FOMO di Era Digital: Mengapa Takut Ketinggalan Tanpa Berpindah?

Pengaruh FOMO dalam Kehidupan Sehari-hari

Menurut riset yang ada, kebanyakan orang di Indonesia menghabiskan waktu rata-rata sekitar 6 jam setiap harinya untuk bermain smartphone pada tahun 2023 lalu. Coba perhatikan di sekitar kita, di kereta, kafe atau bahkan saat berkumpul dengan teman. Hampir semua orang menunduk, mata terpaku pada layar ponsel masing-masing. Berapa banyak notifikasi semalam? Siapa yang memposting story? Apa ada tren baru yang harus diikuti? Tanpa sadar jari kita sudah terbiasa me-scrolling. Takut ketinggalan padahal belum tahu apa yang seharusnya tidak boleh dilewatkan. Kalau sepuluh tahun lalu, mungkin ketinggalan kabar terbaru berarti kita menunggu koran esok hari atau berita yang akan muncul di TV. Berbeda dengan sekarang, ketinggalan update satu jam saja mungkin sudah cukup untuk membuat kita tertinggal berita yang sedang hot di media sosial.

Inilah yang dinamakan FOMO, singkatan dari Fear Of Missing Out, merupakan sebuah fenomena psikologis yang mengacu pada ketakutan atau kecemasan seseorang akan kehilangan momen, tren, atau informasi yang sedang populer. Dimana ketertinggalan bukan lagi soal tidak tahu informasi, melainkan tidak tahu informasi secepat orang lain. FOMO bukan sekadar tren media sosial atau istilah populer di kalangan anak muda. Ini adalah fenomena psikologis nyata yang mengubah cara kita menjalani hidup. Bukan sekadar rasa penasaran biasa, melainkan kegelisahan yang mendorong kita untuk terus terhubung, terus mengocek, terus mengikuti.

Teknologi dan Perubahan Pola Hidup

Pertumbuhan pengguna dan intensitas penggunaan ini turut memperlihatkan bagaimana teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari komunikasi, hiburan hingga beragam aktivitas scrolling dan update seakan menjadi rutinitas yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Fenomena FOMO ini mendorong orang untuk selalu "stay connected" atau terus-terusan terhubung dengan dunia digital. Bahkan ketika kegiatan sehari-hari sudah selesai, banyak yang masih merasa perlu untuk terus membuka aplikasi media sosial demi mendapatkan informasi terbaru. Kondisi ini membuat waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk istirahat atau berinteraksi langsung dengan orang sekitar menjadi tergantikan oleh kebiasaan scrolling dan mengamati update orang lain.

Tren Gaya Hidup dan Dampaknya

Selain informasi dan berita, FOMO juga sangat terasa dalam hal tren gaya hidup, terutama dalam dunia fashion dan tempat-tempat populer seperti cafe atau lokasi hangout terbaru. Di era digital sekarang, hampir setiap hari muncul tren baru yang cepat tersebar melalui media sosial. Misalnya fashion yang pernah ramai, seperti skena, cewek kue, perpaduan warna favorit yang sedang naik daun, atau ide kuliner yang menarik seperti cromboloni, donat mochi dan yang lain nya.

Fenomena ini membuat banyak orang merasa harus segera mengikuti agar tidak ketinggalan, biasanya takut dianggap "kudet" (kurang update) dalam sosial media. Banyak orang berlomba-lomba untuk mencoba makanan viral, mengenakan pakaian yang sedang tren, atau mengunjungi lokasi hits demi mendapatkan rasa diterima dan dianggap eksis di lingkungan pergaulan mereka. Bahkan, beberapa orang rela mengeluarkan biaya lebih demi tampil sesuai tren dan berbagai pengalamannya di media sosial.

Namun di balik itu, FOMO dalam hal gaya hidup juga memiliki sisi yang membuat seseorang mudah terbawa arus tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kenyamanan pribadi. Tidak hanya terbatas pada itu saja, FOMO juga terlihat dalam berbagai tren lain seperti mengoleksi "blind box" atau "mystery box", gadget terbaru atau bahkan budaya digital yang sedang hits. Seringkali, orang mengikuti tren bukan karena benar-benar suka atau membutuhkan, melainkan karena ingin terlihat mengikuti perkembangan dan diterima oleh lingkungan sekitar. Kondisi ini dapat menyebabkan pengeluaran yang berlebihan dan rasa kurang puas jika tidak mampu selalu bisa mengikuti segala tren yang muncul.

Dampak Positif FOMO

Di sisi lain, FOMO juga membawa dampak positif. Fenomena ini dapat menjadi pendorong bagi seseorang untuk mencoba hal baru, terbuka pada pendorong bagi seseorang untuk lebih aktif mencoba hal baru, terbuka pada berbagai gaya dan budaya, serta meningkatkan kreativitas dalam mengekspresikan diri. Dengan mengikuti tren, seseorang tidak hanya dapat memperluas jaringan sosial, tetapi juga dapat mengembangkan kemampuan beradaptasi dengan perubahan, meningkatkan kreativitas dalam mengekspresikan diri serta menambah pengalaman baru dan cara melihat hidup yang lebih luas.

Pentingnya Menjaga Keseimbangan

Oleh sebab itu, penting untuk bijak dalam menyikapi tren gaya hidup, menyesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi pribadi, agar ikut tren tidak menjadi beban, melainkan sumber inspirasi dan kesenangan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan