Ekonomi Tumbang Picu Demonstrasi Besar di Iran, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Tensi Unjuk Rasa yang Memakan Korban Jiwa di Iran

Tensi unjuk rasa yang berujung pada korban jiwa di Iran semakin memanas hingga saat ini. Aksi protes besar-besaran yang dipicu oleh lonjakan biaya hidup serta anjloknya kurs mata uang Iran terhadap dolar AS, terus meluas. Gelombang demonstrasi yang dilakukan masyarakat setempat dilaporkan sudah berlangsung selama sekitar enam hari. Warga lokal yang kecewa turun ke jalanan untuk menyerukan tuntutan terhadap situasi ekonomi negara yang terus tertekan dan merosot.

Bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Sebenarnya apa yang terjadi di Iran hingga menimbulkan gelombang aksi massa yang besar ini? Berikut beberapa hal yang perlu diketahui soal unjuk rasa di Iran.

Biaya Hidup yang Meresahkan Warga

Keikhawatiran masyarakat tentang biaya hidup yang melonjak bukan sekadar reaksi, melainkan sebuah gambaran betapa tertekannya ekonomi Iran. Mata uang Iran yang disebut Rial sekarang mengalami penurunan yang drastis. Pada Minggu (28/12/2025), nilai uang mereka anjok hingga 1,42 juta terhadap dolar AS. Angka ini tercatat sebagai kemerosotan nilai sebanyak 56 persen hanya dalam kurun waktu enam bulan.

Turunnya mata uang ini menyebabkan kerugian yang sangat signifikan terhadap biaya hidup masyarakat Iran. Selain mendorong inflasi, ambruknya nilai Rial berpengaruh pada harga pangan yang sekarang naik sebesar rata-rata 72 persen dibanding tahun lalu. Salah satu masyarakat Iran yang berprofesi sebagai sopir taksi, Majid Ebrahimi, mengatakan harga pangan melonjak, termasuk susu yang harganya mencapai enam kali lipat dan barang lainnya yang naik hingga 10 kali lipat.

"Andai saja pemerintah, alih-alih hanya fokus pada bahan bakar, bisa menurunkan harga barang-barang lain," ucapnya.

Berawal dari Protes Pedagang Hingga Menyebar ke 17 Provinsi

Lantas, seberapa luas aksi demonstrasi yang menyelimuti negara Iran sekarang ini? Gelombang unjuk massa di Iran awalnya berakar dari protes tunggal yang dilakukan oleh para pedagang atau pemilik toko di Pasar Besar Teheran. Aksi yang berlangsung pada Minggu, 28 Desember 2025 tersebut mempersoalkan tentang runtuhnya ekonomi Iran.

Teriakan rakyat pada situasi ini menyebar ke 17 dari 31 provinsi di Iran pada malam tahun baru. Dari pedagang, aksi unjuk rasa juga disusul oleh deretan mahasiswa hingga berbagai kelompok masyarakat. Bentrokan antara aparat keamanan dan massa pun tidak terhindarkan. Batu-batu dilempar ke berbagai gedung-gedung administrasi dan polisi kabarnya menembakkan gas air mata.

Tak terelakkan, kejadian ini memakan korban. Hingga Kamis (1/1/2026), kantor berita semi-resmi Iran, Fars, mengabarkan ada tiga orang yang tewas di Lordegan, wilayah barat daya Iran. Selain itu, juga ditemukan tiga nyawa melayang di Azna dan satu lagi di Kouhdasht. Kedua area berada di kawasan tengah Iran.

Bagaimana Respons Pemerintah Iran?

Respons atau tindakan yang akan diambil pemerintah Iran masih sulit untuk diprediksi. Pengalaman mencatat, biasanya respons keras ditandai dengan adanya nyawa yang gugur dalam aksi massa. Namun, sejauh ini, meski ada bentrokan terisolasi, pemerintah Iran menahan diri dan tampak siap mendengarkan "tuntutan sah" dari demonstran.

Untuk menurunkan kekhawatiran masyarakat, pemerintah menunjuk gubernur baru bank sentral pada Rabu (31/12/2025). Pejabat baru, Abdolnaser Hemmati, memberikan janji untuk segera memulihkan stabilitas ekonomi setelah turunnya nilai Rial. Dalam sebuah upacara di Teheran, Kamis (1/1/2026), Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyampaikan soal komitmennya terhadap reformasi ekonomi dan pemberantasan korupsi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan