Game yang Menyebabkan Gen Alpha Tergila-gila?

Perubahan Dalam Pola Hidup Anak-anak

Dalam beberapa tahun terakhir, kita sedang menyaksikan perubahan besar dalam cara anak-anak tumbuh. Jika dulu mereka sibuk berlari di luar rumah dan bermain dengan teman sebaya, kini banyak anak yang lebih memilih menghabiskan waktunya menatap layar bermain handphone, rebahan, hingga bermain game mulai dari game petualangan hingga simulasi sosial. Dan dari layar itu, lahirlah satu dampak yang makin sering terdengar di percakapan orang tua: brainrot.

Apa Itu Brainrot?

Fenomena ini bukan lagi sekadar istilah internet, melainkan cerminan dari pola pikir yang rusak. Anak-anak Gen Alpha tumbuh dengan otak yang terbiasa pada kecepatan, kepuasan instan, dan stimulus berlebihan. Game seperti Roblox dan Mobile Legends menjadi "guru" baru mereka, guru yang mengajarkan bahwa semua hal bisa didapat dengan cepat, tanpa usaha panjang, tanpa proses yang melelahkan.

Tidak terlalu sulit untuk melihat game meresap ke kehidupan nyata. Tugas sekolah dianggap membosankan. Belajar lima menit saja sudah terasa menyiksa. Hal ini menyebabkan anak mudah marah, frustasi, dan sulit untuk menerima penolakan. Otak yang terbiasa dengan hal instan tak mampu bertahan di dunia yang membutuhkan proses mendalam. Itulah brainrot: pelapukan kemampuan berpikir yang terjadi perlahan, tapi pasti.

Penyebab Utama Brainrot

Ironisnya, penyebab utama brainrot tidak terletak pada game, tetapi berawal dari rumah. Kebiasaan orang tua yang memberikan ponsel sebagai pereda rewel dan alat menenangkan tercepat. Anak yang diam dianggap anak baik, dan gawai menjadi solusi instan yang tak pernah dievaluasi ulang. Pada titik ini, game bukan lagi hiburan, melainkan pengasuh dadakan yang diandalkan sehari-hari.

Tidak mengherankan apabila gen-alpha tumbuh dengan daya tahan mental yang rapuh. Mereka lebih akrab dengan kemenangan virtual daripada proses nyata. Mereka hanya berambisi untuk menyelesaikan rintangan dalam hitungan menit, dan tidak tahu bagaimana bersabar menghadapi kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Semua harus cepat, mudah, dan menyenangkan. Ketika dunia nyata tidak memberi sensasi tersebut, otak mereka menolak untuk berpikir.

Pengaruh Game Online Terhadap Anak

Game online seperti Roblox yang menawarkan dunia serba instan, serta Mobile Legend yang menekankan tempo permainan yang sangat cepat, dapat membentuk persepsi keliru pada anak bahwa aktivitas di dunia nyata terlalu lambat dan tidak menarik. Kebiasaan serba instan inilah yang kemudian mengikis kemampuan otak untuk fokus hingga potensi yang seharusnya berkembang justru terhambat.

Fenomena yang kita sebut sebagai brainrot pada dasarnya merupakan hasil dari budaya instan yang telah lama ditoleransi. Game online hanya memperkuat kerusakan yang sudah berkembang sejak anak tumbuh dibersamai dengan interaksi dengan layar tanpa pendampingan orang tua. Kemampuan kognitif seperti konsentrasi, mengendalikan emosi, serta berpikir kritis yang seharusnya mereka dapatkan, perlahan tergerus karena tidak adanya pengawasan baik dari orang tua atau lingkungan sekitar yang beralasan sibuk dengan urusan lain.

Solusi Praktis Untuk Mengurangi Brainrot

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah game membuat anak menjadi brainrot, melainkan sampai kapan kita membiarkan layar mengambil alih peran kita sebagai orang tua dalam membentuk cara anak berpikir.

Semua kekhawatiran tentang brainrot tidak akan berarti jika tidak diikuti tindakan nyata. Diperlukan strategi efektif yang dapat dilakukan orang tua agar keterpaparan game lebih mendorong perkembangan kognitif daripada merusaknya. Berikut adalah beberapa solusi praktis yang dapat dilakukan:

  • Orang tua harus aktif menjadi "pengawas" game untuk anak. Pilihlah jenis game yang akan dimainkan anak dengan bijak. Perlakukan game seperti makanan. Ada "junk food" game yang boleh dinikmati sesekali untuk hiburan, ada "health food" game yang menantang otak. Orang tua perlu memastikan untuk mengutamakan game yang mengasah otak, seperti puzzle, atau jenis game lain yang memerlukan kemampuan kognitif dalam menyelesaikannya.
  • Terapkan "Digital Hygiene" yang ketat. Tetapkan batas waktu maksimal untuk bermain game. Misalnya untuk anak di atas usia 6 tahun, waktu bermain game online harus di bawah 60 menit pada hari sekolah dan kurang dari dua jam pada hari libur.
  • Hindari bermain game 1-2 jam sebelum waktu tidur.
  • Jadikan game sebagai reward setelah mengerjakan tugas atau kewajiban di dunia nyata.
  • Seimbangkan dengan kegiatan praktik nyata. Seperti membaca buku, olahraga, berjalan-jalan di lingkungan terbuka, dan lain sebagainya.
  • Konsisten dalam menerapkan aturan yang telah dibuat. Ketika orang tua konsisten, anak belajar bahwa batasan dibuat untuk membantu mereka, bukan membatasi kesenangan. Hal ini membuat mereka lebih terlatih untuk mengatur diri, mengetahui batas waktu, dan menjaga pola bermain game yang lebih terkontrol.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan