Harga tembaga mencatat rekor tertinggi baru, didorong kebijakan China


aiotrade, JAKARTA – Harga tembaga kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high, didorong optimisme kebijakan pro-pertumbuhan China dan aksi penimbunan logam di Amerika Serikat.

Melansir laporan terbaru, harga tembaga di London Metal Exchange (LME) sempat melonjak hingga US$11.771 per ton sebelum ditutup menguat 0,1% pada US$11.635.50 per ton. Catatan tersebut melampaui rekor harga tertinggi yang tercipta pada sesi sebelumnya.

Lonjakan terbaru terjadi setelah Beijing pada Senin mengumumkan komitmennya untuk mempertahankan kebijakan fiskal yang proaktif serta sikap moneter yang tetap moderat longgar bagi perekonomian terbesar kedua dunia. Pernyataan Politbiro menunjukkan lingkungan makro yang jauh lebih proaktif dibandingkan ekspektasi investor, demikian ujar analis Cofco Futures Co. Xu Wanqiu.

Menurutnya, harga tembaga akan diuntungkan oleh dukungan kebijakan untuk peningkatan jaringan listrik serta pengembangan daya komputasi. Dia menyebut, momentum pasar masih sangat bullish.

Sentimen positif turut diperkuat oleh data perdagangan China, yang menunjukkan ekspor bangkit pada bulan lalu, melampaui proyeksi pasar sekaligus mendorong surplus dagang negara tersebut menembus US$1 triliun untuk pertama kalinya.

Tembaga, yang merupakan komoditas penting bagi elektrifikasi dan transisi energi, telah melonjak lebih dari 30% di London Metal Exchange (LME) sepanjang tahun ini. Kenaikan permintaan dari sektor pusat data dan kendaraan listrik menghadapi keterbatasan pasokan global, seiring kapasitas peleburan tumbuh lebih cepat dibandingkan produksi tambang. Sejumlah gangguan operasional di tambang semakin memperparah kelangkaan bahan baku.

Reli harga tembaga semakin menguat dalam beberapa pekan terakhir dipicu kekhawatiran akan terjadinya aliran besar logam ke AS, seiring antisipasi rencana Presiden Donald Trump memberlakukan tarif impor pada tahun depan. Kondisi tersebut telah menekan level persediaan dan mendorong premi di pasar lain ke posisi tertinggi sepanjang sejarah, sekaligus membuat harga kontrak berjangka di New York melonjak melampaui harga di bursa LME.

Analis Citic Securities Co. dalam risetnya memperkirakan pasokan global tembaga olahan berpotensi defisit sekitar 450.000 ton pada 2026, sebagian akibat aksi penimbunan di AS. Mereka menilai, harga tembaga perlu bertahan di atas rata-rata US$12.000 per ton pada tahun depan guna menarik investasi baru di sektor pertambangan, agar pasokan tetap terjaga dalam jangka menengah hingga panjang.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga Tembaga

  • Kebijakan Pro-Pertumbuhan China
    Kebijakan fiskal yang proaktif dan sikap moneter yang moderat longgar menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga tembaga. Pernyataan Politbiro menunjukkan bahwa pemerintah China siap mendukung pertumbuhan ekonomi dengan langkah-langkah yang lebih agresif dibandingkan ekspektasi pasar.

  • Peningkatan Permintaan dari Sektor Elektrifikasi
    Tembaga memiliki peran penting dalam elektrifikasi dan transisi energi. Pertumbuhan permintaan dari sektor pusat data dan kendaraan listrik meningkat pesat, namun pasokan global tidak mampu mengikuti laju permintaan tersebut.

  • Keterbatasan Pasokan Global
    Kapasitas peleburan tumbuh lebih cepat dibandingkan produksi tambang. Hal ini menyebabkan keterbatasan pasokan global, yang memperparah kelangkaan bahan baku.

  • Aksi Penimbunan di Amerika Serikat
    Ada kekhawatiran akan aliran besar logam ke AS, seiring antisipasi rencana Presiden Donald Trump memberlakukan tarif impor pada tahun depan. Aksi penimbunan di AS juga berkontribusi terhadap ketegangan pasokan.

Prediksi Analis untuk Tahun Depan

  • Defisit Pasokan Global
    Analis Citic Securities Co. memperkirakan bahwa pasokan global tembaga olahan berpotensi defisit sekitar 450.000 ton pada 2026. Defisit ini sebagian disebabkan oleh aksi penimbunan di AS.

  • Harga Harus Bertahan di Atas US$12.000 Per Ton
    Untuk menarik investasi baru di sektor pertambangan, harga tembaga harus bertahan di atas rata-rata US$12.000 per ton pada tahun depan. Ini akan membantu menjaga pasokan dalam jangka menengah hingga panjang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan