Durian Biih Terancam Punah di Tengah Gempuran Mesin Berat

Durian Biih Terancam Punah di Tengah Gempuran Mesin Berat

Desa Biih: Dari Kampung Durian ke Kebun Tambang

Desa Biih yang terletak di Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, dikenal sebagai salah satu kampung penghasil durian terkemuka. Nama Biih sendiri memiliki kisah unik. Konon, seorang lelaki pernah terjatuh sambil membawa gadur di jalanan licin, lalu refleks berteriak, Biih!ekspresi kaget yang kemudian menjadi nama desa itu.

Namun, kini warga Biih menghadapi tantangan besar. Desa yang dulu tenang dan damai kini dikepung oleh perusahaan-perusahaan tambang. Ada yang legal, ada pula yang ilegal. Yang legal membuka jalan bagi perusahaan lain untuk ikut menambang, sedangkan yang ilegal bekerja sama dengan yang legal. Akibatnya, batas antara legal dan ilegal semakin kabur. Keterlibatan aparat dan pejabat dari tingkat desa hingga kabupaten membuat situasi makin memburuk dan membuat mata warga terbelalak tak percaya.

Keberagaman Varietas Durian

Biih sebagai sentra durian telah dikenal sejak dulu. Ribuan varietas durian unggul tumbuh di desa ini. Beberapa di antaranya memiliki nama unik seperti sipenyangat, dibamban, sipenganten, gantang, tayut, taruna, guguling, siamas, dan puluhan jenis lainnya. Banyak dari varietas tersebut telah mendapatkan sertifikat nasionalstatus yang hanya bisa didapat melalui seleksi panjang, termasuk karakterisasi ketat terhadap kualitas bibit.

Namun, kini musim durian semakin langka. Sejak pertambangan masuk, debu batubara mulai mengisi udara, sehingga bunga durian banyak berjatuhan dan gagal berkembang menjadi buah. Jika ada yang berhasil, jumlahnya sangat sedikit. Lahan kebun durian juga semakin menyusut akibat aktivitas tambang. Bibit-bibit unggul yang dahulu produktif kini berubah menjadi durian biasa, bahkan ada yang tidak berbuah lagi.

Kerugian yang Tak Terbayangkan

Kerugian yang dialami desa Biih sangat besar. Kebun durian dan tanaman lain yang selama ratusan tahun menghidupi warga, kini hilang dalam waktu singkat setelah pertambangan masuk. Warga tidak berdaya karena mereka dibujuk, ditekan, bahkan dipaksa menjual tanah kepada para makelar yang menjadi kaki tangan perusahaan. Bukan hanya tekanan dari makelar, tetapi juga dari aparat, pejabat, dan tokoh yang dulu mereka hormati. Harapan warga untuk mendapat perlindungan justru berubah menjadi kesengsaraan setelah para pihak terhormat itu memberi restu bagi masuknya tambang.

Kondisi Warga yang Terpecah

Kondisi warga pun terpecah. Ada yang sudah menjual tanah dan terlibat sebagai makelar. Ada yang tetap bertahan meski dihimpit tekanan dari berbagai arah. Sebagian lain gamang, tak tahu harus berdiri di pihak mana, sementara dampak psikologis tambang terus menggerus ketenangan hidup mereka.

Ketimpangan yang Nyata

Pertarungan antara mempertahankan durian dan menghadapi gempuran tambang adalah ketimpangan yang nyata. Durian hanya ditopang oleh masyarakat lokal dengan sumber daya amat terbatas. Sementara pertambangan didukung pemodal besar yang mampu menggerakkan aparat dan birokrat sekaligus.

Masa Depan yang Gelap

Kini, durian Biih dengan ribuan varietas unik tinggal menjadi cerita. Setiap kali berkunjung ke Biih, yang terdengar hanyalah kisah pilucerita kehilangan, penyesalan, dan kenangan tentang kejayaan durian di masa lampau. Apa boleh buat, penguasa daerah lebih memilih tambang dibanding durian. Ratusan hektare kebun durian yang dulu kuat menahan banjir, kini gundul, berlubang, berubah menjadi kolam-kolam raksasa, dan menjadikan desa lebih rentan terhadap banjir.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan