
Harga Perak Mengalami Lonjakan Tajam pada Tahun 2025
Pada tahun 2025, harga perak mencatat lonjakan tajam dan menjadi logam mulia dengan kinerja paling agresif. Dalam satu tahun, perak menguat lebih dari 140 persen dan menembus rekor harga tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan ini terjadi dalam kondisi pasar global yang sedang menghadapi berbagai tekanan, seperti perlambatan ekonomi dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Situasi tersebut mendorong investor untuk memburu aset lindung nilai, tidak hanya emas tetapi juga perak.
Menurut laporan Yahoo Finance, harga perak berjangka pada Desember 2025 telah melampaui level 70 dolar AS per troy ons. Angka ini mencerminkan kenaikan sekitar 143 persen sejak awal tahun, jauh di atas laju kenaikan emas dalam periode yang sama. Meskipun emas masih mencetak rekor, pada 22 Desember 2025, harga emas berjangka menyentuh 4.480,60 dolar AS per troy ons. Namun, secara tahunan, penguatan emas tercatat sekitar 71 persen, tertinggal dari pergerakan perak yang lebih eksplosif.
Perak Mengejar Ketertinggalan dari Emas
Lonjakan perak tidak terjadi tanpa pola. Wakil Presiden dan Manajer Portofolio Orrell Capital Management sekaligus OCM Gold Fund, Steven Orrell, menilai fenomena ini sejalan dengan sejarah pasar logam mulia. “Secara historis, selama pasar bullish logam mulia, perak biasanya tertinggal dari emas dan kemudian mengalami lonjakan besar, seperti yang kita lihat saat ini,” ujar Orrell, dikutip dari Yahoo Finance.
Ia menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir perak bergerak lebih lambat dibanding emas. Namun, ketertinggalan tersebut akhirnya terbayar lewat lonjakan tajam dalam waktu relatif singkat.
Rasio Emas-Perak Menyempit Tajam
Pergerakan agresif perak tercermin dari rasio emas-perak. Pada April 2025, rasio ini masih berada di kisaran 104 banding 1. Artinya, dibutuhkan 104 ons perak untuk menyamai harga satu ons emas. Menjelang akhir tahun, rasio tersebut menyempit ke sekitar 64 banding 1. Penyempitan ini menunjukkan perak menguat lebih cepat dibanding emas, sekaligus menandakan perubahan preferensi investor.
Didorong Inflasi dan Kebutuhan Industri
Dari sisi investasi, ekspektasi inflasi membuat investor menambah kepemilikan logam mulia. Perak ikut diuntungkan karena harganya lebih terjangkau dibanding emas, sehingga mudah diakses investor ritel. “Perak juga dikenal sebagai ‘emas orang kecil’ karena harganya lebih terjangkau untuk mendapatkan eksposur ke logam mulia,” kata Orrell.
Selain faktor investasi, perak memiliki peran penting di sektor industri. Logam ini banyak digunakan pada elektronik, energi terbarukan, hingga panel surya. Penurunan suku bunga global turut memperkuat prospek pembiayaan proyek-proyek industri yang membutuhkan perak.
Risiko Tetap Perlu Diperhitungkan
Meski kinerjanya impresif, perak dikenal lebih volatil dibanding emas. Likuiditasnya juga lebih rendah, sehingga risiko fluktuasi harga dalam jangka pendek lebih tinggi. Investor dapat berinvestasi perak melalui berbagai instrumen, mulai dari ETF, kontrak berjangka, saham tambang, hingga aset fisik seperti batangan dan koin. Penyesuaian dengan tujuan investasi dan profil risiko tetap menjadi kunci sebelum masuk ke pasar logam mulia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar