
Empat Mantra Sederhana untuk Mencintai Otak Disleksia dan ADHD
Otak saya tidak pernah benar-benar diam. Ia sibuk, melompat dari satu ide ke ide lain, sering kelelahan oleh pikirannya sendiri. Sebagai penyandang disleksia dan ADHD, saya tumbuh dengan keyakinan bahwa otak seperti ini adalah masalah. Di sekolah, saya disebut lambat. Di rumah, saya dianggap kurang fokus. Di dalam diri saya sendiri, sering muncul rasa bersalah karena tidak bisa "normal" seperti yang lain.
Namun, seiring waktu, saya belajar satu hal penting: otak yang sibuk ini bukan musuh. Ia hanya bekerja dengan cara yang berbeda. Psikolog dan peneliti ADHD seperti Dr. Russell Barkley menjelaskan bahwa ADHD bukan sekadar gangguan perhatian, melainkan gangguan regulasi diri termasuk emosi, fokus, dan manajemen energi. Sementara dalam disleksia, menurut Sally Shaywitz (Yale Center for Dyslexia & Creativity), kesulitan membaca bukan cerminan kecerdasan rendah, melainkan perbedaan cara otak memproses bahasa.
Fakta ini penting, karena terlalu lama kita memandang anak-anak seperti saya dari kacamata defisit, bukan dari sudut pandang keberagaman cara berpikir. Dalam perjalanan berdamai dengan diri sendiri, saya menemukan bahwa yang paling menolong bukan sekadar terapi atau strategi belajar, tetapi kalimat-kalimat sederhana semacam mantra yang saya ucapkan pada diri sendiri ketika pikiran mulai kacau dan kecemasan datang bertubi-tubi.
1. "Terus coba"
Otak ADHD sering menyerah terlalu cepat. Sekali gagal, rasanya energi habis, fokus runtuh, dan pikiran langsung berkata, "Percuma." Padahal, kegagalan pertama bukan penentu akhir. Di lapangan, saat saya mendampingi anak-anak dengan disleksia dan ADHD, saya melihat pola yang sama: mereka bukan tidak mampu, mereka hanya lelah terlalu cepat karena terlalu sering disalahkan. Ketika mereka diberi ruang untuk mencoba lagi tanpa dihakimi, kemampuan mereka perlahan muncul ke permukaan.
2. "Aku tidak harus sempurna"
Perfeksionisme diam-diam menjadi jebakan bagi banyak penyandang ADHD. Otak kami berpikir ekstrem: kalau tidak sempurna, lebih baik tidak sama sekali. Psikolog menyebut ini sebagai all-or-nothing thinking, pola pikir yang umum pada individu dengan ADHD dan kecemasan. Mengingatkan diri bahwa cukup itu sudah cukup, sering kali menjadi pintu keluar dari kelumpuhan mental (attention paralysis).
3. "Pelan tidak apa-apa"
Sebagai anak disleksia, saya belajar membaca lebih lambat dari teman-teman saya. Dunia tidak sabar menunggu. Buku pelajaran terus berganti halaman, guru terus berbicara, sementara saya masih berjuang mengenali huruf yang seperti menari. Tapi hari ini saya tahu: pelan bukan berarti tertinggal. Banyak ahli pendidikan inklusif menegaskan bahwa kecepatan belajar tidak identik dengan kedalaman pemahaman. Anak-anak seperti kami sering butuh waktu lebih lama, tapi justru memiliki pemahaman yang lebih reflektif dan kreatif.
4. "Aku akan baik-baik saja"
Kalimat ini sederhana, tapi sangat menenangkan. ADHD sering membuat masa depan terasa menakutkan terlalu banyak kemungkinan buruk berputar di kepala. Dengan mengatakan kalimat ini, saya belajar memisahkan realitas dari ketakutan. Saya mengingatkan diri bahwa saya sudah melewati banyak hal sulit, dan tetap berdiri sampai hari ini.
Di lapangan, saat mendampingi guru dan orang tua, saya selalu menekankan satu hal: anak dengan disleksia dan ADHD tidak membutuhkan keajaiban. Mereka hanya butuh orang dewasa yang percaya bahwa mereka bisa, meski jalannya berbeda. Ketika lingkungan berhenti memaksa mereka menjadi "anak lain", di situlah mereka mulai tumbuh menjadi diri sendiri.
Hari ini, saya tidak lagi membenci otak saya yang sibuk. Ia memang melelahkan, kadang berisik, kadang membingungkan. Tapi di sanalah empati saya lahir, kreativitas saya tumbuh, dan ketahanan saya ditempa. Saya belajar menari bersamanya kadang tersandung, kadang tidak seirama, tapi tetap bergerak.
Karena mencintai diri sendiri, bagi saya, bukan tentang memperbaiki semua kekurangan, melainkan tentang menerima cara otak ini bekerja dan tetap melangkah, satu napas, satu usaha, satu hari pada satu waktu.
"Aku tidak rusak. Otakku hanya bekerja dengan cara yang berbeda. Dan dari perbedaan itulah aku belajar menjadi manusia yang lebih utuh."
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar