
Prediksi Kenaikan Harga Smartphone Flagship pada Tahun 2026
Harga smartphone kelas flagship diperkirakan akan mengalami kenaikan signifikan pada tahun 2026. Hal ini terjadi karena naiknya biaya komponen utama seperti memori dan RAM, yang menjadi faktor utama dalam meningkatkan harga ponsel pintar. Tren ini diprediksi akan memengaruhi strategi harga peluncuran model-model terbaru dari sejumlah merek besar, termasuk Xiaomi, Samsung, dan Apple.
Xiaomi diperkirakan menjadi yang pertama terdampak kenaikan harga di antara produsen besar. Model flagship terbarunya, Xiaomi 17 Ultra, yang dijadwalkan rilis awal 2026, dilaporkan memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan seri sebelumnya. Sebagai contoh, model sebelumnya, Xiaomi 15 Ultra, dibanderol dengan harga 6.499 yuan atau setara Rp15,4 juta dengan kurs saat ini. Namun, untuk Xiaomi 17 Ultra yang akan dirilis, harganya diprediksi sebesar 6.599 yuan atau setara Rp15,7 juta.
Presiden Xiaomi Group, Lu Weibing, bahkan mengisyaratkan bahwa harga bisa lebih tinggi lagi. Dalam siaran langsung baru-baru ini, ia menjelaskan bahwa kenaikan biaya memori yang pesat menjadi alasan utama di balik kenaikan harga tersebut. Menurutnya, permintaan yang didorong oleh AI telah menyebabkan harga memori naik tajam sejak akhir 2022, kemudian 2025, dan diperkirakan berlanjut hingga 2027.
Pengaruh Kenaikan Harga Komponen Terhadap Industri Ponsel
Menurut riset dari Counterpoint, harga jual rata-rata smartphone bisa melonjak 6,9% pada tahun depan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya chip dan hambatan dalam rantai pasokan semikonduktor, yang mendorong kenaikan harga komponen.
Direktur riset di Counterpoint, MS Hwang, menyatakan bahwa segmen smartphone kelas menengah dan atas mengalami kenaikan biaya material sebesar 10% hingga 15%. Ia juga menyebutkan bahwa harga memori bisa naik lagi sebesar 40% hingga kuartal kedua tahun 2026, yang mengakibatkan biaya BoM (Bill of Materials) meningkat antara 8% hingga lebih dari 15% di atas level tinggi saat ini.
Kenaikan harga komponen dapat dibebankan kepada konsumen, dan hal itu pada gilirannya akan mendorong kenaikan harga jual rata-rata. "Apple dan Samsung berada di posisi terbaik untuk melewati beberapa kuartal mendatang," ujar Hwang.
Dampak pada Produsen Ponsel Asal China
Kendati demikian, Hwang mengatakan akan sulit bagi perusahaan lain yang tidak memiliki banyak ruang gerak untuk mengelola pangsa pasar dibandingkan margin keuntungan. Kondisi ini sangat berdampak pada produsen ponsel pintar asal China yang berada di segmen pasar menengah hingga bawah.
Berdasarkan riset Counterpoint, beberapa perusahaan mungkin akan menurunkan kualitas komponen seperti modul kamera, layar, dan bahkan audio, serta menggunakan kembali komponen lama. Para pemain smartphone kemungkinan akan mencoba memberi insentif kepada konsumen untuk membeli perangkat flagship mereka.
Strategi yang Dipertimbangkan oleh Merek Besar
Dengan adanya kenaikan harga komponen, merek-merek besar seperti Apple dan Samsung memiliki keuntungan karena memiliki sumber daya yang cukup untuk menstabilkan harga produk mereka. Sementara itu, produsen ponsel lain harus mencari solusi alternatif untuk tetap bersaing di pasar.
Beberapa strategi yang mungkin diterapkan antara lain: * Mengurangi penggunaan komponen berkualitas tinggi * Memperkenalkan model-model baru dengan fitur yang lebih sederhana * Memberikan diskon atau promo untuk menarik konsumen
Dengan situasi ini, konsumen mungkin harus siap menghadapi kenaikan harga yang lebih besar, terutama untuk smartphone kelas atas. Namun, seiring dengan inovasi teknologi, harapan besar diarahkan pada peningkatan kualitas dan performa ponsel, meskipun dengan harga yang lebih mahal.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar