercaya.

Dude Harlino dan Alyssa Soebando, meskipun sudah tidak lagi terlibat secara langsung, tetap memberikan dukungan melalui suaranya agar masalah ini dapat segera terselesaikan dan para korban mendapatkan keadilan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan