Liga Desa Kabupaten Pati 2025 Berakhir dengan Kritik di Media Sosial
Pelaksanaan partai puncak Liga Desa Kabupaten Pati 2025 yang digelar di Stadion Joyokusumo seharusnya menjadi momen pesta bagi para pemain sepak bola akar rumput. Namun, acara ini justru berakhir dengan gelombang kritik di media sosial. Bukan karena teknik permainan atau hasil pertandingan, melainkan karena hadiah yang diberikan kepada pemenang dinilai tidak sesuai ekspektasi publik.
Final yang Mengecewakan
Pertandingan final antara Persewo Wonorejo (Tlogowungu) melawan Persip Pohgading (Gembong) berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan Persewo. Meski demikian, rasa bahagia juara langsung meredup saat tiba saat penyerahan hadiah. Tim Persip Pohgading mengungkapkan kekecewaan karena hanya menerima piala dan dua kardus makanan ringan tanpa adanya uang pembinaan.
Menurut perwakilan tim, sebelum kompetisi dimulai, sempat ada informasi bahwa akan ada nominal uang sebagai hadiah. Namun, informasi tersebut tidak terwujud dalam realisasi. Hal ini memicu kemarahan netizen hingga muncul julukan sarkastik "Liga Chiki-chiki" di berbagai platform media sosial.

Penjelasan dari Penyelenggara
Menanggapi isu ini, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispermades) Pati, Tri Haryama, menjelaskan bahwa anggaran yang tersedia sangat terbatas. Ia menegaskan bahwa sejak awal tidak dialokasikan dana untuk hadiah berupa uang tunai. Paket makanan ringan yang diterima peserta bukanlah hadiah utama, melainkan donasi tambahan dari sponsor.
Pihak dinas menyatakan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah sebagai wadah pembinaan dan pembentukan karakter pemuda desa. Meskipun begitu, banyak yang merasa bahwa nilai sportivitas tidak sebanding dengan apresiasi yang diberikan kepada para atlet.
Tanggapan dari PSSI Pati
Di tengah sorotan tajam, Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Pati segera memberikan pernyataan resmi melalui Ketua Umumnya, Dian Dwi Budianto. PSSI Pati menegaskan bahwa Liga Desa ini bukan merupakan kompetisi resmi di bawah naungan federasi mereka. Acara ini adalah inisiatif Dispermades Pati sendiri.
Keterlibatan PSSI terbatas hanya pada penyediaan perangkat pertandingan seperti wasit atas permintaan panitia. Segala bentuk keputusan mengenai sistem kompetisi, anggaran, hingga penentuan hadiah sepenuhnya menjadi wewenang panitia penyelenggara dan bukan arahan dari PSSI Pati.

Evaluasi untuk Masa Depan
Polemik ini diharapkan menjadi evaluasi besar bagi pemerintah daerah dalam mengemas ajang olahraga di masa depan. Diperlukan kesadaran bahwa nilai sportivitas harus sejalan dengan apresiasi yang diberikan kepada para atlet daerah. Dengan demikian, kejuaraan sepak bola akar rumput dapat tetap menjadi ajang yang bermakna dan inspiratif bagi generasi muda.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar