
Perubahan Harga BBM Non-Subsidi di Kalimantan Tengah
Pada awal bulan Desember 2025, PT Pertamina melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi. Kenaikan ini berlaku untuk berbagai jenis BBM yang tidak termasuk dalam kategori subsidi, seperti Pertamax dan Pertamax Turbo. Namun, dua jenis BBM subsidi yaitu Pertalite dan Solar tetap dipertahankan harganya.
Di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya di Palangka Raya, harga BBM non-subsidi mengalami penyesuaian. Berikut adalah daftar harga BBM Pertamina hari ini:
Daftar Harga BBM Pertamina di Beberapa Wilayah
Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat
- Pertamax: Rp13.050/liter
- Pertamax Turbo: Rp14.050/liter
- Dexlite: Rp15.000/liter
- Pertamina Dex: Rp15.300/liter
Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau (non-FTZ), Kalimantan Selatan
- Pertamax: Rp13.350/liter
- Pertamax Turbo: Rp14.350/liter
- Dexlite: Rp15.300/liter
- Pertamina Dex: Rp15.600/liter
DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur
- Pertamax: Rp12.750/liter
- Pertamax Turbo: Rp13.750/liter
- Pertamax Green 95: Rp13.500/liter
- Dexlite: Rp14.700/liter
- Pertamina Dex: Rp15.000/liter
Free Trade Zone (FTZ) Sabang
- Pertamax: Rp12.050/liter
- Dexlite: Rp13.750/liter
Free Trade Zone (FTZ) Batam
- Pertamax: Rp12.250/liter
- Pertamax Turbo: Rp13.100/liter
- Dexlite: Rp13.950/liter
- Pertamina Dex: Rp14.300/liter
Maluku, Maluku Utara, Papua Selatan, Papua Pegunungan, Papua Tengah
- Pertamax: Rp13.050/liter
- Dexlite: Rp15.000/liter
Papua
- Pertamax: Rp13.050/liter
- Pertamax Turbo: Rp14.050/liter
- Dexlite: Rp15.000/liter
Papua Barat
- Pertamax: Rp13.050/liter
- Dexlite: Rp15.000/liter
- Pertamina Dex: Rp15.300/liter
Papua Barat Daya
- Pertamax: Rp13.050/liter
- Dexlite: Rp15.000/liter
- Pertamina Dex: Rp15.300/liter
Dampak Kenaikan Harga BBM
Menurut Suherman Juhari, pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya, kenaikan harga BBM non-subsidi dapat memengaruhi biaya logistik dan distribusi barang. Di Kalteng, sebagian besar transportasi masih bergantung pada jalan darat, sehingga distribusi antar kabupaten/kota menjadi lebih mahal. Hal ini berpotensi meningkatkan harga kebutuhan pokok seperti beras, gula, telur, dan produk hortikultura.
Selain itu, biaya operasional jasa dan industri kecil yang menggunakan kendaraan harian juga ikut meningkat. Meski Pertalite dan Solar tidak naik, beberapa pedagang tetap menyesuaikan harga karena sebagian transportasi masih menggunakan BBM non-subsidi.
Respons Masyarakat dan Pelaku Usaha
Dalam respons masyarakat, kenaikan harga BBM dinilai masih bisa ditolerir. Ridho, seorang driver ojek online (ojol) di Palangka Raya, menyatakan bahwa tambahan biaya bensin hanya sekitar Rp1.000–2.000 per hari. Ia mengatakan bahwa pengeluaran bensin sehari-hari sekitar Rp50.000, sehingga kenaikan ini terasa ringan.
Ridho biasanya menempuh 20–30 trip sehari. Meski potongan admin platform mencapai 20 persen, tambahan biaya bensin dianggap masih ringan. “Kalau naik cuma segitu, masih bisa ditolerir,” ujarnya.
Langkah Menghadapi Kenaikan BBM
Untuk menghadapi dampak kenaikan BBM, masyarakat disarankan mengatur pengeluaran dan fokus pada kebutuhan pokok. Pelaku UMKM bisa melakukan efisiensi bahan baku dan mengatur jadwal distribusi agar biaya logistik tetap terkendali. Pemerintah daerah juga perlu memperkuat operasi pasar murah, mempercepat distribusi bantuan pangan, dan mendampingi UMKM agar distribusi barang tetap lancar.
Koordinasi dengan pelaku logistik menjadi kunci agar rantai pasok tetap efisien. Dengan langkah-langkah ini, dampak kenaikan BBM non-subsidi bisa diminimalkan, distribusi barang tetap lancar, dan daya beli masyarakat terjaga menjelang akhir tahun.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar