Ringkasan Berita:
- Gedung GKI Jemaat Bahtra Injil Kampung Baru Kais, Disrik Kais, Sorong Selatan, Papua Barat Daya merupakan peninggalan Belanda.
- Dibangun sejak awal masuknya Injil di wilayah Kais pada 1916, gereja tersebut berusia 109 tahun dan akan genap 110 tahun pada 4 April 2026.
- Gereja masih aktif digunakan buat beribadah jemaat dan berbagai kegiatan keagamaan.
- Berbeda dari tempat ibadah umumnya, hampir seluruh bagian bangunan gereja dibuat dari pohon sagu yang tumbuh melimpah di sekitar kampung.
nurulamin.pro, TEMINABUAN - Di Kampung Baru Kais, Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, terdapat bangunan peninggalan zaman Belanda yang masih berdiri kokoh.
Gedung tersebut adalah Gereja Kristen Injili (GKI) Jemaat Bahtra Injil Kampung Baru Kais.
Dibangun sejak awal masuknya Injil di wilayah Kais pada 1916, gereja tersebut berusia 109 tahun dan akan genap 110 tahun pada 4 April 2026 mendatang.
Rumah ibadah itu menjadi saksi sejarah awal masuknya Injil di wilayah Kais dan sekitarnya.
Hingga kini, gereja tersebut masih aktif digunakan buat beribadah jemaat dan berbagai kegiatan keagamaan.
Berbeda dari tempat ibadah umumnya, hampir seluruh bagian bangunan gereja Jemaat Bahtra Injil dibuat dari pohon sagu yang tumbuh melimpah di sekitar kampung.
Atapnya dibuat dari anyaman daun sagu, dinding menggunakan potongan pelepah sagu yang disusun di seluruh bangunan.
"Sejak zaman Belanda sampai sekarang bentuknya tidak berubah. Prinsip kami adalah menjaga, bukan mengubah, hanya memperbarui bahan yang rusak," ujar Ketua PHMJ GKI Jemaat Bahtra Injil Buce Abago kepada nurulamin.pro, Minggu (11/1/2026).
Renovasi, lanjutnya, secara manual dan bertahap, mengandalkan tenaga serta kebersamaan jemaat gereja, mulai dari pengambilan bahan, menganyam atap, hingga pemasangan.
Setiap kepala keluarga (KK) dibebankan tanggung jawab menyediakan sekitar 150 lembar anyaman daun sagu buat atap.
"Total kebutuhan atap gereja mencapai sekitar 10 ribu lembar," ucap Buce.
Menurutnya, dari jumlah kebutuhan material daun yang cukup besar, bagian pohon sagu tetap dimanfaatkan sebagai sumber pangan masyarakat, diolah menjadi sagu atau diambil ulat sagunya.
Material dari pohon sagu memiliki daya tahan cukup lama, yakni atap dan dinding mencapai 10 tahun.
"Ini pernah renovasi pada 2011, dalam rentang waktu itu, baru satu kali penggantian di 2024," kata Buce.
Ia menyatakan, Gereja Bahtra Injil di Kampung Baru Kais berdiri sebagai pengingat bahwa iman, budaya, dan alam dapat berjalan berdampingan di tengah arus modernisasi dan penggunaan material bangunan modern.
Ini menjadi identitas sekaligus kebanggaan masyarakat setempat yang terus dirawat dengan semangat gotong royong. (nurulamin.pro/astri)
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar