ICAO Persetujui Limbah Sawit Jadi Bahan Baku Bioavtur

Pengakuan Internasional untuk Penggunaan Limbah Sawit sebagai Bahan Bakar Avtur Berkelanjutan

Penggunaan limbah sawit sebagai bahan baku untuk sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur telah mendapatkan pengakuan resmi dari International Civil Aviation Organization (ICAO). Hal ini menjadi langkah penting dalam upaya pemerintah Indonesia untuk mempercepat produksi dan pemanfaatan bahan bakar avtur berkelanjutan di tingkat nasional maupun internasional.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa pemerintah telah mengajukan perhitungan nilai Life Cycle Assessment (LCA) default value untuk SAF berbahan baku palm oil mill effluent (POME) kepada ICAO sejak Januari 2025. Proses ini melalui penilaian teknis oleh Committee on Aviation Environmental Protection (CAEP), yang akhirnya menyetujui nilai emisi dari penggunaan SAF berbahan baku POME pada akhir November 2025.

Nilai LCA default value tersebut merupakan standar emisi gas rumah kaca untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Dalam dokumen ICAO “CORSIA Default Life Cycle Emissions Values for CORSIA Eligible Fuels,” Tabel 2 pada kategori HEFA Conversion Process, CAEP menetapkan nilai LCA default value untuk SAF berbahan baku POME sebesar 18,1 gram CO₂/MJ. Angka ini menunjukkan bahwa SAF dari POME mampu memberikan penghematan emisi hingga 80% dibandingkan bahan bakar fosil.

Pentingnya Penggunaan POME dalam Produksi SAF

POME adalah residu atau sisa dari proses produksi crude palm oil (CPO) dan termasuk dalam kategori residue pada daftar positive list ICAO. Oleh karena itu, SAF yang dibuat dengan bahan baku POME memiliki potensi besar dalam penurunan emisi, sehingga sangat kompetitif dibanding SAF dari bahan baku lainnya.

Namun, Lukman menegaskan bahwa masih terdapat beberapa tahapan penting yang perlu ditindaklanjuti agar produksi SAF berbahan baku POME dapat terealisasi secara konsisten di dalam negeri. Salah satu prioritas utama adalah memastikan ketersediaan bahan baku POME yang cukup dan memiliki traceability yang baik. Hal ini diperlukan agar industri SAF nasional dapat memperoleh manfaat nilai tambah secara optimal.

Kolaborasi untuk Mendorong Pengembangan SAF Nasional

Lukman menekankan perlunya dukungan berkelanjutan dari pemerintah pusat dan daerah, BUMN, pelaku industri, asosiasi, swasta nasional, serta sektor penerbangan. Kolaborasi ini harus dilakukan dalam bentuk kebijakan, regulasi, insentif, investasi, hingga penyediaan fasilitas pendukung.

Dengan langkah bersama, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi produsen SAF yang kompetitif di kawasan. Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan terus memperjuangkan kepentingan Indonesia dalam berbagai forum penerbangan internasional, serta berkomitmen mengakselerasi pengembangan SAF nasional sebagai bagian dari transformasi keberlanjutan sektor transportasi udara.

Langkah Strategis untuk Menjaga Kompetitivitas

Dalam proses pengajuan perhitungan nilai default LCA tersebut, Lukman berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan didukung oleh dua mitra kerja yaitu Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) dan PT Tripatra—perusahaan swasta yang bergerak di bidang engineering dan energy.

Komitmen Indonesia sebagai negara anggota ICAO untuk menjadi salah satu produsen utama SAF semakin kuat. Hal ini didasarkan pada besarnya potensi bahan baku (feedstock) yang dimiliki Indonesia. Dengan adanya pengakuan internasional atas penggunaan POME sebagai bahan baku SAF, Indonesia dapat memasuki pasar SAF global dengan daya saing yang tinggi.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Meski ada banyak peluang, tantangan juga tidak bisa diabaikan. Salah satunya adalah memastikan ketersediaan POME yang cukup dan berkualitas. Selain itu, diperlukan juga sistem pelacakan (traceability) yang jelas agar seluruh proses produksi SAF dapat dipertanggungjawabkan dan memenuhi standar internasional.

Dengan adanya dukungan lintas sektor dan kolaborasi yang solid, Indonesia dapat menjadikan penggunaan POME sebagai bahan baku SAF sebagai salah satu inovasi penting dalam upaya mengurangi dampak lingkungan dari sektor penerbangan. Ini juga menjadi momentum besar bagi Indonesia untuk menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan dan pembangunan berkelanjutan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan