Herdman dan Taruhan Besar Indonesia: Era Baru Dimulai dari Pinggir Lapangan

Herdman dan Taruhan Besar Indonesia: Era Baru Dimulai dari Pinggir Lapangan

Penunjukan John Herdman sebagai Pelatih Timnas Indonesia

Penunjukan John Herdman sebagai pelatih tim nasional Indonesia menjadi langkah besar yang diharapkan mampu mengangkat sepak bola tanah air dari keterpurukan. Tidak hanya bagi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), tetapi juga bagi ambisi lama negeri ini untuk keluar dari bayang-bayang dan menatap panggung dunia. Di tangan pelatih asal Inggris itu, PSSI berharap kisah sukses yang pernah ia tulis bersama Kanada dapat terulang, kali ini dengan Merah Putih sebagai tokoh utama.

Herdman datang ke Jakarta dengan reputasi yang jarang dimiliki oleh pelatih lain. Ia adalah satu-satunya pelatih di dunia yang pernah membawa tim nasional putra dan putri dari satu negara lolos ke Piala Dunia FIFA. Rekam jejak ini membuat penunjukannya bukan sekadar pergantian pelatih, melainkan pernyataan arah: Indonesia ingin serius, terstruktur, dan berpikir jangka panjang.

Keputusan ini juga menutup bab singkat namun penuh gejolak era Patrick Kluivert, yang dipecat pada Oktober 2025. Dalam sepak bola Indonesia, pergantian pelatih kerap menjadi ritual tahunan. Namun Herdman diberi mandat lebih luas—menangani tim senior sekaligus timnas U-23—sebuah sinyal bahwa PSSI menginginkan kesinambungan, bukan solusi instan.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut penunjukan Herdman sebagai awal “era baru” sepak bola nasional. Dukungan Presiden Prabowo Subianto, menurut Erick, menjadi bahan bakar politik dan moral untuk mendorong program yang lebih agresif. Targetnya jelas meski terdengar ambisius: membawa Indonesia ke jalur menuju Piala Dunia.

Bagi Herdman, Indonesia bukan sekadar pilihan cadangan. Ia disebut menolak tawaran dari Honduras demi fokus pada proyek Garuda. Pilihan itu dibaca PSSI sebagai tanda komitmen, bahwa pelatih berusia 50 tahun ini melihat potensi besar dalam skuad yang dipimpin pemain-pemain seperti Jay Idzes—potensi yang menunggu untuk dibentuk menjadi identitas kolektif.

Pengalaman Herdman membangun Kanada dari tim yang terpinggirkan hingga tampil di Piala Dunia Qatar 2022 menjadi narasi yang kini ingin ditiru Indonesia. Ia dikenal sebagai arsitek sistem, bukan sekadar motivator. Di Kanada, ia menanamkan disiplin, kepercayaan diri, dan budaya menang—tiga hal yang lama dicari sepak bola Indonesia.

Tantangan yang Menghadang

Tahun 2026 akan menjadi ujian awal. Timnas Indonesia dijadwalkan tampil dalam FIFA Series di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Maret, disusul rangkaian FIFA Match Day hingga akhir tahun, serta Piala AFF 2026 yang selalu sarat tekanan emosional. Setiap pertandingan akan menjadi tolok ukur, bukan hanya hasil, tetapi juga arah permainan.

Di level usia muda, tantangan tak kalah besar menanti. Sebagai pelatih timnas U-23, Herdman akan memimpin Garuda Muda di Asian Games Aichi–Nagoya. Turnamen ini kerap menjadi barometer masa depan, tempat janji dan harapan diuji di bawah sorotan Asia.

Namun sejarah sepak bola Indonesia mengajarkan satu hal: pelatih hebat saja tidak cukup. Infrastruktur, kompetisi domestik, dan konsistensi kebijakan akan menentukan apakah visi Herdman bisa berumur panjang atau sekadar menjadi catatan kaki. Publik, yang telah berkali-kali berharap, kini menunggu bukti.

Harapan yang Diperbarui

Pada akhirnya, penunjukan John Herdman adalah kisah tentang harapan yang diperbarui. Ia membawa pengalaman global ke negara dengan gairah sepak bola yang nyaris tak tertandingi. Pertanyaannya kini bukan apakah Indonesia bermimpi ke Piala Dunia—tetapi apakah, bersama Herdman, mimpi itu akhirnya menemukan jalannya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan