Perdebatan Soal Sahnya Pleno PBNU dan Kepemimpinan Gus Yahya
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau dikenal sebagai Gus Yahya, menegaskan bahwa Pj Ketua Umum yang dihasilkan dari pleno di Hotel Sultan pada Selasa (9/12/2015) malam tidak sah. Hal ini disampaikannya setelah menghadiri acara di kantor PBNU, Jakarta, Selasa.
Menurut Gus Yahya, pelaksanaan pleno tersebut tidak sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PBNU. Ia menyatakan bahwa jika pleno itu sendiri tidak sah, maka keputusan tentang Pj Ketua Umum juga tidak bisa dianggap sah. “Kalau plenonya enggak sah itu... masa ya (Pj ketum--Red) bisa dianggap sah, gitu lo,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa dalam tubuh PBNU tidak mungkin ada dua ketua umum. “Ndak mungkin ada dua,” tegasnya. Menurut Gus Yahya, posisi ketua umum hanya bisa diubah melalui muktamar yang dilakukan sesuai dengan AD/ART. “Apa pun keinginan orang untuk menghentikan saya tanpa muktamar, tanpa permusyawaratan tertinggi, itu tidak mungkin bisa dieksekusi karena bertentangan dengan AD/ART dan melawan hukum,” tambahnya.
Persyaratan Pleno yang Tidak Terpenuhi
Gus Yahya menyinggung bahwa rapat pleno di Hotel Sultan tidak memenuhi syarat pelaksanaan pleno. Menurut dia, pleno tidak bisa hanya diadakan oleh jajaran Syuriyah secara mandiri, melainkan harus melibatkan jajaran Tanfidziyah. “Yang mengundang hanya Syuriyah, ini ndak bisa, karena harus, pleno itu harus diundang oleh Syuriyah dan Tanfidziyah,” lanjutnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa dirinya sebagai ketua umum yang sah tidak dilibatkan dalam proses pleno tersebut. “Dua, tidak melibatkan saya sebagai ketua umum yang sah,” sambungnya.
Penolakan Mayoritas Fungsionaris PBNU
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU, Amin Said Husni, mengeklaim bahwa mayoritas fungsionaris PBNU menolak wacana pemakzulan ketua umum. Mereka menyatakan patuh pada seruan Forum Sesepuh dan Mustasyar NU yang mengimbau agar konflik organisasi dihentikan dan diselesaikan.
“Mayoritas pengurus tetap loyal kepada dawuh kiai sepuh,” ujar Amin di Jakarta, Selasa. Sebelumnya, Forum Sesepuh dan Mustasyar yang berkumpul di Pesantren Tebuireng, pada 6 Desember, menegaskan bahwa keputusan Rapat Harian Syuriah untuk memakzulkan Ketua Umum tidak sah karena bertentangan dengan AD/ART NU.
Amin menyebut penolakan mayoritas pengurus tercermin dalam Rapat Pleno PBNU di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa malam. Dari total 216 anggota pleno yang seharusnya hadir, hanya 58 orang yang datang, sekitar 26 persen, jauh dari batas minimum kuorum.
Dari data yang diperolehnya, unsur Mustasyar hanya dihadiri 2 dari 29 orang, Syuriah 20 dari 53 orang, Tanfidziyah 22 dari 62 orang, dan A'wan 7 dari 40 orang. Dari Lembaga PBNU hanya hadir 5 dari 18 lembaga, sementara Badan Otonom (Banom) hanya 2 dari 14 Banom.
“Artinya, lebih dari tiga perempat anggota memilih tidak datang, sebuah sinyal kuat bahwa langkah pemakzulan tidak mendapat dukungan luas di internal PBNU,” kata dia.
Tanggapan Syuriyah
Dalam kesempatan terpisah, Rais Syuriyah PBNU, Mohammad Nuh, menyatakan bahwa rapat pleno PBNU dengan agenda pemilihan Pj ketua umum PBNU di Hotel Sultan, pada Selasa malam, sudah sah. “Rapat Pleno tadi malam itu sah sesuai dengan AD/ART dan Perkum Nomor 10 Tahun 2025. Dari jumlah kehadirannya pun juga sah,” kata Nuh di Hotel Sultan, Rabu (10/12/2025).
Nuh mengungkapkan bahwa sesuai AD/ART, rapat disebut kuorum jika memenuhi batas minimal 50 persen plus 1 persen. Namun, jika tidak memenuhi batas minimal tersebut, maka rapat ditunda 30 menit. Namun, tanpa perlu ditunda, rapat pleno yang berlangsung kemarin sudah memenuhi kuorum sejak awal.
“Nah, alhamdulillah, kita nggak pakai tunda karena dari awal sudah melebihi dari 50 plus satu, yaitu 55,39. Daftarnya ada, komplet. Oleh karena itu, kalau dinyatakan tidak kuorum, saya kira data yang akan berbicara,” ucap Nuh.
Dia menambahkan bahwa rapat dapat berlangsung selama memenuhi kuorum, dengan kehadiran Syuriyah PBNU, Tanfidziyah PBNU, hingga Mustasyar, dan A'wan. “Nah, yang hadir kemarin, baik dari Tanfidziyah juga hadir, buktinya sudah, Tanfidziyah beliau (Gus Saifullah Yusuf) hadir, Syuriyah juga hadir,” ucap Nuh, sembari menunjuk Saifullah Yusuf.
“Masa Gus Ipul enggak legitimate?” sambungnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar