Kehidupan Siti Aisyah, Ibu Lima Anak yang Bekerja sebagai Tukang Tambal Ban Truk

Tangan Siti Aisyah tampak lusuh dan berwarna hitam. Ia mengenakan wearpack oranye yang mulai menghitam akibat debu dan kotoran jalanan. Keringat terus mengucur dari sela-sela kerudungnya yang menutupi wajahnya.
Dengan tangan yang cekatan, ia melepas baut-baut ban truk menggunakan impact wrench di tangannya. Lalu, ban setinggi dadanya itu diturunkan dari as roda. Setelah itu, Siti mulai melepas ban truk yang menempel di ring velg menggunakan alat tire dismantling.
Itulah Siti Aisyah, seorang ibu lima anak yang setiap harinya bekerja sebagai tambal ban truk di pinggir Jalan Kalianak 55, Surabaya.
Siti mulai membuka lapaknya di pinggir jalan mulai pukul 17.00 WIB hingga 23.00 WIB. Sebab, pada jam tersebut, ia diperbolehkan untuk membuka jasa tambal ban di pinggir Jalan Kalianak.
Wanita asal Karawang ini harus melakoni pekerjaan ini karena harus menopang kehidupan keluarganya. Sebab, kondisi suaminya kini tidak bisa melakukan pekerjaan berat usai mengalami kecelakaan kerja.
"Awal mulanya saya hanya membantu suami, tapi karena selama satu tahun ini suami saya mengalami kecelakaan, akhirnya gantian suami yang bantu. Sekarang saya yang bekerja full," kata Siti saat ditemui di lokasi.
Kecelakaan kerja yang dialami suaminya membuat tangannya mengalami cedera. "Kena ban meledak, kena tangan depan tengah-tengah ini," ujarnya.
Suaminya masih bisa bekerja, tetapi tangannya yang satu itu sering terasa pegal. "Kalau habis kerja itu tangannya yang satu itu kalau orang Jawa bilang kemeng (pegal), karena kan patah," tambah dia.
Sebelumnya, Siti bekerja sebagai buruh pabrik. Namun, penghasilannya sebagai buruh pabrik tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sehingga, ia pun mengambil alih profesi suaminya tersebut.
"Kalau kerja pabrik itu waktu saya habis di pabrik. Jadi anak-anak saya enggak keurus. Kalau kerja kayak gini kan saya masih bisa ngurus anak, saya sorenya masih bisa kerja. Jadi semuanya masih bisa saya lakuin," ucapnya.
Di samping itu, Siti mengatakan bahwa tidak ada pilihan lain selain menjadi tukang tambal ban truk yang ilmunya diwariskan dari suaminya.
"Yang pertama berat, yang kedua resikonya besar, tapi ya gimana lagi ya kayak enggak ada pilihan lain," katanya.
Siti mengungkapkan, banyak suka-duka yang ia rasakan selama setahun terakhir ini menjadi tukang tambal ban truk. Mulai dari kebanjiran order tambal ban hingga kesulitan tenaga hingga rasa was-was.
"Sukanya ya kalau kita lagi banyak rezeki itu alhamdulillah anak-anak bisa jajan gitu, bisa nyenengin anak-anak. Kalau dukanya banyak, kalau lagi ban lengket, kadang 1 jam enggak bisa terbuka. Kalau lagi ban jelek, disuruh pasang gitu kan kayak uji nyali gitu kan," ungkapnya.
Setiap satu ban truk yang ditambal, ia mematok tarif sebesar Rp 50 ribu. Siti juga menerima jasa panggilan tambal ban selama suaminya bisa mengantarkannya ke tempat tujuan.
"Satu hari kalau lagi panggilan itu lumayan. Panggilan itu kayak saya datang ke tempat orang misalkan orangnya telepon ada pengerjaan sekian ban misalkan ada 10, 15 itu alhamdulillah lumayan," ujar dia.
"Cuma kalau di jalan ini saya yang buka lapak di Kalianak 55 ya enggak seberapa. Paling dapat empat, kadang lima, tiga pernah, enggak dapat juga pernah," lanjutnya.
Siti berharap, pekerjaannya saat ini bisa terus mencukupi keluarganya dan bercita-cita membelikan hunian kepada orang tuanya di Karawang.
"Harapan saya anak-anak saya suatu saat nanti bisa mendapatkan hidup yang lebih baik. Jadi kayak semua kesulitan yang kami alami saat ini tidak dialami oleh anak-anak saya. Cuma kalau cita-citanya pengin beli rumah buat ibu di kampung," katanya.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar