Kritik terhadap Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Terkini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dituduh berbohong kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai kondisi kelistrikan di Aceh pasca bencana banjir dan longsor. Bahlil melaporkan bahwa listrik di Aceh telah menyala sekitar 97 persen. Namun, fakta yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak daerah yang belum mendapatkan penerangan sebagaimana yang dilaporkan olehnya.
Berdasarkan laporan dari anggota DPR RI dari Partai Gerindra, TA Khalid, capaian listrik di Aceh disebut baru berada di kisaran 60 persen. Ia menegaskan bahwa kebohongan dalam laporan data dapat berdampak langsung pada rakyat dan memperlambat penanganan bencana di Aceh. “Laporkan data sesungguhnya, jangan asal bapak senang. Seluruh menteri saya minta untuk tidak bohongi Presiden soal banjir di Aceh,” tegasnya.

Pernyataan Bahlil Lahadalia dan Reaksi Publik
Sebelumnya, Bahlil menjawab pertanyaan Presiden Prabowo Subianto saat mengunjungi Aceh. Ia dengan lantang menyebut bahwa listrik di Aceh 97 persen sudah menyala normal mulai Minggu (7/12/2025). Namun, beberapa wilayah di Aceh seperti Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Bireuen, dan Gayo Lues masih mengalami pemadaman listrik hingga Senin malam (8/12/2025).
Hilmi Irsyadi, warga Gampong Pango Deah, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, mengatakan bahwa listrik padam total di desanya sejak Minggu pagi hingga Senin malam. Hal serupa juga dilaporkan oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Bireuen, M Zubair MH, yang menyatakan bahwa seluruh Bireuen gelap karena listrik masih padam.

Tanggapan dari Juru Bicara Pemerintah Aceh
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, angkat bicara terkait pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang mengklaim kondisi kelistrikan Aceh sudah pulih 93 persen. Menurut MTA, pihaknya perlu melakukan klarifikasi terkait klaim tersebut demi menjaga kondusivitas di tengah masyarakat.
“Kami memandang perlu klarifikasi untuk kondusivitas masyarakat. Banyak masyarakat merasa kecewa dan berpotensi resisten bagi tenaga PLN di lapangan,” ujar MTA.
MTA menjelaskan bahwa dalam beberapa pertemuan terkahir bersama pihak PLN, hingga saat ini potensi suplai listrik seluruh Aceh terhadap jaringan menengah baru mencapai 60-70 persen. Untuk Banda Aceh sendiri, kata MTA, kondisi kelistrikan saat ini masih pada posisi 35-40 persen menyala.
Peran Ombudsman RI dalam Akurasi Informasi
Dari Jakarta, pihak Ombudsman RI juga meminta seluruh instansi terkait, termasuk Kementerian ESDM dan PLN, agar menyampaikan informasi yang akurat, faktual, dan sesuai kondisi lapangan mengenai pemulihan listrik pascabencana banjir di Aceh. Anggota Ombudsman RI, Johanes Widijantoro, menegaskan bahwa penyampaian informasi yang tidak sesuai fakta justru dapat menghambat pemulihan layanan publik dan menurunkan kepercayaan masyarakat.
“Dalam kondisi bencana, masyarakat tidak membutuhkan laporan yang dibuat untuk menyenangkan pimpinan,” ujarnya. “Sampaikan kondisi apa adanya, apa yang sudah dikerjakan, apa kendalanya, dan area mana yang masih padam.”
Kekhawatiran terhadap Penanganan Bencana
Bahkan, beberapa warga Aceh menyebut bahwa Bahlil banyak dramanya, bahkan ada yang menyebut itu hanyalah "prank" Bahlil terhadap rakyat Aceh yang sedang dirundung bencana besar. Mereka khawatir jika kondisi ini dibiarkan, akan sangat merugikan masyarakat Aceh. “Kita semua bekerja untuk rakyat, jangan sampai rakyat jadi korban atas laporan palsu yang kita sampaikan kepada Presiden,” pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar