Ekspor Baja RI Melonjak 12,12 Persen Hingga Oktober 2025


Kinerja ekspor besi dan baja Indonesia mencerminkan pertumbuhan yang positif sepanjang periode Januari hingga Oktober 2025. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor besi dan baja pada bulan-bulan tersebut mencapai USD 23,58 miliar. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024, yaitu sebesar USD 21,03 miliar. Pertumbuhan sebesar 12,12 persen secara year on year (yoy) menunjukkan bahwa komoditas ini menjadi salah satu penopang utama ekspor nonmigas nasional.

Selain itu, volume ekspor besi dan baja juga mengalami kenaikan signifikan. Pada Januari hingga Oktober 2024, volume ekspor mencapai 17,25 juta ton, sedangkan pada periode yang sama di tahun 2025 naik menjadi 19,50 juta ton. Kenaikan sebesar 13,04 persen ini menunjukkan permintaan internasional terhadap produk besi dan baja Indonesia semakin tinggi.

Peningkatan ini tidak hanya berdampak pada sektor ekspor, tetapi juga memperkuat posisi neraca perdagangan Indonesia. Hingga Oktober 2025, Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD 35,88 miliar. Angka ini meningkat sebesar USD 10,98 miliar dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Surplus ini terus bertahan selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Surplus tersebut didukung oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD 51,51 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD 15,63 miliar. Total ekspor pada periode Januari-Oktober 2025 meningkat sebesar 6,96 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai ekspor sebesar USD 187,82 miliar atau tumbuh 15,75 persen.

Tiga pasar utama ekspor Indonesia adalah China, Amerika Serikat (AS), dan India. Ketiga negara ini menyumbang 41,84 persen dari total ekspor nonmigas. China menjadi tujuan terbesar dengan nilai ekspor sebesar USD 52,45 miliar, diikuti AS sebesar USD 25,56 miliar, dan India sebesar USD 15,32 miliar.

Komoditas yang paling banyak diekspor ke China meliputi besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel. Sementara ekspor ke AS didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian rajut, serta alas kaki.

Di sisi impor, Indonesia membukukan nilai sebesar USD 198,16 miliar selama Januari-Oktober 2025, meningkat 2,19 persen secara tahunan. Impor nonmigas menjadi penyumbang terbesar dengan nilai USD 171,61 miliar, naik 4,95 persen. Sementara impor migas turun 12,67 persen menjadi USD 26,56 miliar.

Kenaikan impor terutama dipicu oleh meningkatnya impor barang modal yang mencapai USD 40,55 miliar atau melonjak 18,67 persen dibandingkan tahun sebelumnya. China tetap menjadi pemasok nonmigas terbesar bagi Indonesia dengan nilai USD 70,19 miliar, disusul Jepang sebesar USD 12,17 miliar dan AS sebesar USD 8,17 miliar. Impor dari China paling banyak berupa mesin, peralatan mekanis, perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan komponennya.

BPS juga mencatat bahwa surplus perdagangan nonmigas sepanjang sepuluh bulan tersebut didorong oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati senilai USD 28,12 miliar, bahan bakar mineral yang mencapai USD 22,59 miliar, besi dan baja dengan USD 15,79 miliar, produk nikel di USD 7,39 miliar, dan alas kaki bernilai USD 5,47 miliar.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan