
Perubahan Strategi yang Berani
PSSI resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia. Penunjukan ini menjadi langkah strategis yang menandai perubahan arah dalam pengelolaan sepak bola nasional. Gaji yang diberikan kepada Herdman sebesar Rp8 miliar per tahun, lebih rendah dibandingkan pendahulunya, Shin Tae-yong. Namun, penunjukan ini dilakukan dengan target jangka panjang hingga Piala Dunia 2030, meskipun diiringi kontroversi.
Gaji dan Durasi Kontrak
Berdasarkan laporan dari Canadian Soccer Daily dan sumber-sumber lainnya, kontrak Herdman memiliki struktur yang berbeda dibandingkan Shin Tae-yong. Berikut adalah perbandingannya:
- Gaji Bulanan: USD 40.000 (Rp670 juta – Rp671 juta) untuk Herdman vs USD 60.000 (Rp1 miliar) untuk Shin Tae-yong.
- Gaji Tahunan: USD 480.000 (Rp8 miliar) untuk Herdman vs USD 720.000 (Rp12 miliar) untuk Shin Tae-yong.
- Durasi Kontrak: 2 + 2 tahun untuk Herdman vs 5 tahun untuk Shin Tae-yong.
- Fokus Proyek: Piala Dunia 2030 untuk Herdman vs Piala Dunia 2026 untuk Shin Tae-yong.
Secara angka, Herdman lebih murah sekitar Rp4 miliar per tahun dibandingkan Shin Tae-yong. Namun, PSSI memilih durasi kontrak yang fleksibel dan target jangka panjang hingga 2030. Ini bukan kebijakan hemat biasa, tetapi pergeseran strategi yang mengutamakan pembangunan sistem jangka panjang.
Prestasi dan Rekam Jejak
John Herdman memiliki rekam jejak yang sangat mengesankan. Ia adalah satu-satunya pelatih di dunia yang membawa tim nasional putra dan putri dari negara yang sama lolos ke Piala Dunia FIFA. Bersama Kanada, ia berhasil:
- Memimpin Timnas Putri melalui Piala Dunia 2007 dan 2011.
- Meraih medali perunggu Olimpiade 2012 dan 2016.
- Mengantarkan Timnas Putra Kanada lolos Piala Dunia Qatar 2022 setelah 36 tahun tanpa kehadiran.
Selain itu, banyak pemain hebat seperti Alphonso Davies, Jonathan David, dan Cyle Larin berkembang di bawah asuhannya. Inilah yang membuat PSSI yakin bahwa jika Kanada bisa, Indonesia pun memiliki peluang.
Kontroversi yang Mengintai
Namun, John Herdman bukan figur yang steril. Ia lekat dengan skandal paling serius dalam sepak bola modern: Drone-gate. Investigasi independen menyebutkan bahwa ia terlibat dalam penggunaan drone untuk memata-matai sesi latihan lawan. Praktik ini dimulai sejak era timnas putri Kanada dan berlanjut ke timnas putra sejak 2018.
Beberapa mantan staf menyebut ada tekanan struktural yang memaksa praktik ini dilakukan bahkan terhadap tim kecil seperti Saint Kitts and Nevis. Pada Maret 2025, komite disiplin memberi teguran keras resmi kepada Herdman karena dianggap merusak reputasi sepak bola dan melanggar prinsip fair play.
Performa di Toronto FC
Kontroversi makin tebal saat Herdman menangani Toronto FC di MLS. Musim 2024, performa anjlok dan proyek pembangunan ulang gagal. Tekanan media meningkat, dan pada November 2024, Herdman memilih mundur di tengah investigasi drone yang masih panas. Banyak analis MLS menilai pengunduran diri itu sebagai langkah defensif dan upaya menyelamatkan reputasi sebelum pemecatan.
Keputusan PSSI yang Berisiko
Mengapa PSSI tetap memilih Herdman? Jawabannya sederhana tapi berani: biaya lebih murah, pengalaman Piala Dunia nyata, dan fokus sistem, bukan sekadar hasil instan. PSSI sadar reputasi Herdman tidak bersih, namun federasi tampaknya yakin bahwa kontroversi terjadi di sistem lama dan lingkungan baru bisa membatasi ulang kekuasaan.
Kontrak bertahap memberi ruang evaluasi. Penghematan finansial dilakukan, tetapi secara visi, ini adalah taruhan. Secara moral, ini ujian. Herdman membawa pengalaman yang belum pernah dimiliki Indonesia, tetapi juga membawa bayangan kelam yang tak bisa dihapus hanya dengan prestasi masa lalu.
Kini Sepak Bola Indonesia Harus Menunggu
Sepak bola Indonesia kini tidak hanya menunggu hasil di lapangan, tetapi juga integritas di balik layar. Jika berhasil, PSSI akan dicatat sebagai federasi berani yang berpikir jauh. Jika gagal, keputusan ini akan dikenang sebagai kesalahan paling mahal meski bergaji murah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar