Ikrom Petugas Kebersihan yang Berani Tuntas Sumbatan Got, Diberi Hadiah oleh Bupati

Kisah Heroik Petugas Kebersihan yang Menginspirasi

Seorang petugas kebersihan bernama Amat Ikrom menjadi sorotan publik setelah aksinya membersihkan saluran air di jalur Pantura saat banjir. Aksi spontannya tanpa menunggu perintah membuat Bupati Batang, M Faiz Kurniawan, tergerak untuk mengundangnya ke kantor bupati sebagai bentuk apresiasi.

Ikrom nekat turun ke got yang tersumbat demi memastikan arus lalu lintas tetap lancar. Langkahnya tersebut membuat genangan air di jalur Pantura langsung surut. Dalam keterangan rilis, Faiz menyampaikan bahwa ia melihat sendiri videonya dan sangat mengapresiasi tindakan Ikrom.

Faiz juga menegaskan pentingnya menjaga sistem drainase dan aliran sungai. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mendirikan bangunan di atas jalur air. Menurutnya, drainase dan sungai adalah ruang publik yang harus dipertahankan fungsinya untuk memperlancar aliran air.

Sebagai penghargaan atas aksi heroik tersebut, Faiz memberikan hadiah berupa gawai senilai Rp5 juta. Ikrom memilih ponsel tahan air karena pekerjaannya sering bersentuhan dengan air. Selain itu, sisa hadiah digunakan untuk kebutuhan keluarganya.

Ikrom menceritakan bahwa saluran air di lokasi banjir tersumbat karena bangunan permanen menutup jalur pembuangan. Ia pun membongkar penutup tersebut dan menemukan material seperti batu serta triplek yang menghambat aliran. "Salurannya mampet, ada batunya, ada tripleknya. Padahal itu jalur air dari desa ke Pantura," ujarnya.

Mimpi yang Terwujud: Kisah Pasangan Suami-Istri yang Berangkat Haji

Selain kisah Ikrom, ada kisah lain yang juga menginspirasi. Seorang petugas kebersihan berhasil meraih mimpi untuk berangkat haji ke Mekkah. Pasangan suami-istri, Temu (60) dan Kadina (63), menabung selama 12 tahun untuk bisa berangkat haji.

Awalnya, upah mereka hanya Rp100 ribu per bulan, namun seiring waktu meningkat menjadi Rp800 ribu. Suaminya juga bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah perusahaan makanan siap saji dan pernah menjadi tukang bangunan demi menambah penghasilan.

Temu mendaftar haji pada November 2013 setelah anak-anaknya mulai mandiri. Meski hidup sederhana, ia dan suami menyisihkan rezeki sedikit demi sedikit. Namun, perjuangan belum usai ketika biaya haji naik pada 2024. Temu sempat sakit hingga tiga bulan lamanya dan berat badannya turun drastis.

Akhirnya, kabar bahagia datang usai Lebaran. Temu dan suami mendapatkan panggilan untuk berangkat haji. "Alhamdulillah, uangnya cukup buat pelunasan," ujar dia sambil tersenyum.

Kini, Temu hanya tinggal menunggu waktu keberangkatan. "Alhamdulillah, sekarang udah sembuh, sehat. Tinggal berangkat saja," katanya.

Pagi itu, Tribun mengikuti aktivitas Temu dari rumahnya menuju sekolah. Sekitar pukul 06.00 WIB, ia sudah siap berangkat. Sebelumnya, ia menyempatkan diri menjemur pakaian dan merapikan rumah. Setiba di sekolah, Temu langsung menyapu, mengelap meja-meja guru, hingga membersihkan lantai dua. Ia juga menyiapkan minuman untuk kepala sekolah.

Rutinitas itu ia lakukan tanpa keluhan, setiap hari, selama dua dekade lebih. Di rumah, Temu dan suaminya terlihat bahagia kala menunjukkan koper dan perlengkapan haji. Sesekali, mereka menitikkan air mata, masih tak menyangka akan menjadi tamu Allah.

"Ini semua karena Allah. Kami percaya, kalau sudah waktunya, pasti Allah undang," ujar Temu.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan