Pendekatan Langsung untuk Menjembatani Kepemimpinan dan Rakyat
Bupati Jember, Muhammad Fawait, merasa bahwa jarak antara rakyat dengan pemimpinnya selama ini terlalu jauh. Hal ini seringkali menyebabkan masalah-masalah yang muncul di tingkat bawah tidak segera ditangani, sehingga berlarut-larut dan tidak terselesaikan. Untuk mengatasi hal tersebut, ia memilih blusukan sebagai solusi nyata.
Sejak dilantik delapan bulan lalu, Bupati yang akrab disapa Gus Fawait ini memutuskan untuk menjalankan program turun ke desa. Dalam wawancara dengan Tim Ekspedisi aiotrade beberapa waktu lalu, setelah bertemu dengan Ketua RT/RW di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, ia menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mendekatkan diri dengan masyarakat.
Selama kepemimpinannya yang belum genap setahun, ada dua program utama yang digagas oleh Gus Fawait untuk menyerap aspirasi langsung dari masyarakat, yaitu Guse Menyapa dan Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desaku). Program-program ini sering membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu di akar rumput ketimbang di balik meja kantor. Dalam satu hari saja, ia bisa mengunjungi hingga 18 titik.
Selain itu, Gus Fawait juga memberi ruang bagi aspirasi rakyat yang tidak dapat ia temui secara langsung. Salah satunya adalah melalui hotline 24 jam bernama Wadul Guse. Setiap harinya, ratusan aduan masuk. Ia menegaskan bahwa tingkat penyelesaian aduan tersebut mencapai di atas 80 persen.
Mendengarkan Keluhan dan Memberikan Solusi
Pada kunjungan ke Kecamatan Bangsalsari, Gus Fawait bertemu dengan berbagai kelompok masyarakat, seperti RT/RW, kader Posyandu, tokoh agama, petani, komunitas perempuan, hingga pelajar. Lokasi tersebut merupakan titik ke-16 yang dikunjungi dalam sehari. Masih ada beberapa titik lain yang akan ia kunjungi pada malam hari.
Keluhan dibuka tanpa formalitas. Masyarakat bisa langsung menyampaikan berbagai persoalan, mulai dari layanan KTP berbayar, antrean Puskesmas yang panjang, bantuan pemerintah, hingga kondisi infrastruktur desa. Beberapa aduan langsung ditangani di tempat, dengan memanggil kepala dinas terkait untuk memberikan penjelasan atau solusi cepat.
"Kalau kami bisa memberikan solusi, kami langsung memberikan solusi. Kalau kami perlu menanyakan atau berkoordinasi dulu karena bukan langsung wewenang kami, kami minta waktu," ujar Gus Fawait.
Ia yakin bahwa pelayanan publik yang cepat dan tepat hanya bisa terwujud jika pemimpin hadir di tengah rakyatnya.
Interaksi Hangat dengan Warga
Gaya blusukan yang dilakukan oleh Gus Fawait berlangsung hangat dan jauh dari kesan eksklusif. Warga berebut bersalaman, meminta swafoto, bahkan ada yang gemas mencubit lengannya. Gus Fawait menanggapi dengan tawa.
"Saking mereka senangnya bertemu dengan pemimpinnya," ucap dia.
Di balik intensitas blusukan yang tinggi, ia berharap budaya pemerintahan yang lebih responsif dapat tumbuh di Jember.
Anak Desa yang Mengakar
Gus Fawait menyebut kedekatan ini lahir secara alami dari pengalamannya tumbuh di desa. Sebagai sosok pemimpin muda berusia 37 tahun, ia menegaskan identitasnya sebagai anak desa tidak dapat dilepaskan. Bahkan, ia ingin mempersembahkan hal tersebut kembali dengan cara bermanfaat bagi tanah kelahirannya.
Salah satunya adalah dengan mendengar lebih banyak aspirasi rakyat Jember agar bisa memberikan solusi. "Dan saya berharap waktu saya mengabdi hari ini, mudah-mudahan saya bisa memperlancar tanah kelahiran saya," ujar Gus Fawait.
Dengan terus membuka ruang dialog dan memastikan setiap suara memiliki tempat, Gus Fawait ingin menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan, melainkan tentang merawat kepercayaan rakyat melalui kerja yang nyata.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar