Halaman Masjid Jadi Pelabuhan Perahu, Dua Masjid di Pembantanan Sungaitabuk Banjar Libur Jumatan

Halaman Masjid Jadi Pelabuhan Perahu, Dua Masjid di Pembantanan Sungaitabuk Banjar Libur Jumatan

Banjir di Desa Pembantanan dan Pekauman Ulu, Warga Terus Berjuang

Genangan air setinggi paha orang dewasa kini merendam kawasan Jalan Kali Martapura, Desa Pembantanan, Sungaitabuk, Kabupaten Banjar. Halaman Masjid Al Ittihadul Khairat yang biasanya dipenuhi anak-anak bermain, kini berubah menjadi jalur perahu. Jumat (2/1), masjid berkubah biru itu tampak dikelilingi air. Tiang-tiang serambi terendam, sementara akses menuju bangunan hanya bisa dilalui dengan berjalan di air atau menggunakan perahu kecil.

Di dalam masjid, air menggenangi lantai ruang utama. Banjir yang meningkat sejak lima hari terakhir memaksa aktivitas salat Jumat, kemarin diliburkan. Warga diarahkan menunaikan ibadah di masjid lain yang tidak terdampak. Sani, warga setempat, menyebut ketinggian air kali ini menjadi yang terparah sejak banjir besar lima tahun lalu. “Ini yang paling parah setelah 2021. Kami khawatir kejadian itu terulang,” ujarnya.

Untuk menjaga agar masjid tetap digunakan, warga menyusun papan kayu membentuk apar-apar sederhana. Namun upaya itu hanya memungkinkan untuk ibadah dalam jumlah terbatas. “Paling cuma tiga sampai empat orang. Itu pun cuma untuk salat Magrib. Asal masjid tetap diisi, disalati setiap hari,” kata Sani. Ia sendiri memutuskan tidak mengungsi dan tetap tinggal di rumah. Ia membuat apar-apar di dalam rumah agar tetap bisa beraktivitas. “Papan beli sekitar Rp1,5 juta,” katanya.

Senada diungkapkan Rasyad. Pengalaman banjir besar 2021 masih membekas kuat baginya. Saat itu, air bertahan lama dan melumpuhkan hampir seluruh aktivitas warga. Kenangan itulah yang kini kembali menghantui ketika air terus meninggi hari demi hari.

Terpisah, Erwansyah, warga setempat menjelaskan ada dua masjid di Desa Pembatanan, yang meliburkan Jumatan. “Pertama di Masjid Al Ittihadul Khairat Pembantanan RT 2, Sungaitabuk. Serta di Masjid Syuhada RT 7 Desa Pembatanan yang ketinggian air mencapai 15 hingga 20 sentimeter di dalam masjid,” urai Erwansyah.

Situasi di Desa Pekauman Ulu

Sementara di Desa Pekauman Ulu, Kecamatan Martapura Timur, hingga memasuki pekan kedua, air belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Ketinggian air rata-rata mencapai lebih dari setengah meter dan merendam akses jalan desa hingga masuk ke rumah warga. Kepala Desa Pekauman Ulu, Bima Dwi Satriya, menjelaskan bahwa ketinggian air di ruas jalan utama desa rata-rata mencapai sekitar 30 sentimeter, sementara di dalam gang bisa mencapai 80 sentimeter.

Menurutnya, sekitar 85 persen wilayah permukiman warga saat ini terendam banjir. Dari hasil pendataan terakhir, tercatat sekitar 590 rumah dan sekitar 2.000 jiwa terdampak. “Sebagian besar warga memilih bertahan. Kalau pun mengungsi, biasanya hanya ke tempat yang lebih tinggi di sekitar sini. Pemerintah kecamatan sebenarnya sudah membuka tempat pengungsian, tetapi warga kebanyakan memilih tetap tinggal karena alasan keamanan dan kebersamaan,” ujar Bima.

Menurutnya, warga sudah terbiasa menghadapi banjir tahunan dan rata-rata telah menyiapkan perlengkapan sendiri untuk bertahan, seperti alas atau panggung di dalam rumah.

Dampak Kesehatan dan Bantuan

Terpisah, salah satu warga, Ahmad Rojali, sudah satu minggu ini mengalami banjir dan kakinya terserang kutu air. Karena itu dia datang ke posko kesehatan yang datang memberikan bantuan. “Sudah satu minggu ini. Makanya kami minta salep agar kaki tidak makin parah kena kutu air,” jelasnya. Bukan hanya Ahmad Rojali, tapi rata-rata warga termasuk ibu-ibu yang datang ke pos kesehatan diberikan salep kutu air dan obatan-obatan serta pengecekan kesehatan gratis dari layanan salah satu rumah sakit swasta di Banjar, yakni RS Pelita Insani.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Banjar, Yayan Daryanto, SHut, menyampaikan mereka terus memantau kondisi di lapangan dan memastikan kelompok rentan mendapat perhatian khusus. Saat ini tercatat 4.196 jiwa mengungsi, baik di pengungsian maupun di rumah kerabat.

Ketidakpuasan Warga atas Bantuan

Sementara, warga Desa Abumbun Jaya, Sungaitabuk, mengaku belum mendapatkan bantuan meski lahan dan rumah telah terendam banjir. “Belum. Sembako atau bantuan sosial pun tidak ada. Bukan mengharap, tapi namanya bencana banjir biasanya kan ada (bantuan),” kata Salam warga setempat.

Warga seperti dipaksa pasrah dengan keadaan, mulai dari rumah yang terendam, lahan yang tenggelam, hingga kandang ternak yang terdampak. Seorang warga bernama Saimun tampak memantau kandang ternaknya yang berada di belakang rumah. Dua ekor sapi terlihat masih menikmati rumput, sementara area kandang mulai tertutup air. Kandang tersebut memang dibuat dengan lantai tinggi di dalamnya. Namun, dalam kondisi musim penghujan, Saimun khawatir ketinggian air akan semakin naik.

Warga disebutkan telah mengungsi di gedung sekolah, bertepatan dengan masa libur sekolah. Namun, mereka mulai memikirkan kembali ke mana akan mengungsi bila sekolah sudah memasuki kalender akademik. Lokasi desa ini berada sekitar 2 km ke dalam dari jalan raya, namun sebagian lahan dari kejauhan sudah memperlihatkan kondisi genangan bak danau luas membentang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan