
Peran Penting Musik dalam Film
Bunyi merupakan aspek terpenting dalam sebuah film, selain visual tentu saja, meskipun seringkali kurang disadari. Seperti hembusan angin dan aroma yang mengisi ruang udara, terasa ada, tapi tak kasat mata. Berbagai "bunyi" ini memiliki kekuatan untuk memanipulasi emosi penonton dan memberikan struktur pada narasi.
Aspek utama dari 'bunyi' dalam film biasanya disebut soundtrack. Secara teknis, soundtrack merupakan istilah luas yang mencakup seluruh rekaman audio yang menyertai sebuah film. Soundtrack yang tepat bisa membuat sebuah film melekat lebih erat di ingatan penontonnya. Sedangkan Theme Song atau lagu tema, yang menjadi bagian dari soundtrack, dianggap sebagai "wajah" dari film tersebut. Lagu tema film ikonik akan meninggalkan kesan yang tidak lekang oleh waktu.
Pada awalnya mungkin kita tak terlalu menyadarinya, namun ketika kita mendengar musiknya di kesempatan berbeda, judul film tertentu akan langsung muncul di kepala kita. Keterikatan antara memori dan bunyi ini bukanlah kebetulan, tapi merupakan hasil dari kerja keras artistik yang jauh lebih mendalam daripada hanya mengisi ruang sunyi.
Musik dalam film tak cuma hiasan, tetapi berperan sebagai penggerak utama emosi penonton.
Chemistry Di Balik Pendaran Nada
Di balik kemegahan visual, sejatinya musiklah yang memegang kendali atas detak jantung penonton. Kita seringkali mencampuradukkan antara lagu populer yang mengisi film dengan komposisi instrumen orisinal yang kita sebut sebagai film score. Namun, keduanya bekerja dalam harmoni untuk membangun atmosfer yang seringkali lebih jujur daripada dialog aktor itu sendiri.
Bayangkan betapa berbedanya aura keagungan sekaligus melankolia dalam "The Godfather" tanpa denting mandolin dan melodi trompet Nino Rota yang menyayat hati. Musiknya bukan sekadar pelengkap, melainkan personifikasi dari tragedi, kehormatan, dan dinginnya silsilah keluarga Corleone yang melintasi generasi.
Hal yang sama juga bisa kita rasakan pada ketegangan yang menyesakkan dalam film "Dunkirk" di mana Sang Penata Musik, Hans Zimmer menggunakan suara detak jam yang konstan untuk menciptakan teror psikologis yang membuat penonton merasa seolah waktu benar-benar sedang habis. Tanpa nada-nada tersebut, film hanyalah sekumpulan gambar bergerak yang kehilangan ruhnya.
Namun, kekuatan yang ada dalam "soundtrack" bisa juga seperti pedang bermata dua. Ada kalanya soundtrack justru menjadi pengkhianat bagi visualnya sendiri. Fenomena ini sering kita jumpai ketika sebuah film sejarah dipaksa menggunakan musik modern yang tidak selaras, atau saat pilihan lagu justru menghancurkan imersi cerita.
Kita mungkin ingat betapa gaduhnya film "Suicide Squad" yang terasa seperti "playlist Spotify" random tanpa arah narasi yang jelas. Saat musik gagal membaca jiwa sebuah adegan, penonton akan merasakan keterasingan yang membuat film tersebut kehilangan arah emosionalnya.
Simfoni Dalam Kecepatan dan Kebrutalan Film 'Baby Driver'
Berbicara tentang keberhasilan soundtrack, kita tidak bisa melewatkan bagaimana Sutradara Edgar Wright memperlakukan musik bukan sebagai bumbu, melainkan sebagai rangka dasar dalam karyanya, 'Baby Driver.' Film ini adalah pembuktian bahwa seorang sutradara bisa memiliki kontrol terhadap ritme. Wright membawa kita ke dalam dunia Baby, seorang pemuda yang menjadikan musik sebagai pelindung dari kondisi tinnitus yang mengganggu telinganya.
Di tangan Wright, Baby Driver menjelma menjadi sebuah 'film musikal aksi yang lucu' yang membuat film waralaba 'Fast and Furious' terlihat amatir dan hambar. Tak ada ledakan berlebihan yang diperlukan di sini, karena setiap putaran ban, setiap letusan peluru, dan setiap langkah kaki Baby saat membeli kopi telah dikoreografi yang dibungkus hentakan musik yang pas.
Adegan pembuka yang menggunakan lagu 'Bellbottoms' atau long take legendaris 'Harlem Shuffle' yang dinyanyikan Bob & Earl adalah standar tinggi dalam craftsmanship perfilman. Kita diajak masuk ke frekuensi yang berbeda, di mana dunia bergerak sesuai ketukan nada. Bahkan pilihan lagu 'Easy' dari The Commodores memberikan kontras yang begitu manis sekaligus pahit, sebuah momen santai yang terjadi di tengah pusaran kriminalitas yang brutal.
Musik di film ini seperti memori, identitas, sekaligus bahan bakar yang membuat tensi film tetap terjaga. Wright dengan keren menyisipkan elemen nostalgik kaset pita, tombol play, rec, hingga mixing manual yang membuat penikmat era 70-an hingga 90-an merasa terlibat secara personal dalam obsesi audio sang karakter utama.
Ensembel Artis yang Bergerak Mengikuti Ritme Musik
Upaya keren Wright tak berhenti pada sisi audio saja, tapi berlanjut pada bagaimana ia menempatkan bidak-bidaknya di depan kamera. Ansel Elgort sebagai Baby adalah pilihan yang brilian, wajahnya yang cenderung "poker face" justru memberikan ruang bagi musik untuk "berbicara." Dia tidak perlu banyak berakting lewat dialog, karena seluruh tubuhnya sudah menjadi instrumen yang bergerak sinkron dengan daftar putar di iPod-nya.
Lalu ada Jamie Foxx sebagai Bats, yang kehadirannya memberikan distorsi tajam di tengah harmoni. Bats adalah sosok paranoid yang perilakunya sulit ditebak, kontras dengan Jon Hamm yang memerankan Buddy, sosok yang awalnya terlihat tenang namun perlahan berubah menjadi ancaman paling mengerikan. Tak lupa Kevin Spacey sebagai Doc, sang otak kriminal yang dingin, memberikan jangkar bagi tensi cerita. Mereka bukan sekadar aktor yang memerankan peran, mereka adalah bagian dari aransemen Wright.
Chemistry antara Baby dan Debora (Lily James) pun terasa manis dan klasik, memberikan nafas "normal" di tengah kebisingan dunia kriminal yang brutal.
Dilema Narasi di Akhir Kisah
Namun, keindahan teknis yang luar biasa dengan ansambel artis yang menawan, sepertinya tak mampu menutupi kelemahan pada fondasi cerita secara keseluruhan. Seperti sebuah perjalanan panjang yang terasa mengasyikan di paruh awal, film yang dirilis tahun 2017 ini, sayangnya harus menghadapi kenyataan pahit di sepertiga akhir durasinya.
Alur yang semula segar dan orisinal perlahan terjebak dalam kiasan klise Hollywood yang terlalu bermain "aman." Perubahan karakter Doc yang tiba-tiba menjadi pahlawan pelindung demi menjembatani akhir yang bahagia terasa seperti keputusan yang kurang berani secara artistik. Teriakan "Banana!" di tengah kekacauan itu seolah menjadi penanda bagaimana sebuah thriller yang sedang hot-hotnya bisa mendingin secara mendadak demi kepuasan penonton.
Meskipun eksekusi ending-nya terasa biasa saja atau bahkan sedikit mengecewakan bagi penggemar kisah yang lebih kelam, kita tetap tidak bisa menafikan pencapaian teknis film ini. Kemenangan di kategori tata suara pada berbagai ajang penghargaan adalah pengakuan mutlak atas rumitnya menyatukan audio dan visual dalam satu napas yang sama.
Soundtrack tetaplah elemen tak kasat mata yang paling jujur, layaknya memori yang tertinggal saat tayangan film berakhir dan layar kembali hitam. Dan bisa menjadi alasan mengapa kita tetap jatuh cinta pada sebuah karya sinema meski terkadang ceritanya tak berakhir sesempurna nada-nada yang mengiringinya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar