Gen Z Lebih Miskin Daripada Generasi Sebelumnya? Fakta yang Tak Bisa Dihindari

Generasi Z dan Tantangan Finansial yang Menghadang

Dalam beberapa tahun terakhir, perdebatan mengenai kondisi finansial Generasi Z semakin sering muncul. Banyak laporan media menyebut bahwa generasi ini terlihat lebih "miskin" dibandingkan generasi sebelumnya ketika berada di usia yang sama. Namun, sebelum membahas isu ini, penting untuk memahami siapa sebenarnya Generasi Z.

Generasi Z adalah kelompok generasi yang lahir setelah generasi milenial, umumnya pada rentang akhir 1990-an hingga awal 2010-an. Mereka dikenal sebagai generasi yang sejak awal kehidupannya sudah akrab dengan teknologi digital, internet, dan media sosial. Kehidupan mereka dipenuhi oleh inovasi dan perubahan cepat, yang juga turut memengaruhi pola hidup dan kebiasaan finansial mereka.

Di media sosial, keluhan tentang sulitnya membeli rumah, harga kebutuhan yang makin tinggi, atau gaji yang tidak sebanding dengan biaya hidup menjadi topik yang terus berulang. Pertanyaannya, apakah ini sekadar keluhan generasi muda, atau ada masalah yang lebih mendasar?

Data dari Bank of America yang dikutip CNBC Indonesia (2025) memberi gambaran yang cukup tegas, bahwa pendapatan Gen Z usia 22 sampai 24 tahun berada jauh di bawah pendapatan milenial ketika mereka berada di rentang usia serupa. Sementara itu, berbagai analisis ekonomi dan data resmi memperlihatkan tren serupa mengenai perkembangan harga rumah di Indonesia. Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia mencatat bahwa harga properti residensial di pasar primer tumbuh sebanyak 0,84 persen secara tahunan (year on year) pada triwulan III 2025.

Meskipun pertumbuhannya tergolong terbatas, angka ini menunjukkan bahwa harga rumah masih naik dibanding tahun sebelumnya, dan terus mencatat tren kenaikan meskipun tidak sebesar pada periode sebelumnya. Penjualan rumah tipe menengah dan besar bahkan menunjukkan penurunan dalam volume penjualan, namun harga tetap tumbuh positif.

Pertumbuhan harga rumah ini memiliki arti bahwa akses terhadap rumah masih menjadi beban ekonomi yang nyata bagi masyarakat muda. Data BI menunjukkan bahwa tren kenaikan harga masih terjadi meskipun secara persentase bulanan menjadi lebih rendah. Dengan kenaikan nilai yang tidak kecil secara akumulatif dari tahun ke tahun, membuat Gen Z semakin dituntut akan pendapatan yang jauh lebih besar jika ingin mencapainya. Hal ini masuk akal jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, di mana harga relatif lebih rendah. Gen Z akhirnya memiliki peluang jauh lebih kecil untuk membeli rumah secepat generasi sebelumnya.

Sering kali muncul juga anggapan bahwa Gen Z tidak stabil secara finansial karena mereka boros, suka self reward, terlalu sering beli kopi mahal, atau lebih memprioritaskan gaya hidup ketimbang investasi. Argumen ini terdengar logis, tetapi ketika diuji, ia tidak cukup kuat. Penelitian Deloitte dalam Global Gen Z and Millennial Survey (2025) justru menunjukkan bahwa Gen Z di berbagai negara memiliki kecenderungan menabung lebih tinggi daripada milenial pada usia yang sama. Mereka memiliki kesadaran finansial yang relatif baik dan memahami pentingnya dana darurat, investasi, serta pengelolaan uang. Masalahnya bukan pada perilaku seorang individu, melainkan pada struktur ekonomi yang berubah secara drastis.

Setelah pandemi, banyak wilayah mengalami kenaikan biaya hidup yang signifikan. Harga bahan pokok naik, biaya kesehatan meningkat, dan harga transportasi melonjak. Di saat yang sama, pasar kerja berubah cepat. Banyak pekerjaan tetap berubah menjadi kontrak jangka pendek, freelance, atau berbasis proyek. Ekonomi digital memang membuka peluang baru, tetapi juga menghadirkan ketidakpastian. Pekerjaan fleksibel sering kali berarti pendapatan tidak stabil, tidak ada tunjangan kesehatan, dan tidak ada peningkatan gaji yang jelas. Studi McKinsey (2023) menjelaskan bahwa ekonomi global kini cenderung menuju bentuk pekerjaan yang tidak sepenuhnya permanen. Hal ini membuat generasi muda lebih rentan terhadap risiko finansial.

Adapun pola konsumsi baru yang terbentuk akibat perkembangan teknologi. Pengeluaran kecil seperti langganan aplikasi, layanan pesan antar, biaya cloud storage, atau mikrotransaksi dalam permainan online. Memang tampak sepele, tetapi jika dikumpulkan setiap bulan dan setiap tahun, jumlahnya cukup besar. Namun, menyebut Gen Z lebih miskin karena dianggap boros adalah kesimpulan yang terlalu sederhana.

Sebagian orang mungkin mengatakan, “Zaman dulu juga susah. Tapi orang tua kita di usia 20-an bisa beli tanah, bangun rumah, dan hidup mapan.” Pernyataan ini memang benar secara anekdot, tetapi tidak mempertimbangkan perbedaan konteks ekonomi. Pada era orang tua atau milenial awal bekerja, harga tanah dan rumah masih masuk akal. Gaji pegawai baru di tahun 1990-an atau awal 2000-an meski tidak besar, tetapi memiliki daya beli tinggi karena inflasi belum seagresif sekarang. Selain itu, kompetisi kerja belum sepadat sekarang, dan industri belum banyak terdisrupsi teknologi.

Jika dibandingkan, posisi awal Gen Z jauh lebih sulit. Mereka tidak hanya menghadapi inflasi, tetapi juga perubahan bentuk pekerjaan, kompetisi global yang makin ketat, dan tingginya biaya pendidikan. Bahkan untuk mendapatkan pekerjaan entry-level, banyak perusahaan kini mengharuskan keterampilan digital yang kompleks, padahal tidak semua institusi pendidikan menyiapkannya.

Jadi, apakah Gen Z lebih miskin dari generasi sebelumnya? Jika definisinya adalah kemampuan membeli aset, stabilitas pendapatan, dan peluang membangun kekayaan di awal karier, jawabannya adalah iya, mereka berada dalam posisi yang lebih berat. Tetapi bukan karena mereka malas atau tidak bisa mengatur uang, melainkan karena kondisi ekonominya memang lebih mahal, lebih cepat berubah, dan lebih tidak stabil.

Meski begitu, keadaan ini bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan di berbagai level. Pemerintah dapat memperkuat program perumahan terjangkau, memastikan kenaikan upah minimum mengikuti inflasi riil, dan memberikan perlindungan sosial bagi pekerja ekonomi digital. Dunia pendidikan juga perlu menyesuaikan kurikulum agar lebih selaras dengan keterampilan yang dibutuhkan industri modern. Gen Z sendiri dapat memperbesar literasi finansial mereka, memahami investasi jangka panjang, manajemen risiko, dan strategi pendapatan yang tidak hanya mengandalkan satu sumber saja.

Pada akhirnya, perdebatan tentang apakah Gen Z lebih miskin atau tidak sering kali terjebak pada penyalahgunaan stereotip. Padahal yang perlu dilihat bukan sekadar angka pendapatan atau gaya hidup, tetapi perubahan struktur ekonomi global yang memengaruhi seluruh generasi. Gen Z bukan generasi yang gagal. Mereka adalah generasi yang sedang berjalan di jalur yang jauh lebih terjal daripada yang dilalui generasi sebelumnya.

Di tengah perubahan zaman yang cepat, tantangan finansial Gen Z adalah cermin dari pergeseran ekonomi Indonesia dan dunia. Jika ekosistem kebijakan, pendidikan, dan industri bergerak bersama, kesenjangan antar generasi dapat dipersempit. Jika tidak, dampaknya bukan hanya dirasakan Gen Z, tetapi seluruh masa depan ekonomi negara.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan