H3N2 Ditemukan di Jatim, Dokter: Bukan Flu Biasa


SURABAYA, nurulamin.pro
- Munculnya laporan influenza A (H3N2) subclade K di Jawa Timur memicu kekhawatiran masyarakat, yang beredar di media sosial dengan istilah "superflu". Para ahli menegaskan penyakit ini berbeda dari selesma atau batuk pilek umum.

Kepala Divisi Penyakit Infeksi dan Tropik Anak KSM Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr Soetomo/FK Unair, Dr. Dominicus Husada, SpA(K), menjelaskan bahwa masyarakat kerap keliru memahami istilah flu.
"Ini penyakit influenza, bukan batuk pilek yang banyak di masyarakat. Yang di masyarakat itu selesma. Penyebab selesma bukan virus influenza," ujarnya kepada nurulamin.pro, Sabtu (3/1/2026) sore.

Karakteristik Superflu

Dominicus mengungkapkan, influenza disebabkan oleh virus influenza yang memiliki kemampuan mutasi sangat cepat, sehingga penyebarannya sulit dikendalikan.
"Kali ini tipe yang banyak beredar adalah H3N2 dengan subclade K. Ini seperti Omicron dalam hal kecepatan penyebaran. Namun memang agak jinak dan jarang bikin mati," kata Dominicus.
Ia menambahkan, lonjakan kasus influenza pada musim ini terjadi di berbagai negara maju, termasuk Indonesia.
Namun, data yang terdeteksi masih terbatas karena keterbatasan fasilitas laboratorium.
"Namun Indonesia tak punya lab yang cukup sehingga yang diketahui hanya 62," imbuhnya.

Kelompok Rentan dan Pencegahan

Dominicus Husada juga menegaskan, influenza H3N2 tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi semua kelompok usia berpotensi terinfeksi dengan tingkat keparahan yang berbeda.
"Korban anak banyak juga. Paling berat itu lansia atau yang dengan komorbid," kata Dominicus Husada.
Sebagai langkah pencegahan penularan, ia menyarankan penerapan kebiasaan yang sudah akrab sejak masa pandemi Covid-19.
"Seperti covid. Cuci tangan, masker, jauhi kerumunan. Ada vaksinnya, meski tidak di jalur pemerintah," sambungnya.
Vaksin influenza belum masuk program vaksinasi nasional, namun tersedia secara mandiri dan dapat menjadi perlindungan tambahan, terutama bagi kelompok rentan.

Pernyataan Menteri Kesehatan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, influenza A (H3N2) subclade K bukanlah virus baru dan tidak memiliki tingkat fatalitas seperti Covid-19 atau tuberkulosis.
Ia menjelaskan, di negara-negara dengan empat musim, lonjakan influenza terjadi hampir setiap musim dingin sehingga vaksin flu diberikan secara rutin setiap tahun.
Meskipun demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat.
"Kalau immune system kita bagus, itu kita bisa mengatasi sendiri tubuh kita karunia Tuhan ini luar biasa. Ini udah ada tentaranya sendiri yang ngelawan virus-virus itu," ujar Budi.

Data Kasus dan Pengawasan Nasional

Juru bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati, menyatakan bahwa berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), subclade K tidak menunjukkan peningkatan keparahan dibandingkan klade atau subclade lainnya.
"Gejala umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri tenggorokan," katanya.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A (H3N2) di delapan provinsi.
Jawa Timur menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, disusul Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.
Pemerintah memastikan seluruh varian yang ditemukan telah dikenal secara global dan terus dipantau melalui sistem surveilans WHO.
Surveilans dan pelaporan akan terus diperkuat seiring perkembangan situasi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan