Hari HAM Internasional: Warga Demo di Balai Kota, Pemerintah Jangan Menghindar

Aksi Demo di Depan Balai Kota DKI Jakarta dalam Rangka Hari HAM Internasional

Pada Rabu (10/12/2025), warga Jakarta menggelar aksi demo di depan Balai Kota DKI Jakarta dalam rangka memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Aksi ini dilakukan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta bersama warga, mahasiswa, dan organisasi masyarakat sipil. Namun, Gubernur Provinsi DKI Jakarta Pramono Anung tidak menemui para peserta aksi.

Menurut Pengacara Publik LBH Jakarta, Nabil Hafizhurrahman, aksi yang digelar ini bertujuan untuk menyampaikan berbagai keluhan masyarakat terkait pelayanan publik yang dinilai tidak memadai. Ia menyatakan bahwa sejak tanggal 2 Desember 2025, LBH Jakarta telah menyurati Pramono Anung untuk mengadakan audiensi terkait permasalahan warga dalam memperingati Hari HAM Internasional. Namun, hingga hari aksi, permintaan tersebut belum ditanggapi.

"Namun, kendala administrasi persuratan dan ketidaktahuan menjadi pilihan alasan untuk tidak menemui warga di depan Balai Kota," ujar Nabil. Ia menilai tindakan Pramono Anung sebagai bukti bahwa pelayanan publik Pemprov DKI Jakarta masih bermasalah.

Aksi kali ini bertajuk “Parade Hantar Warga” dengan tema “Pemerintah Jangan Kabur, Penuhi HAM Warganya!”. Dalam aksi tersebut, warga menyuarakan sejumlah persoalan yang mereka alami. Beberapa isu yang disampaikan antara lain dugaan penggusuran paksa di 14 titik di Jakarta, kriminalisasi warga yang memperjuangkan haknya, privatisasi air, minimnya akses terhadap bantuan hukum, serta kurangnya perlindungan bagi warga pesisir dan pulau-pulau kecil dari kerusakan lingkungan.

Selain itu, warga juga menyoroti rendahnya komitmen pemenuhan hak dan kesejahteraan pekerja, mulai dari pekerja rumah tangga, awak kapal perikanan, hingga pengemudi ojek online. Mereka juga menilai maraknya tindak pidana perdagangan orang dan kerja paksa di sektor perikanan dengan hub perekrutan di pelabuhan-pelabuhan Jakarta, serta masih ditemukannya praktik kekerasan dan diskriminasi terhadap.

Dalam aksi tersebut, beberapa ekspresi budaya juga ditampilkan. Misalnya, kesenian palang pintu, penampilan ondel-ondel mengibing, gambang kromong, dan sebagian peserta aksi menggunakan kebaya encim. Hal ini menunjukkan bahwa aksi tidak hanya sekadar menyampaikan aspirasi, tetapi juga melibatkan unsur budaya lokal.

Partisipasi Berbagai Elemen Masyarakat

Selain warga, sejumlah elemen lainnya turut terlibat dalam kegiatan ini. Mereka datang dari berbagai komunitas dan kelompok advokasi yang selama ini aktif memperjuangkan hak-hak masyarakat. Beberapa komunitas yang terlibat antara lain:

  • Arus Pelangi
  • Warga Srengseng Sawah
  • Warga Lenteng Agung
  • Urban Poor Consortium (UPC)
  • Gerakan Rakyat untuk Keadilan Air Jakarta
  • Keluarga Asa
  • Warga Cina Benteng
  • Jala PRT
  • Destructive Fishing Watch Indonesia
  • Para awak kapal perikanan korban
  • Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK)
  • Forum Pancoran Bersatu
  • Kesatuan Serikat Pekerja Tenaga Medis dan Kesehatan Indonesia (KSPMTKI)
  • KPBM dan Forum Warga Cikini Kramat

Tidak hanya komunitas lokal, tetapi juga organisasi nasional seperti:

  • Greenpeace Indonesia
  • Koalisi Perempuan Indonesia DKI Jakarta
  • Gerakan Masyarakat Pro Justitia (GMPJ)
  • Warga Budi Darma Kampung Semper
  • Warga Pulau Pari
  • WALHI Jakarta
  • BEM FH UPN Veteran Jakarta
  • Ranita UIN Jakarta
  • Arkadia UIN Jakarta

Selain itu, masih banyak lagi elemen masyarakat lainnya yang turut serta dalam aksi ini. Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan bahwa isu HAM tidak hanya menjadi topik diskusi akademis, tetapi juga menjadi prioritas bagi banyak kalangan dalam masyarakat.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan