
Pekerjaan yang Jarang Disorot, Tapi Berdampak Besar
Di tengah stigma dan jarak emosional yang sering mengelilingi pekerjaan perias jenazah, Gloria Elsa Hutasoit (42) telah menjadikannya sebagai bagian dari hidupnya sejak masa remaja. Ia bekerja di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, menerima panggilan dari rumah sakit, rumah duka, atau langsung dari keluarga mendiang. Tidak ada ritme pasti maupun jadwal rutin dalam pekerjaannya.
“Saya tidak bekerja sama dengan banyak rumah sakit atau rumah duka, jadi sehari itu tidak pasti. Kadang ramai, kadang sepi,” katanya. Dalam dunia pekerjaan yang jarang disorot ini, Gloria menautkan pekerjaannya yang ditekuni sejak 2016 bukan hanya pada aspek teknis kecantikan, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan. Ia meyakini setiap jenazah berhak mendapatkan persiapan terakhir yang layak.
Awal Mula Keterlibatan dalam Dunia Merias Jenazah
Ketertarikan Gloria pada rias jenazah muncul bukan hanya dari minat pribadi. Ibunya adalah seorang perawat di rumah sakit sekaligus aktif dalam pelayanan gereja untuk memandikan jenazah. Pengalaman pertama Gloria merias jenazah terjadi saat tantenya yang bekerja sebagai pemulung meninggal dunia pada 2001. Peristiwa itu meninggalkan kesan mendalam baginya.
“Di situ saya tergerak. Saya merasa pengantin Tuhan berhak dipersiapkan dengan layak di hari terakhirnya,” kenangnya. Sejak saat itu, ia mulai sering ikut ibunya dalam pelayanan pemulasaraan. Dari satu pengalaman ke pengalaman lain, ia mulai memahami sisi teknis sekaligus emosional dari pekerjaan tersebut.
Tantangan Teknis dalam Merias Jenazah
Meski sama-sama menggunakan alat kosmetik dan teknik dasar yang mirip dengan merias orang hidup, tantangan merias jenazah jauh lebih besar. Gloria menggambarkannya sebagai “merias di atas kaca”. Struktur kulit jenazah cenderung sudah keras dan kering, sehingga produk makeup sulit menempel. Warna kulit pun sering berubah.
Salah satu tahap paling menantang adalah ketika ia harus menutup luka atau lebam. Kondisi tertentu seperti jenazah yang telah lama meninggal, perbedaan penyimpanan suhu, atau riwayat medis membuat beberapa bagian kulit berubah warna menjadi menghitam atau menguning. Dalam beberapa kasus, ia menggunakan kapas, lem khusus, hingga foundation padat berlapis.
Emosi yang Dijaga, Tetapi Tetap Hadir
Selain tantangan teknis, sisi emosional pekerjaan ini juga tidak ringan. Seorang perias jenazah hampir selalu berhadapan dengan keluarga yang tengah berduka, mulai dari yang masih syok hingga yang dipenuhi penyesalan. Meski demikian, Gloria menekankan pentingnya menjaga batas emosional.
“Kami sudah terlatih untuk boleh simpati, tapi tidak boleh empati,” katanya. Empati yang terlalu dalam dinilai bisa mengganggu fokus dan membuat proses rias tidak optimal. Gloria mengatakan, ia harus bekerja dengan ketenangan dan konsentrasi penuh.
Profesi Langka yang Dipahami sebagai “Panggilan”
Menurut Rakhmat Hidayat, sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), profesi perias jenazah bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah sebuah panggilan atau calling. Menurut dia, semakin langka sebuah profesi, semakin tinggi nilai sosialnya. Dalam masyarakat perkotaan yang cenderung mengejar pekerjaan formal, bergaji tetap, dan berorientasi komersial, perias jenazah hadir sebagai antitesis.
Budaya Kematian: Masih Jauh dari Transformasi
Rakhmat menilai penggunaan jasa perias jenazah profesional di Indonesia sebenarnya mulai meningkat, tetapi masih terbatas di kalangan menengah ke atas. Ia menyebut transformasi budaya kematian di Indonesia belum berkembang secara signifikan. Berbeda dengan beberapa negara Eropa, di mana makam menjadi bagian dari ruang publik, tempat orang berjalan, duduk, bahkan melakukan wisata religi.
Pengalaman Menggunakan Jasa Perias Jenazah
Cristiene Maria (38), warga Jakarta Barat, pernah menggunakan jasa perias jenazah untuk ibunya. Meskipun bukan Gloria yang merias, pengalaman Cristiene memberikan gambaran penting tentang nilai profesi ini. Ibunya meninggal mendadak akibat serangan jantung. Dalam kondisi panik, keluarga memutuskan mencari jasa perias jenazah profesional.
Proses berjalan rapi dan cepat, mulai dari membersihkan wajah, merapikan rambut, hingga menggunakan makeup tipis untuk menutupi pucat dan lebam. Hasil riasan sang perias membuat keluarga lega. “Wajah Ibu terlihat damai, seperti sedang tidur. Itu sangat membantu kami menerima keadaan,” ucapnya.
Mengabdi pada Kemanusiaan di Ruang Sunyi
Dari kisah Gloria, analisis sosiolog, hingga pengalaman keluarga pengguna jasa, terlihat bahwa peran perias jenazah jauh lebih besar daripada sekadar pekerjaan teknis. Gloria sendiri tetap menjalani profesi ini sebagai sebuah panggilan, bukan sekadar mata pencaharian. Di dunia yang terus berubah, pekerjaan seperti yang dilakukan Gloria mungkin jarang disorot. Namun keberadaannya menjadi tiang kecil yang menopang ritus kemanusiaan—memastikan bahwa, di penghujung kehidupan, setiap orang tetap dihargai.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar