Persiapan Ujian Keaktoran Semester 5 di FKIP UMTAS
Program Studi Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) sedang mempersiapkan ujian keaktoran semester 5 yang akan digelar pada awal Januari 2026. Ujian kali ini mengambil format pementasan monolog, yang sebelumnya juga digunakan pada tahun sebelumnya. Seluruh mahasiswa akan berperan sebagai aktor yang membawakan satu naskah yang sama karya AB Asmarandana, dosen pengampu mata kuliah tersebut.
Naskah yang digunakan dalam ujian ini belum memiliki judul resmi. Penamaan dan interpretasi dibiarkan terbuka bagi para aktor dan penggarap. Pendekatan ini sengaja dipilih untuk menguji tingkat kemandirian mahasiswa dalam membaca, menafsir, dan mengolah teks menjadi pertunjukan yang hidup—salah satu aspek penting dalam kompetensi keaktoran modern.
Naskah yang Menggugat Sistem
Meski tidak memiliki judul resmi, naskah AB Asmarandana memiliki nafas kuat: protes halus terhadap sistem pendidikan dan dunia kerja modern. Naskah ini mengingatkan pada gagasan John D. Rockefeller, bagaimana sekolah dirancang untuk mencetak pekerja, bukan pemikir.
John D. Rockefeller (1839–1937), salah satu pengusaha terkaya dan tokoh paling berpengaruh pada awal abad ke-20 di Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai pendiri Standard Oil dan filantrop besar yang membentuk banyak institusi sosial, ekonomi, dan pendidikan. Namun, dalam berbagai diskursus modern—termasuk kritik yang sering viral di media sosial—nama Rockefeller dipakai sebagai simbol gagasan tentang bagaimana sistem pendidikan modern dibentuk bukan untuk melahirkan pemikir bebas, melainkan pekerja yang patuh dan efisien.
Dalam sebuah video YouTube dengan judul "Rahasia Rockefeller - Bagaimana Sekolah Didesain untuk Membentuk Pekerja, Bukan Pemikir" oleh akun EpicVice, disampaikan bahwa sistem pendidikan mendorong kepatuhan, bukan kreativitas; mengejar angka, bukan pemahaman; serta menciptakan generasi yang efisien, produktif, namun mudah diatur. Kritik ini sangat relevan dengan realitas akademik masa kini—termasuk di lingkungan kampus sendiri.
Autokritik: Ketika Akademisi Masih Jadi Bagian dari Sistem yang Dipersoalkan
Selain memprotes sistem pendidikan secara global, naskah yang akan dipentaskan juga berfungsi sebagai autokritik. Ia menyoroti peran dosen dan mahasiswa yang tanpa sadar menjadi bagian dari "pretense Akademik": bekerja sekedar memenuhi prosedur, bukan membangun proses belajar yang jujur.
Fenomena IPK yang menggelembung turut menjadi sorotan. Hampir semua mahasiswa memiliki IPK di atas 3,5, kampus mendapat akreditasi baik, tapi di balik itu terdapat ironi: mahasiswa yang mendapat nilai A tidak selalu benar-benar memahami apa yang dipelajari dan untuk tujuan apa. Semua bergerak seperti ilusi keberhasilan yang dibentuk sistem.
Melalui monolog ini, mahasiswa Sendratasik UMTAS diajak untuk mulai memikirkan kembali posisi mereka sebagai creator, pendidik, dan manusia yang berpikir kritis dan sadar.
Panggung Monolog adalah Refleksi
Ujian keaktoran ini bukan sekedar penilaian teknis. Ia menjadi ruang reflektif, tempat mahasiswa menghadapi realitas yang sering mereka alami sendiri: tekanan nilai, tuntutan efisiensi, serta minimnya ruang untuk berfikir bebas.
Monolog yang dibawakan akan membuka dialog baru—bahwa seni pertunjukan bukan hanya soal estetika, tetapi juga cara untuk mengungkapkan kebenaran yang sering luput dari ruang kelas. Setiap mahasiswa UMTAS yang mengikuti mata kuliah tersebut hendaknya menjadikan ujian ini sebagai pengalaman belajar yang lebih autentik.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar