
Potensi Ekonomi Digital Indonesia yang Menjanjikan
Indonesia dikenal sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan lokal telah menunjukkan adopsi teknologi yang sangat agresif, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur berbasis 5G. Namun, meskipun potensinya besar, masih ada tantangan yang harus diatasi agar Indonesia dapat menjadi kekuatan ekonomi digital global.
Percepatan transformasi digital menjadi kunci utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Hal ini disampaikan oleh Julian Gorman, Head of Asia Pacific GSMA, dalam pertemuan dengan media pada acara Digital Nation Summit Jakarta 2025. Ia menyatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi penentu arah perkembangan ekonomi digital dunia hingga tahun 2045.
Masalah Utama: Penyediaan Spektrum 5G yang Lambat
Salah satu isu utama yang disampaikan oleh GSMA adalah lambatnya penyediaan spektrum 5G di Indonesia. Spektrum frekuensi 5G dinilai penting untuk mempercepat investasi operator seluler dan membangun infrastruktur digital yang lebih baik. Sayangnya, roadmap penyediaannya dinilai tidak cukup cepat, sehingga menghambat kemajuan teknologi di sektor ini.
Menurut Gorman, ketidakpastian dalam penyediaan spektrum 5G menciptakan tantangan bagi operator seluler dalam mengembangkan infrastruktur. Selain itu, hal ini juga memengaruhi sektor digital secara keseluruhan karena para pemangku kepentingan terus menunggu kebijakan yang jelas.
Masyarakat yang Melek Digital
Meski ada kendala dalam penyediaan spektrum, masyarakat Indonesia dinilai sangat melek digital. Sejak dua dekade terakhir, tingkat adopsi layanan digital terus meningkat. Mulai dari penggunaan aplikasi pesan seperti BlackBerry Messenger hingga chatbot canggih seperti ChatGPT, menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap teknologi.
Selain itu, pertumbuhan belanja online dan hadirnya solusi AI lokal seperti Sahabat AI juga menunjukkan bahwa ekosistem digital Indonesia sudah siap untuk langkah lebih jauh. Jika didukung dengan spektrum 5G yang memadai, Indonesia bisa mempercepat transformasi digitalnya.
Perusahaan Indonesia yang Agresif dalam Transformasi Digital
GSMA juga menilai bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia berada di atas rata-rata dalam penerapan AI dan transformasi digital. Populasi besar yang mencapai 280 juta jiwa menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi digital.
Survei yang dilakukan oleh GSMA Intelligence pada lebih dari 580 perusahaan di ASEAN menunjukkan bahwa perusahaan Indonesia akan mengalokasikan rata-rata 10 persen dari pendapatannya untuk transformasi digital antara 2025 hingga 2030. Angka ini melampaui rata-rata ASEAN (10,4 persen) maupun global (9,8 persen).
Dua pertiga responden menyebutkan bahwa AI menjadi salah satu prioritas utama dalam pengeluaran mereka. Sementara itu, lebih dari setengahnya menganggap teknologi IoT berbasis 5G sebagai faktor penting untuk pertumbuhan di masa depan.
Transformasi Digital sebagai Kunci Pertumbuhan Ekonomi
Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen tidak lepas dari peran transformasi digital. GSMA menilai bahwa jika pemerintah ingin mencapai target tersebut, maka digitalisasi harus dipercepat.
Contoh nyata dari negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi digital bisa jauh lebih cepat dibanding ekonomi tradisional. Di kedua negara tersebut, pertumbuhan ekonomi digital berkisar antara 4 hingga 5 kali lebih cepat dibanding ekonomi konvensional.
Berkaca dari situasi tersebut, GSMA menegaskan bahwa Indonesia perlu menggalakkan digitalisasi untuk meningkatkan daya saing dan memenuhi target pertumbuhan ekonomi nasional.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar