
nurulamin.pro,
JAKARTA - Penyakit gusi tidak hanya memengaruhi kesehatan mulut, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan kesehatan ibu hamil, janin, hingga risiko penyakit sistemik seperti diabetes, jantung, dan stroke.
Guru Besar Ilmu Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Amaliya, menjelaskan bahwa pada wanita hamil, janin memperoleh nutrisi dan oksigen melalui plasenta yang sangat bergantung pada kondisi pembuluh darah yang sehat.
“Jika sebelum atau selama kehamilan, ibu mengalami peradangan gusi, tubuh akan melepaskan mediator inflamasi atau sinyal peradangan,” paparnya.
Gusi yang meradang tidak hanya menunjukkan kemerahan dan perdarahan, tetapi juga mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh bahwa sedang terjadi inflamasi. Ketika sinyal ini mencapai plasenta, pembuluh darah bisa mengalami penyempitan. Akibatnya, suplai nutrisi dan oksigen ke janin berkurang. Kondisi ini dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, yaitu di bawah 2,5 kilogram.
Selain itu, sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara penyakit gusi dengan kelahiran prematur, yakni kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu. Sinyal inflamasi dari gusi dapat memicu kontraksi rahim lebih awal sehingga bayi lahir sebelum waktunya.
Tak hanya berdampak pada kehamilan, penyakit gusi juga berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit tidak menular. Dicky Levenus Tahapary, dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mengatakan bahwa penyakit jantung dan stroke pada dasarnya dipicu oleh peradangan kronis derajat rendah yang berlangsung dalam jangka panjang.
Selama ini kita mengenal faktor risikonya seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan obesitas. Namun, banyak penelitian terbaru menunjukkan bahwa infeksi kronis, termasuk dari rongga mulut dan gusi, juga berkontribusi meningkatkan peradangan sistemik.
"Bakteri dari gusi yang meradang bisa masuk ke aliran darah dan memperburuk kondisi pembuluh darah," katanya.
Pada penderita diabetes, hubungan penyakit gusi bersifat dua arah. Diabetes meningkatkan risiko terjadinya penyakit gusi, sementara infeksi gusi dapat mempersulit pengendalian kadar gula darah. Risiko keparahan penyakit gusi pada diabetes tipe 2 bahkan bisa meningkat hingga tiga kali lipat.
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa semua penyakit bersifat multifaktor. Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula risiko terjadinya komplikasi. Oleh karena itu, pengelolaan kesehatan harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya mengendalikan penyakit utama seperti diabetes atau hipertensi, tetapi juga mengatasi sumber infeksi kronis seperti penyakit gusi.
Adapun penyakit gusi menjadi salah satu isu kesehatan global yang kian mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan pada 2050 sekitar 1,5 miliar penduduk dunia akan menderita penyakit gusi berat atau periodontitis, sementara 660 juta orang lainnya berisiko kehilangan gigi.
Data Global Burden of Disease Study 2021 juga menunjukkan bahwa Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Vietnam, termasuk wilayah dengan tingkat prevalensi periodontitis tertinggi di dunia, dengan penambahan sekitar 6,6 juta kasus baru.
Sementara itu di Indonesia, persoalan gigi dan gusi masih menjadi salah satu keluhan utama masyarakat. Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Elvieda Sariwati, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis yang telah menjangkau 63,5 juta penduduk, masalah gigi masuk dalam lima besar temuan terbanyak di seluruh kelompok usia.
“Artinya, satu dari dua orang yang mengikuti cek kesehatan gratis mengalami gangguan gigi dan mulut,” ujarnya.
Keluhan yang muncul pun beragam, mulai dari gigi berlubang, gigi tanggal, gigi goyang, hingga gangguan pada gusi. Jumlah kasus tersebut cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, yang mengindikasikan bahwa masalah ini telah berlangsung dalam jangka waktu lama.
Kondisi ini sangat berdampak terhadap produktivitas masyarakat dan menimbulkan kerugian ekonomi yang masif. WHO memperhitungkan, beban kerugian produktivitas akibat masalah gigi dan mulut di Indonesia termasuk penyakit gusi, yakni mencapai USD3.213 juta atau Rp53,3 triliun per tahun.
Total pengeluaran negara untuk pelayanan kesehatan gigi dan mulut tercatat sudah mencapai USD267 juta atau Rp4,46 triliun per tahun. Namun di sisi lain pengeluaran per tahun masyarakat Indonesia untuk perawatan gigi dan mulut ternyata hanya USD1 atau Rp16.600 per kapita.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar