Game of Thrones Netflix: Apakah Trump Hancurkan Kesepakatan Netflix-Warner Bros?

Pergeseran Kekuasaan di Dunia Hiburan

Bayangkan pagi-pagi membuka Netflix. Kopi masih panas, mata masih setengah terpejam, dan tiba-tiba---jreng---di antara Emily in Paris dan Squid Game nongol barisan judul: Game of Thrones. Harry Potter. Batman. Lengkap dengan logo merah "N" yang selama ini cuma punya Stranger Things.

Bukan, akunmu tidak diretas. Ini bukan bug. Ini adalah plot twist senilai 72 miliar dolar. Netflix sedang membeli Warner Brothers---studio yang membesarkan Hollywood sejak era film hitam-putih. Jika ini berhasil, Netflix tak lagi sekadar platform streaming. Ia akan menjadi perusahaan hiburan paling berpengaruh di dunia.

Kedengarannya seperti akhir bahagia khas Hollywood. Tapi seperti semua film besar, twist-nya justru ada di tengah cerita.

Babak I: Ketika Netflix Mengalahkan "Anak Emas" Trump

Untuk memahami kekacauannya, kita perlu lihat pohon besar bernama Warner Bros Discovery. Pohon ini punya dua cabang besar:

  • Warner Bros + HBO + HBO Max --- rumahnya GOT, The Dark Knight, Dune, Euphoria.
  • Discovery Global --- CNN, TLC, Discovery Channel, dan kawan-kawannya.

Netflix hanya mau cabang pertama: konten premium yang bisa memompa langganan. Nilai akuisisinya? 72 miliar dolar versi resmi, atau hampir 83 miliar dolar bila ditambah utang dan biaya lain. Ini bukan belanja impulsif. Melainkan shopping spree level Titanic.

Yang membuat Hollywood tercengang adalah: Netflix tidak diunggulkan. Sama sekali. Semua analis hampir yakin pemenangnya adalah Paramount--Skydance. Alasannya politis: Paramount ingin keseluruhan bisnis, tidak hanya studio film. CEO Skydance, David Ellison, adalah putra Larry Ellison---miliarder pendukung Trump. Hollywood mengira: "Ah, Trump pasti menjagokan anak sahabatnya."

Tapi secara dramatis, Netflix datang seperti underdog dalam film olahraga, menghajar dua kali dengan penawaran besar, lalu menang putaran pertama. Paramount pun panik dan menaikkan tawarannya ke 108,4 miliar dolar. Ya, angka itu sudah seperti APBN negara kecil. Drama baru saja dimulai.

Babak II: Efek ke Penonton---Apakah Ini Masa Depan atau Musibah?

Pertanyaan terbesar bagi pengguna streaming dan pemburu hiburan: "Apakah HBO Max dan Netflix bakal gabung?" Jawabannya: Tidak secara resmi, tapi kemungkinan bundle sudah dibicarakan. Satu platform super besar yang isinya hampir semua tontonan favorit. Kedengarannya enak? Mungkin. Sampai kita sadar: Ketika industri mengecil dari delapan pemain menjadi hanya dua atau tiga, harga akan naik. Selalu begitu.

Layanan streaming bisa saja kembali seperti TV kabel: mahal, ribet, dan monopolis. Lalu soal bioskop. Warner Bros punya tradisi film layar lebar. Netflix sejak lama percaya bioskop itu penting... hanya untuk piala. Artinya, jendela rilis teater pasti makin pendek. Bioskop ketar-ketir. Penulis skenario resah. Produser bingung: film mereka akan hidup atau mati di tangan algoritma.

Dan bagi Hollywood klasik, langkah ini seperti menjual "jiwa studio" pada Silicon Valley.

Babak III: Regulasi, Trump, dan Politik yang Mengacak-acak Hollywood

Amerika Serikat biasanya santai terhadap monopoli, selama tidak terlalu vulgar. Tapi bila Netflix punya Warner Bros, mereka akan menguasai 30% pasar streaming. Ini cukup besar untuk bikin regulator kepanasan. Dan suara yang paling keras justru datang dari Donald Trump sendiri. Secara mengejutkan, ia bilang: "Ini bisa jadi masalah. Mereka sudah punya pangsa besar. Saya akan terlibat dalam keputusan ini."

Biasanya Presiden AS tidak ikut komentar urusan akuisisi. Ini wewenangnya regulator. Tapi Trump---yah, Trump---mengubah proses hukum menjadi drama prime time. Apa motifnya? Banyak analis bilang ia lebih suka Paramount menang. Netflix sendiri sebenarnya sudah berusaha mendekati Gedung Putih: CEO Ted Sarandos sempat bertemu Trump November lalu. Kabarnya ia pulang dengan "kesan positif". Tapi kesan bukan keputusan. Kini semuanya kembali tidak pasti. Dan Hollywood sedang menunggu episode selanjutnya.

Babak IV: Apa Artinya untuk Masa Depan Film dan Demokrasi Budaya?

Ini bukan sekadar urusan perusahaan, tapi urusan ekosistem budaya. Jika satu perusahaan menguasai: katalog HBO, perpustakaan Warner Bros, platform streaming terbesar di dunia, maka akses publik terhadap budaya berubah. Film yang dulu diperlakukan sebagai karya seni kini direduksi menjadi "konten". Studio yang dulu membina generasi sineas kini menjadi unit dalam mesin algoritma.

Netflix memang membuka peluang baru, tetapi juga menghadirkan kekhawatiran: film yang tidak cocok dengan selera algoritma bisa dikubur dalam diam, meski berkualitas tinggi. Inilah benturan besar antara dua dunia: Hollywood lama yang percaya pada kreativitas, melawan Silicon Valley yang percaya pada efisiensi.

Kita sebagai penonton berada di tengah-tengah, menunggu siapa yang menang dan berapa harga yang harus kita bayar.

Babak Penutup: Hollywood, Kapitalisme, dan Masa Depan Hiburan

Jika ini film, kita sudah berada di menit ke-90. Ketegangan meningkat. Dua penawar saling adu uang. Presiden turun tangan. Para kreator resah. Regulator memegang tombol "approve" atau "reject". Namun, kisah ini bukan fiksi. Dan yang menentukan akhir bukan sutradara, melainkan politik, uang, dan pasar.

Apakah Netflix akan menjadi raja baru Hollywood? Ataukah Paramount mencuri kemenangan di detik terakhir? Atau regulator memutuskan semuanya terlalu berbahaya? Apa pun akhirnya, satu hal pasti: Drama Hollywood terbesar tahun ini tidak tayang di layar lebar, tapi di ruang rapat, bursa Wall Street, dan... timeline medsos kamu. Dan seperti biasa, kita---para penonton global---yang akan merasakan akibatnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan