Harga singkong turun, warga Cikalongwetan Bandung Barat ramai-ramai buat gaplek

Kondisi Harga Singkong yang Menurun di Cikalongwetan

Di wilayah Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat, harga singkong atau sampeu mengalami penurunan yang signifikan. Kondisi ini menyebabkan para petani terpaksa menjual hasil panen mereka untuk pakan ternak, bukan sebagai bahan makanan manusia.

Eem (60), seorang petani asal Kampung Garudra, Desa Mandalasari, Kecamatan Cikalongwetan, mengatakan bahwa ia sudah tidak lagi menjual singkong untuk pembuatan aci sampeu. Hal ini dilakukan karena harga singkong di pasaran sangat rendah. Saat ini, harga per kilogram singkong hanya Rp 350. Dulu, harga per kilogramnya bisa mencapai Rp 2000.

Anjloknya harga singkong membuat Eem merasa kesulitan. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar, ia memilih mengolah singkong menjadi gaplek yang digunakan sebagai pakan ternak. "Dipaksakeun (Saya paksakan jadi gaplek)," ujarnya kepada "PR" di area kebun singkong, Kampung Cikuda, Desa Mandalasari, Jumat (12/12/2025).

Yudin (38), bandar singkong asal Kampung Garudra, juga mengeluhkan anjloknya harga. Di tingkat bandar, harga singkong hanya Rp 400 per kilogram. Ia awalnya membeli singkong untuk didistribusikan ke pembuat aci dan peuyeum, tetapi kini berubah arah karena harga yang turun bebas. Yudin kini membeli gaplek dari para petani untuk dijual sebagai pakan ternak. Harga gaplek masih cukup lumayan, yaitu Rp 2.400 per kilogram. Setidaknya, Yudin masih memiliki sedikit keuntungan dari penjualan gaplek daripada menjual singkong secara langsung ke pembuat aci atau peuyeum.

Menurut Yudin, harga singkong masih normal sekitar dua tahun lalu, dengan harga per kilogram mencapai Rp 1.000. Penyebab anjloknya harga adalah melimpahnya pasokan singkong di pasar. Singkong melimpah karena warga di Cikalongwetan beramai-ramai menanam ubi kayu tersebut. "Ku seueur lahanna, janten seueur lahan di wilayah Cikalongwetan janten kebon sampeu (Karena banyak lahan di wilayah Cikalongwetan jadi kebun singkong)," ucapnya.

Hal ini terjadi akibat banyaknya lahan perkebunan negara atau PTPN yang tidak lagi ditanami di wilayah tersebut. Warga pun memanfaatkan lahan tersebut dengan menanam singkong.

Harapan Petani Terhadap Solusi

Singkong menjadi komoditas yang paling banyak ditanam warga karena pemeliharaannya sederhana dan tidak membutuhkan banyak pupuk. Namun, karena banyaknya warga menanam singkong, produksi atau hasil panen menjadi membeludak. Banyaknya singkong di pasaran berdampak pada penurunan harga. Yudin berharap pemerintah memberikan solusi atas persoalan ini. Bantuan berupa sarana distribusi pemasaran ke wilayah kota atau kawasan yang minim singkong bisa dilakukan agar harganya bisa kembali meningkat.

"PR" sempat mewartakan anjloknya harga singkong di Kampung Cigatrot Girang, Desa Tenjolaut, Kecamatan Cikalongwetan, Kamis (22/5/2025). Seperti di Desa Mandalasari, para petani Cigatrot juga mengolah singkongnya menjadi gaplek untuk dijual kepada peternak. Pada 2024, harga singkong yang dibeli bandar masih terbilang tinggi, yakni Rp 1100 per kilogram. "Ayeuna anjlok mung Rp 500 per kilogram (Sekarang, harganya turun hingga Rp 500 per kilogram)," kata Taryono, salah satu petani singkong di Cigatrot saat itu. Taryono mengungkapkan bahwa harga per kilogram gaplek yang dibeli bandar mencapai Rp 3000.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan