
Penurunan Nilai Impor Maluku pada Oktober 2025
Nilai impor di Maluku pada Oktober 2025 mengalami penurunan sebesar 32,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Oktober 2024, nilai impor mencapai US$32,21 juta, sedangkan pada Oktober 2025 turun menjadi US$21,87 juta. Hal ini disampaikan oleh Plh. Kepala BPS Provinsi Maluku, Jessica Pupella, dalam acara peluncuran Berita Resmi Statistik (BRS) untuk Desember 2025 di kantornya yang berada di jalan Wolter Monginsidi, Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Provinsi Maluku.
Menurut data yang dirilis, penurunan ini dipicu oleh adanya penurunan impor migas sebesar 31,80 persen dan non migas sebesar 79,32 persen. Dalam rangka tahun berjalan sejak Januari hingga Oktober 2025, total nilai impor mencapai US$274,55 juta atau turun US$124,75 juta (-31,24 persen) dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Penurunan terjadi karena berkurangnya impor migas sebesar US$109,47 juta (-28,72 persen), serta penurunan nilai impor nonmigas sebesar US$15,27 juta (-84,45 persen). Komoditas yang diimpor selama periode ini adalah komoditi migas berupa bahan bakar mineral senilai US$271,74 juta, dan komoditas nonmigas senilai US$2,81 juta dalam bentuk plastik lembaran dan kemasan, kotak/kemasan dari karton, barang tekstil lainnya, mesin untuk keperluan umum/khusus, dan peralatan listrik.
Peran Negara Tujuan dalam Impor Nonmigas
Berdasarkan negara tujuan, total nilai impor nonmigas dari ASEAN pada Januari-Oktober 2025 mencapai US$271,74 juta atau turun 31,63 persen dibandingkan Januari-Oktober 2024. Kondisi ini terutama dipengaruhi menurunnya nilai impor dari beberapa negara utama seperti Singapura (-33,31 persen), Malaysia (-14,39 persen), dan Vietnam (-100,00 persen).
Selain dari ASEAN, impor Maluku juga berasal dari Tiongkok senilai US$2,81 juta, naik 52,82 persen dari US$1,84 juta di periode yang sama tahun 2024. Dilihat dari peranannya terhadap total impor nonmigas Januari–Oktober 2025, kontribusi tertinggi masih didominasi oleh Singapura dengan 70,14 persen (US$192,57 juta), diikuti oleh Malaysia 28,83 persen (US$79,17 juta), dan Tiongkok 1,02 persen (US$2,81 juta).
Kontribusi ASEAN mencapai 98,98 persen, sementara Asia lainnya hanya 1,02 persen.
Perubahan Nilai Impor Berdasarkan Pelabuhan Bongkar
Berdasarkan pelabuhan bongkar, nilai impor melalui Pelabuhan Yos Sudarso mengalami penurunan sebesar 31,56 persen. Sebaliknya, terjadi peningkatan pada Pelabuhan Wahai di Maluku Tengah sebesar 42,29 persen, dari US$1,72 juta menjadi US$2,45 juta.
Nilai impor pada periode ini lebih didominasi oleh Pelabuhan Yos Sudarso dengan andil mencapai 99,11 persen, diikuti oleh Pelabuhan Wahai sebesar 0,89 persen terhadap total impor di Maluku.
Jika dibandingkan dengan Oktober 2024, nilai impor Oktober 2025 mengalami penurunan sekitar 32,11 persen. Penurunan terjadi pada Pelabuhan Yos Sudarso di Ambon sebesar 31,67 persen, dari US$32,00 juta pada Oktober 2024 menjadi US$21,87 juta di Oktober 2025. Demikian halnya dengan Pelabuhan Wahai di Maluku Tengah juga mengalami penurunan sebesar 100,00 persen.
Volume Impor Maluku pada Januari-Oktober 2025
Volume impor Maluku pada Januari-Oktober 2025 mencapai 410,13 ribu ton. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 21,88 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2024 (524,98 ribu ton). Kondisi yang sama terjadi jika dibandingkan dengan Oktober 2024, volume impor Oktober 2025 mengalami penurunan sebesar 33,63 persen.
“Hal ini dipengaruhi oleh menurunnya volume impor baik sektor migas maupun nonmigas. Kontribusi sektor migas sangat dominan pada aktivitas impor Maluku. Hal ini ditunjukkan dengan kegiatan impor periode Januari-Oktober 2025, impor terbesar bersumber dari sektor migas dengan kontribusi mencapai 99,70 persen dari total volume impor Maluku,” tutur Plh. Kepala BPS Maluku.
Sedangkan kontribusi sektor non migas hanya sebesar 0,30 persen pada periode ini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar