Pementasan Lengger dalam BUDAmFEST 2025: Menggugah Refleksi tentang Identitas dan Tradisi
Pementasan yang bertema lengger dalam rangkaian BUDAmFEST 2025 Jakarta, Rabu, 10 Desember 2025, menawarkan pengalaman baru terhadap seni rakyat, tubuh, dan dinamika sosial masa kini. Dengan menggabungkan ritual rakyat, teater modern, dan kritik sosial yang subtil, pertunjukan bertajuk Egol Engger menjadi salah satu sajian paling menonjol dalam gelaran Budamfest tahun ini.
Visual Pembuka yang Menancap
Sejak awal, pertunjukan menghadirkan kekuatan visual yang kuat. Panggung dibelah menjadi dua: di sisi kiri, dua kebaya terpasang pada manekin tanpa kepala—simbol perempuan yang hadir dalam budaya namun kerap terhapus subjeknya. Di sisi kanan, sebuah manekin berjas tegak sebagai representasi laki-laki, modernitas, dan struktur kekuasaan. Kontras visual ini menjadi garis bawah yang terus bergema sepanjang pertunjukan.
Tiga aktor kemudian memasuki panggung bertelanjang dada, mengenakan topi segitiga, dan membawa bakul. Mantra yang mereka lantunkan membuka suasana ritus purba, namun segera dipatahkan oleh sapaan langsung kepada penonton. Strategi ala Brecht ini sengaja menegaskan bahwa lengger adalah seni milik masyarakat—bukan institusi, bukan pejabat, dan bukan semata-mata tontonan eksotis.
Dramaturgi Tubuh dan Identitas
Sutradara Kikyk menempatkan lengger bukan sebagai ornamen estetis, melainkan fondasi dramaturgi. Penjelasan mengenai akar kata “leng” sebagai feminin dan “ger” sebagai maskulin membuka ruang diskusi tentang tubuh, gender, dan posisi sosial dalam kebudayaan. Ungkapan “Eling nger, lengger adalah tubuh jalan pulang” menjadi simpul yang merangkum semangat keterhubungan antara tradisi, identitas, dan ingatan kolektif masyarakat.
Para aktor tampil organik dan luwes dengan vokal terjaga serta gerak yang bersih. Transisi antara canon, dialog langsung, dan efek Brechtian menunjukkan kematangan proses kreatif mereka. Ketika lengger—yang umumnya berlangsung di ruang terbuka—dipindahkan ke panggung konvensional, tata cahaya, suara, dan multimedia tidak justru menghilangkan rohnya, melainkan membuka dialog baru antara tradisi dan teknologi.
Dimensi Sosial yang Terasa
Dimensi sosial semakin terasa ketika aktor mengisahkan pengalaman pribadi, mulai dari meminta izin keluarga hingga menghadapi stigma pemerintah yang pernah membatasi aktivitas mereka dengan alasan “menggoda syahwat laki-laki.” Kritik terhadap cara tubuh rakyat diawasi dan dibatasi terasa jelas, namun tetap subtil dan elegan.
Salah satu momen paling relevan muncul ketika ritual tradisi dihadirkan kembali dalam bentuk aplikasi digital. Satire cerdas ini menggambarkan bagaimana masyarakat hari ini bergantung pada teknologi, bahkan dalam urusan kebudayaan dan spiritualitas.

Wawan dan Kiki: Lengger adalah Tubuh Jalan Pulang
Wawan Alfian, aktor utama sekaligus pencetus gagasan “Eling Nger, Lengger adalah Tubuh Jalan Pulang,” mengingat bagaimana ide pertunjukan ini bermula dari kedekatannya dengan tradisi. “Saya tumbuh dengan melihat lengger sebagai milik kampung, bukan tontonan eksotis. Bagi saya, lengger mengajari kita pulang: pulang ke identitas, nilai, dan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia mengakui ada kegelisahan yang menempel lama dalam dirinya, terutama soal cara tubuh rakyat kerap diawasi dan dianggap ancaman. “Lewat lengger, saya ingin menunjukkan bahwa tubuh itu adalah ruang negosiasi—bukan sesuatu yang harus dibungkam. Lengger lentur, tapi tidak pasrah.”
Pengalaman pribadinya pun ikut membentuk sudut pandang tersebut. “Saya pernah dilarang bermain lengger karena dianggap memalukan. Jadi ketika adegan minta izin keluarga ada di panggung, itu bukan dramatik—itu pengalaman kami sendiri,” katanya.
Di sisi lain, sutradara Kiky menjelaskan pertimbangan estetika dan dramaturgi yang ia rumuskan untuk mempertemukan tubuh, ruang, dan sejarah. “Saya ingin lengger ditempatkan dalam ruang yang berlapis: estetika, sosial, dan politik,” ungkapnya. Dua kebaya tanpa kepala dan manekin berjas, menurutnya, sengaja dihadirkan sebagai simbol tentang siapa yang hadir dan siapa yang dihapus dalam sejarah tubuh.
Ia juga memilih memadukan ritual dengan teknologi karena melihat keduanya sebagai kenyataan hidup hari ini. “Tradisi hari ini hidup berdampingan dengan gawai. Ritual dalam bentuk aplikasi digital adalah satire sekaligus cermin kondisi masyarakat kita.” Meski begitu, memindahkan lengger ke panggung konvensional bukan tanpa risiko.
“Risikonya kehilangan roh. Karena itu tubuh aktor tetap menjadi poros, sementara teknologi hanya memperluas ruangnya,” tegasnya. Baginya, pesan yang ingin dibawa ke penonton jelas: “Lengger bukan masa lalu. Ia hidup, berubah, dan sedang mencari jalan pulang ke masyarakatnya.”
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar