
Berderinglah ponsel. Layar menyala. Satu notifikasi masuk dari nomor tak dikenal. Kita buka, berharap ada informasi penting---ternyata isinya cuma satu huruf: "P."
Sesingkat itu. Hemat kuota, hemat energi, tapi boros makna.
Fenomena pesan "P" ini seperti salam tanpa jabat tangan, ketukan pintu tanpa suara, atau orang berdiri di depan rumah tapi cuma batuk kecil lalu diam. Kita tahu ada seseorang di sana, tapi tak tahu maunya apa. Di situlah masalah dimulai.
"P" dan Kegalauan Modern
Secara teoritis, komunikasi adalah soal menyampaikan pesan. Tapi "P" bukan pesan, melainkan kode misterius. Ia tidak menjelaskan tujuan, tidak menunjukkan niat, bahkan tidak memastikan apakah pengirimnya manusia, bot, atau mantan yang iseng.
Sebagai penerima, kita berada di posisi serba salah. Kalau dibalas, takut ternyata cuma salah kirim. Kalau diabaikan, takut ternyata penting. Kalau ditanya balik, kok rasanya kita yang jadi repot?
Di titik ini, banyak orang---termasuk Kompasianer---akhirnya memilih salah satu dari tiga reaksi klasik:
Menunda membalas.
Pesan dibiarkan terbaca tapi tak dijawab. Bukan karena sombong, tapi karena bingung harus menjawab apa. Mau balas "ya?" rasanya terlalu pasif. Mau balas "ada apa?" kok kita yang jadi seolah-olah butuh.
Mengabaikan sepenuhnya.
Nomor tak dikenal + pesan "P" = risiko sosial. Apalagi di era penipuan digital, kehati-hatian sering kali lebih masuk akal daripada kesopanan.
Membalas singkat dan datar.
Biasanya dengan "ya?" atau "siapa ya?"---jawaban yang fungsional tapi dingin. Ini semacam kompromi: tidak ramah, tapi juga tidak menutup pintu.
Pengalaman seperti ini hampir pasti pernah dialami siapa pun yang hidup di era chat. Ironisnya, kita semua tahu betapa menjengkelkannya pesan "P", tapi entah kenapa ia terus direproduksi, diwariskan lintas generasi digital.
Mengapa Orang Masih Mengirim "P"?
Jawabannya sederhana dan rumit sekaligus: malas dan canggung.
Sebagian orang tidak tahu cara memulai obrolan. Mereka tahu apa yang ingin disampaikan, tapi tersandung di pintu pembuka. Akhirnya, "P" dipilih sebagai alat uji nyali: kalau dibalas, lanjut; kalau tidak, ya sudah.
Masalahnya, ini menempatkan beban komunikasi sepenuhnya pada penerima. Pengirim seolah berkata, "Saya ingin sesuatu, tapi kamu saja yang tebak."
Dalam komunikasi yang sehat---baik formil maupun santai---ini jelas bukan awal yang ideal.
Membuka Obrolan Itu Seni, Bukan Bakat
Kabar baiknya, membuka obrolan bukan bakat bawaan. Ia bisa dilatih. Bahkan, sering kali hanya butuh satu kalimat tambahan untuk mengubah "P" menjadi pesan yang manusiawi.
Misalnya, alih-alih:
P
Cukup ubah menjadi:
Selamat pagi, saya Andi. Mau bertanya soal artikel di nurulamin.pro.
Atau yang lebih santai:
Halo, maaf mengganggu. Ini saya dari komunitas sepeda, mau tanya sebentar.
Satu kalimat, tiga unsur penting: salam, identitas, dan tujuan. Sesederhana itu, tapi dampaknya besar. Penerima langsung tahu konteks, tahu arah, dan tahu apakah perlu merespons segera atau tidak.
Tips Membuka Obrolan yang Baik (Tanpa Drama)
Untuk Kompasianer yang ingin komunikasinya lebih efektif---dan tidak diabaikan---berikut beberapa tips praktis:
Sebutkan siapa diri Anda
Tidak perlu biodata lengkap. Nama atau afiliasi sudah cukup. Ini membangun rasa aman.
Langsung ke tujuan, tapi tetap sopan
Basa-basi boleh, bertele-tele jangan. Orang lebih menghargai kejelasan daripada keramahtamahan palsu.
Sesuaikan nada dengan konteks
Obrolan formil butuh bahasa rapi. Obrolan santai cukup hangat dan wajar. Jangan kirim emoji api ke dosen, dan jangan kirim surat resmi ke teman nongkrong.
Hargai waktu penerima
Kalimat seperti "kalau berkenan" atau "tidak harus dibalas sekarang" terdengar kecil, tapi efeknya besar.
Jangan uji kesabaran dengan pesan gantung
Mengirim "P", lalu menunggu, lalu baru menjelaskan setelah dibalas, itu sama saja seperti mengetuk pintu tiga kali tapi baru bicara setelah disuruh.
Menjadi Penerima yang Waras
Di sisi lain, sebagai penerima pesan "P", kita juga berhak menjaga kewarasan digital. Mengabaikan pesan yang tidak jelas bukan dosa. Menunda membalas juga bukan kejahatan sosial.
Namun, kalau ingin tetap elegan, satu jawaban netral sudah cukup:
Maaf, dengan siapa dan ada keperluan apa ya?
Kalimat ini tidak kasar, tidak ramah berlebihan, tapi menegaskan standar komunikasi yang sehat.
Di era ketika kita bisa menulis ribuan kata dalam hitungan menit, rasanya aneh jika komunikasi masih dibuka dengan satu huruf tanpa makna. "P" mungkin singkat, tapi dampaknya panjang: salah paham, diabaikan, bahkan dianggap mencurigakan.
Maka, kalau kita ingin obrolan berjalan baik---di chat, di forum, atau di nurulamin.promulailah dengan kalimat utuh. Karena komunikasi bukan soal siapa yang paling cepat menyapa, tapi siapa yang paling jelas menyampaikan maksudnya.
Dan kalau masih ingin mengirim "P", mungkin yang sebenarnya perlu diketik bukan huruf itu---melainkan niat yang lebih jelas.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar