Kondisi Darurat di Aceh Akibat Banjir Bandang dan Tanah Longsor

Di tengah situasi kebencanaan yang melanda sebagian besar wilayah Aceh, harga-harga barang kebutuhan utama masyarakat mengalami kenaikan signifikan. Hal ini terjadi akibat banjir bandang dan tanah longsor yang merusak infrastruktur dan mengganggu pasokan barang.
Lonjakan Harga Pangan dan Energi
Beberapa kebutuhan pangan seperti telur dan protein lainnya melonjak hingga 100 persen. Meskipun stok barang masih tersedia, harga yang diberikan oleh pedagang meningkat drastis. Contohnya, harga telur mencapai Rp 150-200 ribu per papan, dengan isi sekitar 30 butir. Harga ikan yang tidak segar juga meningkat menjadi Rp 70 ribu per kilogram, sedangkan cabai dijual antara Rp 80 sampai 100 ribu per kilogram. Harga beras biasa pun naik menjadi Rp 260 ribu per sak.
Selain itu, ketersediaan energi seperti bahan bakar minyak (BBM) juga sulit didapat. Meskipun pom bensin tetap beroperasi, antrian panjang membuat masyarakat kesulitan mendapatkan BBM. Antrean bisa mencapai tiga jam lebih. Pedagang bensin eceran juga tidak memiliki stok jual.
Masalah Listrik dan Akses Air Bersih
Listrik menjadi masalah serius karena tidak stabil. Bahkan ketika menyala, hanya beberapa jam saja sebelum mati kembali. Kondisi ini memengaruhi akses ke air bersih, karena banyak warga mengandalkan sumur bor dengan mesin pompa yang membutuhkan listrik. Sementara itu, air dari saluran PAM tidak dapat diandalkan karena masih berlumpur.
Kebutuhan Mendesak di Aceh Tamiang
Rahmiana Rahman, seorang relawan kemanusiaan di Banda Aceh, menyoroti kebutuhan mendesak di Aceh Tamiang. Wilayah tersebut terisolasi akibat akses terputus, sehingga masyarakat di Desa Baling Karang belum menerima bantuan. Lebih dari 63 Kepala Keluarga atau sekitar 150-an warga terisolasi dan membutuhkan bantuan segera.
Akses udara dianggap sebagai solusi terbaik untuk mengirimkan bantuan ke wilayah tersebut. Namun, jalur darat antara Langsa dan Aceh Tamiang tidak dapat diandalkan karena banyak warga yang menyetop mobil-mobil relawan demi mendapatkan bantuan sendiri. Meskipun penjarahan tidak terjadi, kondisi ini menunjukkan tingginya permintaan akan bantuan.
Tanggung Jawab Masyarakat Terhadap Sesama
Rahmiana mengatakan bahwa gejala masyarakat di wilayah kebencanaan adalah wajar. Namun, ia menekankan pentingnya kesadaran bahwa ada warga-warga lain yang juga membutuhkan bantuan. Dengan demikian, semua pihak harus bekerja sama untuk memastikan distribusi bantuan yang adil dan merata.
Dalam situasi darurat seperti ini, kerja sama antara pemerintah, relawan, dan masyarakat sangat penting untuk mengatasi dampak bencana secara efektif.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar