
berita, JAKARTA Harga minyak mengalami penurunan hampir 2% karena perhatian pasar kembali teralihkan pada pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina serta meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Menurut laporan yang diterbitkan oleh Reuters pada Jumat (12/12/2025), harga minyak berjangka jenis Brent turun sebesar US$1,18 atau 1,9% menjadi US$61,03 per barel, mendekati level terendah sejak 21 Oktober. Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan sebesar US$1,14 atau 1,95% menjadi US$57,32 per barel, yang merupakan angka terendah dalam lebih dari dua pekan terakhir.
"Ada sedikit dukungan harga setelah kabar serangan drone. Namun tampaknya ada perkembangan menuju jalur perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Itu menghapus sentimen positif dari pasar," ujar Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyatakan bahwa kunjungan utusan AS Steve Witkoff ke Moskow bulan ini telah menyelesaikan sejumlah kesalahpahaman antara kedua negara. Lavrov menambahkan bahwa Moskow telah menyerahkan proposal jaminan keamanan kolektif kepada Washington.
Sehari sebelumnya, harga minyak sempat menguat setelah AS mengumumkan penyitaan sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela, memicu kekhawatiran bahwa tensi yang meningkat antara kedua negara dapat mengganggu pasokan.
Hingga saat ini, penyitaan tersebut belum berdampak langsung pada pasar, tetapi eskalasi lebih lanjut dapat memicu volatilitas harga minyak yang tajam, ujar Emril Jamil, analis minyak senior LSEG. Menurutnya, pasar masih menunggu perkembangan pembicaraan damai antara Rusia dan Ukraina.
Diskon Tajam untuk Minyak Venezuela
Pada Rabu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa pihaknya telah menyita sebuah kapal tanker besar di pantai Venezuela, kapal terbesar yang pernah disita. Namun, Trump tidak menjelaskan nama kapal tersebut.
Grup manajemen risiko maritim Inggris, Vanguard, menyebut kapal bernama Skipper diyakini sebagai kapal yang disita. Para pedagang dan pelaku industri menyatakan bahwa pembeli Asia kini meminta diskon besar untuk minyak mentah Venezuela, tertekan oleh meningkatnya pasokan minyak berstatus sanksi dari Rusia dan Iran, serta tingginya risiko pemuatan di Venezuela seiring bertambahnya kehadiran militer AS di Karibia.
Investor juga memantau perkembangan terbaru proses perdamaian RusiaUkraina. Para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman melakukan panggilan dengan Trump untuk membahas upaya terbaru Washington mengakhiri perang, yang mereka sebut sebagai momen kritis.
Sementara itu, sumber dari Dinas Keamanan Ukraina mengatakan kepada Reuters bahwa drone Ukraina untuk pertama kalinya menyerang rig minyak milik Rusia di Laut Kaspia, menghentikan operasi ekstraksi minyak dan gas di fasilitas tersebut.
Proyeksi Pertumbuhan Minyak Global
Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026, dan sekaligus memangkas proyeksi pertumbuhan pasokan dalam laporan bulanan terbarunya. Hal ini mengindikasikan surplus yang sedikit lebih sempit tahun depan.
OPEC dalam laporan bulanannya pada Kamis mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2025 dan 2026.
Dari indikator ekonomi, Federal Reserve yang terbelah tajam memutuskan memangkas suku bunga acuannya, seraya memberi sinyal kemungkinan jeda pemangkasan lebih lanjut. Suku bunga yang lebih rendah dapat menekan biaya pinjaman konsumen, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan permintaan minyak.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar