Ringkasan Berita:
- Sebanyak 60 siswa SD Uhaimate, Desa Uhaimate, Kalukku, Mamuju, terpaksa menuntut ilmu di sekolah dengan fasilitas jauh dari layak, termasuk ruang kelas darurat dan bangunan permanen rusak berat.
- Atap bocor dan lantai tanah membuat kelas berlumpur dan becek saat musim hujan, mengganggu konsentrasi siswa. Selama 16 tahun, sekolah belum menerima perbaikan berarti dari pemerintah.
- Guru dan pihak sekolah berharap pemerintah Kabupaten Mamuju dan Provinsi Sulbar segera menyalurkan renovasi total
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Sebanyak 60 siswa di SD Uhaimate, Desa Uhaimate, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) terpaksa belajar di tengah fasilitas sekolah yang jauh dari kata layak.
Kondisi memprihatinkan ini telah berlangsung selama 16 tahun, terhitung sejak 2010 hingga 2026, tanpa adanya perbaikan berarti dari pemerintah.
Jarak pusat pemerintahan Kabupaten Mamuju dengan sekolah ini hanya 50 kilometer.
Atau bisa ditempuh dengan waktu 1,15 jam menggunakan motor dan 1,25 jam dengan mobil.
Sekolah ini memiliki total enam ruang kelas untuk menunjang aktivitas belajar mengajar.
Namun, kondisi seluruh ruangan tersebut sangat jauh dari standar keamanan dan kenyamanan.
Tiga ruang kelas merupakan bangunan darurat yang hanya dibangun dengan material seadanya.
Dari video diterima Tribun-Sulbar.com, bangunan sekolah itu hanya berdinding papan yang sudah lapuk.
Bahkan dindingnya sudah mulai bocor, sementara lantainya hanya berupa tanah tanpa lapisan semen atau keramik.
Kondisinya sangat memperhatinkan karena ruangan sudah mirip kandang atau gudang penyimpanan barang.
Sementara tiga ruangan lainnya yang berstatus bangunan permanen kini dalam kondisi rusak berat dan sangat membutuhkan renovasi total.
"Kondisinya sangat memprihatinkan. Sejak 2010 sampai sekarang belum pernah ada perubahan. Siswa tidak nyaman, apalagi kalau hujan," ujar salah seorang guru yang meminta identitasnya dirahasiakan, Senin (12/1/2026).
Berlumpur dan Becek saat Musim Hujan
Ruang kelas di SD Uhaimate lebih menyerupai gudang daripada tempat menuntut ilmu.
Atap yang keropos membuat air hujan masuk tanpa penghalang, membasahi meja dan kursi kayu yang mulai melapuk.
Karena tidak memiliki lantai semen yang utuh, rembesan air hujan mengubah lantai kelas menjadi tanah berlumpur dan becek.
"Kelas langsung kebanjiran dan lumpur masuk. Siswa harus menggeser bangku untuk mencari tempat yang kering agar tetap bisa menulis. Ini sangat mengganggu konsentrasi mereka," lanjutnya.
Meski sudah 16 tahun bertahan dalam kondisi darurat, bantuan renovasi dari Pemerintah Kabupaten Mamuju maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat tak kunjung terealisasi.
Pihak sekolah berharap melalui unggahan foto dan video ini, pemangku kebijakan dapat segera bertindak.
"Kami sangat berharap pemerintah memperhatikan kami. Ada 60 lebih anak-anak yang belajar di sini, mereka adalah masa depan daerah yang juga berhak mendapatkan fasilitas layak," pungkas sang guru.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Suandi
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar