Ibu Hamil Pengungsi Gor Pandan Tapteng Derita Diare, Pampers Hanya 2 Kali

Ibu Hamil Pengungsi Gor Pandan Tapteng Derita Diare, Pampers Hanya 2 Kali

Kehidupan Ibu Hamil yang Menghadapi Kesulitan di Tempat Pengungsian

Seorang ibu hamil bernama Sri Asmara (22) tampak berjalan dengan penuh kehati-hatian di dalam gedung gelanggang olahraga (Gor) Kota Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Mengenakan daster berwarna biru, ia terlihat menggendong bayi laki-laki di sebelah kirinya sambil menuntun seorang balita di tangan sebelah kanannya. Langkahnya pelan dan terlihat sedikit kesusahan, terutama ketika harus menaiki anak tangga satu persatu.

Sri Asmara adalah salah satu dari ratusan pengungsi yang tinggal di tempat tersebut akibat bencana banjir dan longsor. Ia merupakan perantau asal Kota Medan yang tinggal di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah. Sejak 18 hari lalu, ia dan keluarganya tinggal di Gor ini karena rumah mereka rusak akibat bencana alam.

Meskipun kebutuhan pangan terpenuhi selama masa pengungsian, Sri mengeluhkan masalah lain yang sangat mengganggu kehidupannya sehari-hari. Salah satunya adalah kekurangan pampers untuk bayi dan balita. Menurutnya, setiap hari hanya diberikan dua buah pampers, padahal kebutuhan nyata jauh lebih besar.

"Kami hanya diberi dua pampers sehari, tapi anak-anak kami membutuhkan sampai 10 hingga 15 popok sehari. Terutama saat mereka mengalami diare," ujar Sri Asmara.

Kondisi ini membuatnya merasa kewalahan. Anak kedua dan ketiganya mengalami diare sejak dua hari terakhir, sehingga kebutuhan pampers meningkat drastis. Namun, permintaan tambahan tidak dapat dipenuhi karena jatah yang diberikan tetap sama.

Selain itu, Sri juga mengeluhkan kurangnya layanan kesehatan untuk ibu hamil. Meskipun vitamin diberikan, susu untuk ibu hamil tidak tersedia. Selain itu, pemeriksaan medis yang dilakukan terkesan minim. Saat ia mengeluh sakit perut dan keram, hanya diberikan obat pereda nyeri tanpa pemeriksaan lanjutan.

"Semalam saya mengeluh sakit hanya diberikan obat saja, tidak diperiksa apa-apa. Kemarin perut saya keram, mules-mules hanya diberi Paracetamol," katanya.

Kondisi ini membuat Sri semakin merasa tidak nyaman. Ia benar-benar ingin pulang ke Medan dan kembali menjalani kehidupan normal. Namun, ia tidak ingin kembali ke rumahnya di Kecamatan Tukka karena kondisi lingkungan belum pulih sepenuhnya.

Sri berharap agar layanan kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui ditingkatkan. Ia juga berharap tenaga medis yang ada bisa ditambah jika memang kurang.

"
Rasanya pengen pulang. Disini gak nyaman."

Masalah yang Dihadapi Pengungsi di Tempat Pengungsian

Beberapa masalah utama yang dihadapi oleh para pengungsi di Gor Kota Pandan antara lain:

  • Kekurangan pampers
    Setiap hari hanya diberikan dua buah pampers, padahal kebutuhan nyata jauh lebih besar. Hal ini terutama menjadi masalah bagi ibu-ibu yang memiliki balita atau bayi yang mengalami diare.

  • Kurangnya layanan kesehatan untuk ibu hamil
    Vitamin diberikan, namun susu untuk ibu hamil tidak tersedia. Pemeriksaan medis juga terbatas, sehingga kekhawatiran tentang kesehatan janin sering tidak terpenuhi.

  • Tidak adanya peningkatan fasilitas kesehatan
    Tenaga medis yang ada dinilai kurang memadai, sehingga memberikan layanan kesehatan yang maksimal sulit dilakukan.

Harapan Para Pengungsi

Para pengungsi seperti Sri Asmara sangat berharap agar kondisi mereka dapat diperbaiki. Mereka ingin mendapatkan layanan kesehatan yang lebih baik, terutama bagi ibu hamil dan balita. Selain itu, mereka juga berharap agar kebutuhan dasar seperti pampers dan makanan dapat terpenuhi secara cukup.


Dengan harapan-harapan ini, para pengungsi berusaha bertahan dan berharap agar situasi segera membaik.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan