Hadiah Dopaminergik pada Perilaku Kecanduan Konsumsi Manis

Koneksi antara Dopamin dan Konsumsi Gula

Seringkali kita menginginkan asupan makanan manis sebagai reward atau sumber kekuatan ketika menghadapi sebuah permasalahan hidup. Banyak dari kita yang tergoda untuk mencari makanan manis saat merasakan berbagai emosi, mulai dari emosi positif seperti perasaan gembira, perayaan, atau perasaan cinta, hingga suasana hati yang tidak kita inginkan, seperti frustasi, rasa cemas, kekhawatiran, dan lain sebagainya. Sebenarnya makanan manis yang kita anggap sebagai mekanisme penghargaan pada diri sendiri ini terhubung dengan otak!

Apa yang Berlangsung di Otak Ketika Sistem Reward Dopaminergik Ini Terjadi?

Ternyata otak merespons rangsangan yang menyenangkan ketika sistem penghargaan dopaminergik aktif. Misalnya, ketika kita makan sesuatu yang manis, VTA menerima sinyal rasa. Kemudian VTA akan mengirimkan dopamin ke NAc, yaitu area otak yang menentukan apakah sesuatu terasa seperti sebuah penghargaan diri. Level dopamin meningkat ketika kita merasa puas atau bahagia, dan otak secara alami mencatat bahwa pengalaman tersebut layak untuk dinikmati. Di daerah lain, seperti OFC, membantu menentukan seberapa layak atau menyenangkan makanan tersebut, sementara insula merangsang perasaan lapar atau kebutuhan untuk lebih banyak.

PFC, area otak yang bertanggung jawab atas pengendalian diri, akan menerima pesan-pesan ini. Namun, jika aktivitas reward terus berlanjut, jalur dopamin menjadi lebih dominan dan membuat PFC lebih sulit untuk menahan dorongan untuk makan lagi, terutama karena manusia sering mengonsumsi makanan manis. Otak mungkin menjadi lebih sensitif terhadap makanan manis dan mulai mengurangi respons dopamin tipikalnya, sehingga kita membutuhkan lebih banyak untuk merasakan tingkat kepuasan yang sama atau bahkan lebih. Hal ini dapat menyebabkan kebiasaan seperti makan berlebihan atau keinginan berulang, dan pada akhirnya, kita kesulitan untuk berhenti mengonsumsi makanan manis.

Kenapa Pola Perilaku Adiktif dalam Konsumsi Makanan Manis Bisa Terjadi?

Otak secara otomatis akan memberikan kita reward setiap kali kita mengonsumsi makanan manis, kebiasaan ini dapat dibandingkan dengan perilaku adiktif. Dopamin, yaitu jenis neurotransmitter yang membantu kita merasa puas dan bahagia, kemudian dilepaskan sebagai respons terhadap rasa manis. Semakin sering hal ini terjadi, keinginan untuk mengulanginya akan semakin kuat. Tubuh akhirnya membutuhkan lebih banyak kelezatan untuk mencapai efek yang sama, yang memperkuat keinginan dan membuatnya lebih sulit untuk ditolak. Dengan kata lain, makanan manis sangat sulit untuk ditolak karena rasanya yang menggugah selera, peningkatan mood yang signifikan yang ditawarkannya, dan reaksi dopamin yang berulang.

Dampak Jangka Panjang Paparan Dopamin Berlebih dari Makanan Manis

Sistem penghargaan otak dapat menjadi tidak seimbang akibat paparan dopamin yang meningkat akibat konsumsi makanan manis secara berulang. Awalnya, setiap kali kita mengonsumsi makanan manis, dopamin dilepaskan untuk membuat kita merasa senang. Namun, jika hal ini terjadi secara berulang, otak mulai menyesuaikan diri dengan menjadi kurang sensitif terhadap dopamin. Akibatnya, untuk mencapai tingkat kepuasan yang sama, seseorang harus mengonsumsi lebih banyak makanan manis. Situasi ini mirip dengan proses toleransi dalam perilaku adiktif. Perubahan-perubahan ini pada akhirnya dapat mengganggu kemampuan otak untuk mengatur impuls, terutama di daerah otak yang mengendalikan penilaian dan pengendalian diri. Jika dibiarkan tanpa pengawasan, kecenderungan ini dapat menyebabkan kebiasaan makan yang tidak terkendali seperti makan berlebihan atau makan berlebihan secara berulang, serta meningkatkan risiko masalah kesehatan termasuk obesitas dan penyakit metabolik.

Upaya Mengurangi Perilaku Adiktif dalam Konsumsi Makanan Manis

Mengurangi perilaku adiktif terhadap konsumsi makanan manis dapat dilakukan dengan langkah-langkah sederhana, namun konsisten. Salah satu metode yang efektif adalah mengurangi frekuensi dan porsi konsumsi gula secara bertahap agar otak tidak terpengaruh oleh tingkat dopamin yang sangat tinggi. Kita bisa mengurangi kebiasaan memakan camilan manis dengan makanan yang lebih sehat, seperti buah-buahan ataupun makanan rendah kalori lainnya. Kita tidak harus langsung menghentikan memakan camilan manis, namun kita bisa mengaturnya untuk kapan waktunya makan makanan manis, dan kapan waktunya harus memakan makanan sehat. Selain menjaga pola makan, bisa juga melakukan aktivitas seperti olahraga ringan, minum air putih yang cukup, ataupun melakukan hobi untuk mengalihkan kebiasaan memakan makanan manis ketika menghadapi segala emosi. Dengan begitu, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, pola adiktif terhadap makanan manis perlahan akan berkurang, dan emosi yang kita alami-pun bisa tetap stabil.

Kesimpulan

Kemampuan otak untuk memproses sensasi kenyamanan dan penghargaan diri sangat erat kaitannya dengan kecenderungan untuk mencari makanan manis, bukan hanya sekadar rasa. Sistem penghargaan dopaminergik aktif saat kita mengonsumsi makanan manis, yang menghasilkan kenikmatan yang diharapkan. Aktivitas ini melibatkan berbagai area otak, seperti VTA, NAc, OFC, insula, dan PFC, yang semakin terlibat dalam munculnya rasa puas, menentukan waktu terbaik untuk mengonsumsi makanan tersebut, memuaskan keinginan, dan mengurangi makan impulsif. Jika otak terus-menerus terpapar dopamin dari makanan manis, otak mungkin mulai menyesuaikan diri dengan menjadi kurang sensitif terhadap dopamin. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan asupan, keinginan yang kuat, dan bahkan tanda-tanda perilaku adiktif. Seiring waktu, kondisi ini dapat menyebabkan kebiasaan makan yang kompulsif dan meningkatkan risiko masalah kesehatan.

Kecanduan terhadap makanan manis, bagaimanapun, bukanlah hal yang tak teratasi. Kecenderungan ini dapat dikurangi secara bertahap dengan upaya sederhana seperti mengurangi konsumsi gula, mengganti dengan pilihan yang lebih sehat, dan mengendalikan emosi dengan cara lain selain makan. Kebiasaan makan menjadi lebih teratur sebagai hasil dari sistem penghargaan otak yang seimbang kembali melalui pendekatan yang konsisten. Pada akhirnya, memahami bagaimana otak bekerja saat kita menyukai makanan manis memberi kita kesempatan besar untuk mengontrol pola makan kita dengan cara yang lebih bijaksana, sehat, dan teratur.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan