Kondisi Kebutuhan Pokok dan Energi di Aceh Pasca-Bencana

Di tengah situasi bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sebagian besar wilayah Aceh, harga-harga barang kebutuhan utama masyarakat mengalami kenaikan tajam. Hal ini terjadi karena dampak dari kerusakan infrastruktur dan gangguan distribusi pasokan. Beberapa kebutuhan pangan seperti telur dan protein lainnya melonjak hingga 100 persen, sementara ketersediaan energi seperti bahan bakar minyak (BBM) juga menjadi sulit diperoleh meskipun pasokannya masih ada.
Kebutuhan Penerangan yang Mendesak
Salah satu relawan kemanusiaan di Banda Aceh, Rahmiana Rahman, menyampaikan bahwa kebutuhan penerangan saat ini menjadi prioritas utama. Ia menjelaskan bahwa listrik belum sepenuhnya pulih meskipun cuaca sudah mulai cerah. “Alhamdulillah dalam beberapa hari ini, tidak lagi hujan dan cerah. Tetapi listrik masih belum menyala,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Listrik yang tidak stabil ini memiliki dampak signifikan pada akses air bersih. Masyarakat di Aceh mengandalkan air dari sumur bor yang menggunakan pompa listrik. Tanpa pasokan listrik, akses ke air bersih menjadi terganggu. Sementara itu, saluran PAM juga tidak dapat diandalkan karena masih berlumpur.
Lonjakan Harga Barang Pokok
Menurut Rahmiana, lonjakan harga barang pokok memang terjadi meskipun stok barang tidak langka. Contohnya, harga telur melonjak hingga 100 persen. Pada Senin (1/12/2025), harga telur mencapai Rp 110 ribu per papan yang isinya sekitar 25 butir. “Itu kenaikannya seratus persen. Hari ini (2/12/2025) kita belum cek, karena masih ada beberapa stok untuk kebutuhan,” ujar dia.
Selain telur, harga ikan yang tidak segar di pasar mencapai Rp 70-an ribu per kilogram. Pedagang cabai juga menaikkan harga jual antara Rp 80 sampai 100 ribu per kilogram. “Itukan naiknya lebih dari seratus persen, karena harga biasanya cuma 30-an ribu,” kata Rahmiana.
Sementara itu, beras dengan kualitas biasa dijual dengan harga Rp 260 ribu per sak. Bahkan, kue-kue basah yang biasanya dijual Rp 1 ribu per unit kini dijual Rp 3 ribu.
Keterbatasan BBM
Meski semua pom bensin tetap beroperasi, antrean panjang membuat masyarakat kesulitan mendapatkan BBM. “Pom-pom bensin tetap buka. Karena Pertamina sudah bilang stoknya aman. Tetapi, untuk bisa isi bensin, atau solar itu antreannya bisa tiga jam lebih,” ujar Rahmiana. Ia juga menyebutkan bahwa pedagang bensin eceran tidak memiliki stok jual.
Bantuan Mendesak di Aceh Tamiang
Rahmiana juga menyampaikan kebutuhan mendesak di Aceh Tamiang. Akses ke wilayah tersebut terputus akibat bencana, sehingga masyarakat di Desa Baling Karang belum menerima bantuan. “Mereka sudah berhari-hari bertahan dan belum ada bantuan yang sampai ke sana, karena jalan ke sana tidak bisa dilalui,” ujarnya.
Wilayah tersebut terdapat lebih dari 63 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 150-an warga yang terisolasi. “Kalau ada bantuan paling bagus kalau lewat udara. Karena jalan darat, benar-benar terputus ke wilayah itu,” tambah Rahmiana.
Masalah Pengambilan Bantuan Secara Paksa
Di jalur darat antara Langsa dan Aceh Tamiang, banyak warga mulai berseliweran di jalanan untuk menyetop mobil-mobil relawan yang membawa bantuan demi mendapatkan stok pangan. “Kalau penjarahan memang tidak ada. Cuma memang di Langsa-Aceh Tamiang, itu masyarakat sudah mulai menyetop mobil-mobil relawan yang membawa bantuan untuk mengambil sendiri bantuan-bantuan,” ujarnya.
Rahmiana menilai bahwa gejala seperti ini wajar terjadi di daerah yang terkena bencana. Namun, ia berharap masyarakat yang terkena bencana juga memahami bahwa ada warga-warga lain yang juga membutuhkan bantuan serupa.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar