
aiotrade,
JAKARTA — Harga minyak dunia mengalami penurunan setelah Irak mengumumkan pemulihan produksi di salah satu ladang minyak terbesarnya. Ladang ini berkontribusi sekitar 0,5% dari pasokan minyak global.
Menurut laporan yang diterbitkan pada Selasa (9/12/2025), harga minyak jenis Brent turun sebesar US$1,07 atau 1,68% menjadi US$62,68 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah sebesar US$1,01 atau 1,68% menjadi US$59,07 per barel.
Dua pejabat energi Irak menyatakan bahwa negara tersebut telah kembali memproduksi minyak di ladang West Qurna 2, yang dikelola oleh Lukoil. Pemulihan produksi ini dilakukan setelah kebocoran pipa ekspor sebelumnya mengurangi volume produksi.
Sebelumnya, harga minyak sempat mengalami penurunan setelah sumber menyebut bahwa Irak menghentikan sementara operasi di ladang tersebut, yang mampu memproduksi sekitar 460.000 barel per hari.
Baik kontrak Brent maupun WTI sebelumnya ditutup pada level tertinggi sejak 18 November pada akhir perdagangan Jumat.
"Jika dalam waktu dekat tercapai kesepakatan terkait Ukraina, maka ekspor minyak Rusia kemungkinan meningkat dan menekan harga minyak," ujar Tamas Varga, analis pasar minyak dari PVM.
Di sisi lain, pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 84% untuk pemangkasan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin selama rapat yang berlangsung Selasa hingga Rabu, berdasarkan data LSEG.
Namun, beberapa komentar dari pejabat bank sentral menunjukkan bahwa rapat kali ini berpotensi menjadi yang paling alot dalam beberapa tahun terakhir, sehingga meningkatkan perhatian investor terhadap arah kebijakan moneter.
Perkembangan pembicaraan damai Ukraina masih berjalan lambat, dengan perbedaan pandangan terkait jaminan keamanan bagi Kyiv serta status wilayah yang diduduki Rusia belum menemui titik temu. Meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong tercapainya kesepakatan sesegera mungkin.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Senin juga menggelar pertemuan dengan para pemimpin Eropa di London.
Analis ANZ menilai berbagai skenario hasil negosiasi terbaru Trump dapat memicu perubahan pasokan minyak global lebih dari 2 juta barel per hari.
Aegis Hedging mencatat setiap premi risiko geopolitik akan berhadapan dengan sinyal surplus pasokan global yang meningkat, seiring kenaikan suplai dari negara anggota OPEC+ dan non-OPEC melampaui pertumbuhan permintaan yang relatif moderat.
Analis Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar menyebut tercapainya gencatan senjata menjadi risiko utama penurunan harga minyak. Sebaliknya, kerusakan berkelanjutan pada infrastruktur minyak Rusia menjadi risiko kenaikan harga yang signifikan.
Pada saat yang sama, negara-negara G7 dan Uni Eropa disebut tengah membahas rencana menggantikan kebijakan batas harga minyak Rusia dengan larangan penuh layanan maritim, yang berpotensi semakin menekan pasokan dari produsen minyak terbesar kedua dunia itu.
Amerika Serikat juga meningkatkan tekanan terhadap anggota OPEC Venezuela, termasuk melakukan serangan terhadap kapal yang dituding terlibat penyelundupan narkoba ilegal serta wacana aksi militer untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.
Di Asia, kilang independen China meningkatkan pembelian minyak Iran yang terkena sanksi dari fasilitas penyimpanan darat memanfaatkan kuota impor baru, sehingga membantu meredakan kelebihan pasokan.
Sementara itu, jajak pendapat pendahuluan Reuters menunjukkan stok minyak mentah AS diperkirakan turun pekan lalu, namun persediaan bensin dan distilat diproyeksikan mengalami peningkatan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar