
JAKARTA, nurulamin.pro
Bank Indonesia (BI) tengah mempersiapkan serangkaian kebijakan yang bertujuan untuk memperkuat ekonomi Indonesia pada tahun 2026. Langkah ini diambil dalam menghadapi situasi perekonomian global yang dinilai tidak stabil dan sedang mengalami perlambatan.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menekankan pentingnya kewaspadaan sebagai dasar utama dalam menghadapi ketidakpastian global. Ia menyampaikan bahwa sikap "eling lan waspodo" atau "ingat dan waspada" sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan yang muncul.
"Penting untuk eling lan waspodo, seperti nasehat Ronggowarsito (Pujangga Keraton Surakarta Abad ke-19)," ujar Gubernur BI dalam Pertemuan Tahunan BI (PTBI) 2025, Jumat (28/11/2025).
Ekonomi global pada 2026 terlihat redup
Organisasi internasional seperti International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya sebesar 3,1 persen pada 2026. Sementara itu, Bank Dunia memberikan prediksi yang lebih pesimistis, yaitu 2,4 persen.
BI juga memperkirakan bahwa prospek ekonomi global masih akan tetap redup hingga 2027. Selain itu, beberapa negara besar belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Di Eropa, pertumbuhan ekonomi hampir tidak bergerak dari kisaran 1,3 persen. Sementara itu, Jepang menghadapi proyeksi pertumbuhan yang terus menurun hingga mendekati nol pada 2031.
Di sisi lain, China, yang selama ini menjadi mesin utama pendorong ekonomi global, juga mengalami tekanan akibat tensi dagang dengan Amerika Serikat (AS). Pertumbuhan ekonominya diperkirakan melambat dari 4,8 persen pada 2026 menjadi hanya sekitar 3 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Tenaga tambahan untuk penguatan ekonomi
Di dalam negeri, pelemahan ekonomi juga terlihat dari penurunan daya beli masyarakat, pelambatan penyaluran kredit, serta pengusaha yang cenderung menahan ekspansi bisnis.
Untuk menghadapi hal tersebut, BI menyiapkan "jamu penguat" berupa rangkaian kebijakan yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia.
Beberapa kebijakan yang disiapkan antara lain:
Menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah agar tidak mengganggu stabilitas ekonomi.
Memperkuat likuiditas perbankan untuk memastikan ketersediaan dana yang cukup.
* Memberikan dorongan kredit yang sehat dan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan usaha.
Dengan kebijakan-kebijakan tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 4,9–5,7 persen pada 2026, dan meningkat menjadi 5,1–5,9 persen pada 2027.
Pembahasan lengkap mengenai racikan kebijakan BI ini dapat disimak dalam program
Filonomics: Jamu Penguat Ekonomi Indonesia 2026 Racikan BI
di YouTube nurulamin.pro.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar