Perjalanan Nanda Dwi Asmoro dalam Bisnis Jual Beli Barang Antik
Nanda Dwi Asmoro (39), seorang guru SD asal Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, memiliki kisah sukses yang menarik. Dari seorang guru honorer, ia berhasil membangun bisnis sampingan jual beli barang antik selama hampir 10 tahun. Bisnis ini tidak hanya membantu perekonomian keluarganya, tetapi juga menjadi sumber kebanggaan bagi dirinya sendiri.
Awal Mula Bisnis
Awalnya, Nanda tidak terlalu tertarik pada bisnis jual beli barang antik. Pada awalnya, ia lebih fokus pada pekerjaannya sebagai guru olah raga di SDN Tlogo 2 Kabupaten Blitar. Namun, sejak 2015, Nanda mulai menekuni bisnis jual beli barang antik setelah bertemu dengan temannya yang merupakan penggemar barang lawasan. Dari situ, Nanda mulai tertarik untuk ikut serta dalam bisnis tersebut.
Sebelum menjalani bisnis barang antik, Nanda pernah menjual spare part sepeda motor lawas. Ia mengambil barang dari loakan dan menjualnya kembali. Saat itu, ia merasa senang dengan barang lawasan dan melihat potensi ekonomi dari bisnis ini.
Kehidupan Sehari-hari
Saat itu, Nanda masih bekerja sebagai guru honorer dengan gaji sekitar Rp 250.000 hingga Rp 300.000 per bulan. Ia menikah pada 2012, dan istri juga bekerja sebagai guru honorer. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Nanda memutuskan untuk menjalani bisnis sampingan jual beli barang antik.
Ia membagi waktu antara mengajar dan berburu barang antik. Biasanya, ia melakukan pencarian barang lawasan di sore hari setelah pulang dari mengajar. Ia mencari barang-barang seperti radio, mesin ketik, telepon, koper, kaset, kursi, dan poster dari pengepul rosokan di wilayah Blitar.
Pengelolaan Barang Antik
Barang-barang yang dibeli oleh Nanda biasanya dijual kembali dengan harga minimal Rp 100.000 per biji. Ia membersihkan barang-barang tersebut sebelum dijual. Contohnya, sebuah buku lawas berbahasa Belanda yang berisi tentang kamasutra, ia dapatkan dari sesama kolektor barang antik.
Dulu, mencari barang di rosokan masih mudah dan murah. Sekarang, barang-barang tersebut lebih sulit ditemukan dan harganya sudah meningkat. Meskipun begitu, Nanda tetap berkomitmen untuk menjalankan bisnis ini.
Pasar dan Pemasaran
Nanda memasarkan koleksi barang lawasnya melalui media sosial dan komunitas penggemar barang antik. Terkadang, ia juga ikut serta dalam pameran untuk memperluas pasar. Selain itu, banyak pelanggan yang membeli barang lawasan miliknya untuk properti kafe dengan konsep retro.
Sebelum pandemi, permintaan akan barang lawasan cukup tinggi. Pelanggan sering mencari barang seperti radio, mesin ketik, telepon, dan poster. Nanda mengatakan bahwa bisnis ini tetap dijalaninya sebagai usaha sampingan, sementara profesi utamanya sebagai guru tetap menjadi prioritas.
Kesimpulan
Kisah Nanda Dwi Asmoro menunjukkan bahwa dengan tekad dan kerja keras, seseorang bisa meraih kesuksesan dari bisnis sampingan. Dengan menjalani bisnis jual beli barang antik selama hampir 10 tahun, Nanda berhasil membantu perekonomian keluarganya. Kini, ia tidak hanya sukses dalam bidang pendidikan, tetapi juga dalam dunia bisnis.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar